tirto.id - Gangguan infrastruktur telekomunikasi terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat imbas bencana banjir dan longsor. Berdasarkan data terbaru dari Komdigi, tercatat sebanyak 154 Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak dari total 3.739 BTS.
Kerusakan BTS didominasi gangguan listrik dan putusnya transmisi. Satu di antaranya, mengalami kerusakan paling parah, karena terbawa arus banjir.
Kepala Balai Monitor Kelas II Padang, M Helmi, mengungkapkan sebanyak 124 BTS terdampak akibat gangguan pasokan listrik PLN sehingga operator harus mengoperasikan genset agar layanan tetap berjalan.
Kemudian, 29 BTS mengalami gangguan transmisi karena putusnya kabel fiber optik atau radio link. Selain itu 1 BTS mengalami kerusakan fisik berat akibat terseret arus banjir.
Helmi menjelaskan kerusakan tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sumbar. Kabupaten Agam mengalami sebanyak 45 BTS rusak, Kabupaten Pasaman 37 BTS, Kabupaten Padang Pariaman 18 BTS, Kabupaten Solok 14 BTS, Kota Padang 12 BTS, Kota Solok 5 BTS, Kabupaten Pasaman Barat 5 BTS, Kota Pariaman 3 BTS, Kabupaten Tanah Datar 2 BTS. Sementara di Pesisir Selatan, Sijunjung, dan daerah lainnya masing-masing 1 BTS.
"Operator seluler terus melakukan pemulihan. Hingga 3 Desember, 39 BTS berhasil diperbaiki, dan jumlah tersebut diperkirakan bertambah setiap hari," kata Helmi, Rabu (3/12/2025).
Helmi juga mengatakan bahwa Balai Monitor juga mengoperasikan repeater kebencanaan di Puncak Gunung Senggala dengan jangkauan 9–10 kabupaten/kota.
"Repeater ini dimanfaatkan oleh PPTD, ORARI, RAPI, dan sejumlah instansi kebencanaan sebagai jalur komunikasi alternatif ketika repeater lain mengalami gangguan," ujarnya.
Untuk mempercepat pemulihan layanan di daerah yang mengalami kerusakan BTS, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyalurkan 32 unit perangkat Starlink kepada masyarakat terdampak banjir dan longsor di Sumbar.
Helmi menyatakan bahwa perangkat tersebut diberikan berdasarkan kebutuhan lapangan dan tidak dipungut biaya selama masa tanggap darurat.
“Komdigi tidak memungut biaya untuk penggunaan Starlink oleh masyarakat terdampak bencana,” katanya.
Starlink memiliki jangkauan 500 meter hingga 1 km, dapat digunakan hingga 60 pengguna secara bersamaan, dan mampu memberikan kecepatan internet hingga 300 Mbps.
Kapasitas dapat ditingkatkan jika dihubungkan dengan perangkat tambahan seperti hotspot eksternal.
Helmi menegaskan, Starlink menjadi jaringan pengganti sementara saat BTS lumpuh akibat listrik padam, transmisi putus, atau kerusakan fisik, serta membantu menjangkau kawasan blank spot.
Rudy Rinaldy selaku Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Sumbar mengapresiasi bantuan tersebut.
“Dengan kecepatan hingga 300 Mbps, Starlink dapat melayani lebih dari 100 pengguna sekaligus. Ini sangat membantu daerah bencana," harapnya.
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































