Menuju konten utama

Pra Launching Sekolah Rakyat Jangkau 166 Daerah

Program Sekolah Rakyat menyasar keluarga miskin ekstrem dengan pendidikan berasrama, pembinaan talenta, dan jaminan masa depan siswa.

Pra Launching Sekolah Rakyat Jangkau 166 Daerah
Potret Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama Siswi Sekolah Rakyat dalam kegiatan Pra Launching Sekolah Rakyat dan Doa Untuk Sumatera, Surabaya, Senin (29/12/2025). (FOTO/Dok. Merlina Aryanti)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Sosial bersama Tim Formatur Sekolah Rakyat menggelar kegiatan Pra Launching Sekolah Rakyat dan Doa untuk Sumatera sebagai penegasan komitmen negara menghadirkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan, pada tahun ini siswa Sekolah Rakyat telah tersebar di 166 kabupaten/kota. Program ini ditargetkan menjangkau seluruh wilayah Indonesia dengan minimal satu Sekolah Rakyat di setiap daerah.

“Insyaallah setiap kabupaten dan kota akan memiliki Sekolah Rakyat dengan daya tampung sekitar seribu siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Jika semuanya berdiri, tidak kurang dari 500 ribu siswa akan mendapatkan akses pendidikan,” ujar Gus Ipul dalam kegiatan Pra Launching Sekolah Rakyat dan Doa Untuk Sumatra, yang diadakan di Surabaya, Senin (29/12/2025).

Gus Ipul menegaskan, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran umum. Pemerintah akan mendatangi langsung keluarga yang masuk dalam data terpadu dan memenuhi syarat. Selain anaknya bersekolah, orang tua juga akan diberdayakan agar keluarga tersebut dapat naik kelas dan mandiri.

Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem boarding school selama 24 jam dengan pembelajaran berbasis digital. Seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari delapan set seragam, perlengkapan sekolah, hingga satu unit laptop untuk setiap siswa dan guru.

“Pembelajaran menggunakan Learning Management System, papan tulis digital, dan pendekatan teknologi. Anak-anak makan tiga kali sehari dengan dua kali makanan tambahan, sehingga kesehatan dan kebugaran mereka terjaga,” kata Gus Ipul.

Setelah lulus, siswa Sekolah Rakyat akan dikawal sesuai minat dan kemampuannya. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi akan dibimbing dan mendapatkan beasiswa, sementara yang ingin bekerja atau berwirausaha akan diberikan pelatihan hingga siap mandiri.

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. M. Nuh juga menjelaskan, evaluasi program dilakukan melalui tiga pilar utama, yakni fisik dan kesehatan, psikososial serta talenta, dan capaian akademik. Evaluasi menyeluruh ini telah berjalan selama enam bulan pertama.

“Setiap anak memiliki peta talenta. Dari situlah pengembangan dilakukan, tidak hanya akademik. Pendekatan ini membuat potensi yang sebelumnya tersembunyi bisa muncul menjadi kompetensi,” ujar Prof. Nuh, Senin (29/12/2025).

Ia mencontohkan seorang siswa bernama Azril yang awalnya belum bisa membaca dan menulis. Melalui pendekatan berbasis talenta dan motivasi, siswa tersebut kini mampu belajar dengan baik dan bahkan masuk peringkat tiga di kelasnya.

Prof. Nuh menambahkan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak diukur dengan Return on Investment seperti bisnis, melainkan Social Return on Investment (SROI), yakni nilai sosial yang dihasilkan bagi siswa, keluarga, dan lingkungan.

“Sekolah Rakyat adalah investasi sosial. Hasil evaluasi SROI akan kami sampaikan ke publik pada akhir Januari sebagai bentuk akuntabilitas,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah daerah menyatakan kesiapan menyediakan lahan, sementara pembangunan fisik sekolah dilakukan oleh pemerintah pusat. Pada tahun ini, lebih dari 100 titik Sekolah Rakyat ditargetkan mulai dibangun di berbagai daerah.

Kegiatan pra launching ditutup dengan doa bersama untuk Sumatera dan penguatan komitmen seluruh pemangku kepentingan agar Sekolah Rakyat menjadi jalan lahirnya generasi unggul dan pemimpin Indonesia masa depan.

Baca juga artikel terkait KEMENSOS atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Nuran Wibisono