Menuju konten utama

Dirut BRI sebut SAL Rp200 Triliun Sempat Akan Ditarik Pemerintah

Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter perlu diperkuat agar kebijakan tak mempersempit likuiditas perbankan. 

Dirut BRI sebut SAL Rp200 Triliun Sempat Akan Ditarik Pemerintah
Dirut BRI Hery Gunardi. FOTO/Dok. BRI
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan saldo anggaran lebih (SAL) senilai lebih dari Rp200 triliun sempat akan ditarik pemerintah. Langkah tersebut dinilai berpotensi menekan likuiditas perbankan, terutama bank-bank anggota himpunan bank milik negara (Himbara).

Hery berujar, jika dana SAL itu ditarik sekaligus, perbankan harus mencari sumber likuiditas pengganti dalam jumlah besar di tengah kondisi likuiditas pasar yang sudah ketat. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu persaingan penghimpunan dana di industri perbankan.

"Kemarin, bagi teman-teman pasti tahu juga yang di perbankan, terutama yang di Himbara, kami hampir sesak napas juga karena SAL yang jumlahnya Rp200 triliun lebih itu bakal ditarik immediately sesaat," tutur Hery dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2026, Jumat (26/8/2026).

"Jadi, kalau SAL-nya ditarik, artinya kami harus masuk ke market mencari likuiditas yang jumlahnya sangat besar sehingga tarik-tarikan," imbuh Hery.

Menurut dia, tekanan likuiditas semakin terasa lantaran pada saat yang sama tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai 7,75 persen. Sementara itu, likuiditas di pasar dinilai sudah terbatas.

"Sementara, SRBI-nya sudah naik ke 7,75 persen. Kalau kita lihat likuiditas di market itu sudah hampir kering, hampir ke titik nol," katanya.

Karena itu, Hery menilai, koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter perlu diperkuat agar kebijakan yang diambil tidak mempersempit ruang likuiditas perbankan.

Menurut dia, keseimbangan kebijakan tersebut penting agar industri perbankan tetap mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Hery pun kembali meminta pemangku kepentingan agar lebih memaksimalkan kebijakan perbankan.

"Jadi, gimana mem-balance antara policy moneter dan fiskal mesti duduk bareng. Jangan sampai membuat kondisi likuiditas perbankan menjadi tidak bisa melakukan hal yang bagus. Jadi, kalau ini lama-lama, ya memang sesak napas pasti," ujarnya.

"Tapi mudah-mudahan ini akan menjadi masukan buat para policy maker untuk hati-hati melihat hal seperti tadi," lanjut Hery.

Baca juga artikel terkait PERBANKAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi