Menuju konten utama

Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Tak Separah Mata Uang Negara Lain

Menurut Purbaya, penilaian terhadap kinerja nilai tukar seharusnya dilakukan secara komparatif dengan negara lain, bukan hanya melihat level rupiah.

Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Tak Separah Mata Uang Negara Lain
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) didampingi Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu (kiri) mengikuti sidang aduan kanal Debottlenecking Satgas P2SP di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah masih relatif terkendali di tengah meningkatnya dinamika global dan tensi geopolitik. Menurutnya, depresiasi rupiah sejauh ini tidak sedalam sejumlah mata uang negara lain di kawasan, dan tekanan pada sektor keuangan domestik masih berada dalam batas yang dapat dikelola.

“Rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS global dan relatif lebih baik dibandingkan banyak negara. Ini menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fisikal-monetar yang kuat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan, sejak meningkatnya ketegangan geopolitik global akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran—yang turut memicu penguatan dolar AS hingga melewati batas psikologis Rp17.000—rupiah tercatat hanya mengalami pelemahan sekitar 0,3 persen. Angka tersebut dinilai lebih kecil dibandingkan beberapa mata uang negara tetangga.

“Kalau Anda lihat tuh nilai tukar dolar AS depresiasinya sejak perang (Iran). Kita lihat rupiahnya terdepresiasinya sebesar 0,3 persen. Jauh lebih baik dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita seperti Malaysia 0,5 persen, Thailand 1,6 persen dan lain-lain,” katanya.

Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia masih cukup kuat, didukung oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan baik.

“Jadi kita masih lumayan. Jadi bukan lihat nilai-nilainya saja, tapi kita lihat berapa dampak kepengemahannya. Dari situ sih kita masih lumayan walaupun di TikTok saya dimati-mati orang,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penilaian terhadap kinerja nilai tukar seharusnya dilakukan secara komparatif dengan negara lain, bukan hanya melihat level rupiah semata.

“Kalau kita menilai harus dengan fair. Apa yang terjadi dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa. Kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan monetar yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” kata dia.

Baca juga artikel terkait LATEST SC atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana