tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat akibat serangan AS-Israel di Teheran. Ucapan itu disampaikan melalui Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono, saat menerima kunjungan Yang Mulia Mohammad Boroujerdi selaku Duta Besar Republik Islam Iran, pada Rabu (4/3/2026).
"Saya juga menyampaikan surat dari Presiden @prabowo kepada Presiden Masoud Pezeshkian yang menyampaikan belasungkawa terdalam atas wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran," ujar Menlu melalui media sosial X, Rabu.
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono mengatakan bahwa mereka membahas situasi yang berkembang di Timur Tengah. Dia menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta kebutuhan mendesak untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut melalui jalur diplomasi.
"Menerima kunjungan Yang Mulia Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Republik Islam Iran (4/3). Kami membahas situasi yang berkembang pesat di Timur Tengah. Saya menggarisbawahi pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, serta kebutuhan mendesak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut melalui diplomasi," tulis Sugiono.
Sebelumnya diberitakan, Menlu Sugiono mengungkapkan Indonesia telah mengambil langkah konkret dengan menjalin komunikasi langsung kepada dua pihak yang tengah bersitegang, yakni Iran dan Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut disampaikan Sugiono usai mendampingi Presiden RI dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah mantan presiden, wakil presiden, dan ketua umum partai politik di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam.
"Saya berkomunikasi dengan kedua belah pihak, pihak AS dan pihak Iran kita tunggu gimana nanti karena dia mengatakan ya kita lihat berapa hari dan beberapa minggu ke depan situasinya," ujar Sugiono saat memberikan keterangan pers.
Pernyataan ini muncul setelah diskusi panjang selama 3,5 jam antara pemerintah dan tokoh-tokoh bangsa mengenai situasi geopolitik.
Sugiono menjelaskan secara spesifik komunikasi yang dibangun dengan Teheran.
Ia mengaku telah menerima telepon dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sehari sebelum pertemuan di Istana untuk membahas posisi negara tersebut pasca-kegagalan perundingan.
"Beliau menelepon saya kemudian menjelaskan posisi Iran. Tentu saja, kami menyampaikan juga sikap Indonesia, bahwa kita menyesalkan perundingan yang terjadi kemudian gagal yang berakibat pada terjadinya eskalasi," jelasnya.
Dalam komunikasi dengan kedua belah pihak, Indonesia tidak hanya sekadar memantau, tetapi hendak menawarkan diri sebagai jembatan perdamaian.
Sugiono menegaskan pesan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia siap menjadi mediator jika diinginkan oleh pihak-pihak yang bertikai.
"Kita juga menegaskan kembali ke meja rundingan dan juga yang pasti, kami juga menyampaikan keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau terima," tegas Sugiono.
Posisi Indonesia, menurut Sugiono, adalah menjadi jembatan perbedaan dan menekankan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan wilayah.
Selain itu, Indonesia juga menaruh perhatian pada keselamatan negara-negara sahabat di kawasan Teluk yang turut terdampak eskalasi konflik.
"Saya juga menyampaikan concern dari rekan-rekan kita yang ada di negara-negara Teluk terhadap serangan yang mereka dapatkan di wilayah-wilayah mereka," tambahnya.
Sugiono menutup keterangannya dengan menyebut bahwa pertemuan dengan para tokoh bangsa berlangsung positif.
Forum tersebut diharapkan menjadi agenda reguler untuk membahas isu-isu strategis yang sensitif.
"Baik ya positif responsnya seperti pertemuan yang terakhir kemarin berharap ini menjadi sesuatu yang sifatnya reguler, karena ada juga hal-hal yang tidak bisa kita bicara di umum dan di ruang-ruang seperti tadi," pungkasnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





























