tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai indikator kecukupan likuiditas perbankan yang biasa digunakan dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersifat ilusif dan menyembunyikan kondisi riil di lapangan.
Penilaian ini menjadi dasar kebijakannya menambah penempatan dana pemerintah di Bank Himbara menjadi Rp400 triliun, lantaran bank-bank nasional mulai menjerit kekeringan likuiditas.
Purbaya mengungkapkan, indikator standar seperti Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) kerap menunjukkan angka yang baik, tetapi tidak sejalan dengan kondisi yang dirasakan perbankan. Demikian juga dengan angka undisbursed loan dari Bank Indonesia yang masih cukup besar.
"Selama saya di KSSK juga, berapa lima tahun terakhir tambah sekarang, selalu angkanya bagus. Padahal kadang-kadang perbankannya susah. Jadi itu ilusif, artinya menyembunyikan keadaan yang sebenarnya," ujar Purbaya dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (26/6/2026).
Adapun, berdasarkan data OJK per April 2026 AL/DPK dan AL/NCD masing-masing masih terjaga di level 25,39 persen dan 111,13 persen. Undisbursed loan sebesar Rp2.576 triliun atau 22,41 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Menurut Purbaya, indikator yang lebih mencerminkan kondisi likuiditas adalah base money atau uang beredar, yang berkaitan erat dengan kebijakan bank sentral.
"Gampangnya kita balik ke teori yang gampang di moneter itu, kita lihat base money seperti apa. Itu utama yang saya lihat, yang betul-betul melihat kebijakan bank sentral di perekonomian seperti apa," jelasnya.
Selain itu, ia juga menggunakan pendekatan sederhana, yakni mendengarkan keluhan dari perbankan ketika pemerintah memindahkan saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp400 triliun ke perbankan nasional.
"Habis itu yang kedua, ini saya dengerin, banknya ribut apa enggak? Kalau banknya ribut, ya udah. Tapi kalau banknya enggak ribut, berarti bagus," katanya.
Purbaya mengungkapkan, meskipun pertumbuhan kredit tercatat 11,5 persen, para pimpinan bank Himbara mengaku akan mengalami penurunan signifikan jika kondisi likuiditas tidak diperbaiki.
Hal ini diungkapkan para pimpinan bank Himbara usai pemerintah menarik SAL secara bertahap dari Bank Himbara yang terbukti menyebabkan kekeringan likuditas.
"Tadi para pimpinan bank itu bilang bisa turun signifikan sekali kalau enggak diperbaiki kondisi likuiditasnya. Ini juga menunjukkan bahwa kebijakan saya berpengaruh ke perekonomian dan perbankan," ujarnya.
Purbaya menegaskan bahwa penambahan dana Rp400 triliun ke Himbara bukanlah suntikan atau kebijakan fiskal ekspansif, melainkan pengelolaan kas pemerintah yang ditempatkan di perbankan.
"Kan enggak disuntik. Saya cuma pindahin uang saya ke sana. Dapatnya uang dari mana? Saya. Dari pajak kan? Dari apa lagi? Bond. Uangnya dari mana itu? Dari perbankan. Uang masyarakat di ekonomi kan, dari bank saya taruh di BI. Di sana kan kering," jelasnya.
Ia menambahkan, langkah ini adalah upaya mengelola kas agar ketika dana diambil pun cepat kembali ke sistem sehingga tidak mengganggu likuiditas.
"Saya manage cash supaya ketika diambil pun dia bisa cepat balik ke sistem, sehingga sistemnya enggak keganggu. Itu bukan kebijakan fiskal, sebetulnya kebijakan moneter. Tapi kita cuma membantu," tuturnya.
Keputusan Purbaya menambah penempatan dana pemerintah di Himbara menjadi Rp400 triliun merupakan pembalikan dari kebijakan sebelumnya. Dua minggu lalu, pemerintah mulai menarik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) secara bertahap dari bank-bank BUMN atas permintaan beberapa pihak. Akibatnya, likuiditas perbankan mengering dan ancaman perlambatan kredit pun muncul.
Para pimpinan bank Himbara disebut hampir tidak bisa istirahat termasuk Sabtu dan Minggu karena terus memonitor kondisi likuiditas. Setelah Purbaya memutuskan membatalkan penarikan dan justru menambah dana, reaksi para bankir disebut gembira.
“Mereka datang ke tempat rapat tadi deg-degan. Udah mau marah segala macam. Begitu saya kasih begitu ya mereka happy. Kepalanya jadi nggak berasap katanya,” candanya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



































