tirto.id - Sejak pandemi COVID-19, usaha konveksi rumahan menawarkan sumber pendapatan yang langsung dapat dibelanjakan atau “uang segar” bagi banyak perempuan di Yosorejo, satu dari sembilan desa petani di lereng pegunungan Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.
Di Dusun Dranan, Nur (38) dan suaminya, Wasyuri (47), menginisiasi usaha jasa menjahit untuk memenuhi permintaan produk celana lintas daerah.
Pemilik modal di kota, bahkan dari luar pulau, menyuplai mereka dengan kain potongan siap jahit dan membayar sesuai jumlah jahitan yang berhasil diselesaikan.
Nur mengaku telah mempekerjakan 35 penjahit di Dranan, kebanyakan perempuan. Mereka terdiri atas tetangga, kerabat, hingga sanak saudara. Sebagian penjahit bekerja dari rumah masing-masing, sebagian lainnya menjahit langsung di rumah Nur.
Tidak bisa dipungkiri, aktivitas menjahit terlihat kontras di tengah komunitas yang lahir dan mencari penghidupan melalui pertanian subsisten; makan dari hasil tani dan memperoleh pendapatan dari ternak. Apalagi, masyarakat Dranan tinggal di kawasan pegunungan setinggi 1.268 meter yang aksesnya sulit dari pesisir kota.
Realitas ini juga mengajak kita merenungi kembali bahwa dua dunia dengan definisi “kotor” dan “lelah” yang berbeda dapat dilakoni secara beriringan.
Jika penjahit dituntut teliti dan presisi saat menggunakan jarum serta benang di tengah tumpukan kain berdebu, petani atau peternak lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik untuk bekerja di luar ruangan karena harus berjalan naik-turun bukit, berjongkok, hingga mengangkut hasil panen di bawah terik matahari, cuaca dingin, maupun hujan.
Begitulah bagaimana saudara ipar Nur, Siti (37), menjalani hari-harinya sebagai penjahit dan peternak.
Sedari kecil, Siti sudah ikut ibunya pergi mencari rumput untuk pakan ternak. Begitu lulus SMP, Siti mencari pengalaman di kota sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Puas merantau selama beberapa tahun, dia pulang ke desa dan menikah.
Setelah bangun tidur dan salat Subuh, Siti menjemur pakaian yang telah dicuci pada malam sebelumnya. Kemudian, ibu dua anak ini memasak sayur dan lauk untuk sarapan keluarga.
Sekitar pukul setengah enam, ketika langit mulai sedikit terang, Siti sudah siap dengan sepatu boot karet hijau, selendang dan tali, serta arit di genggaman tangan.
Siti bergegas mengecek ternak di kandang yang terletak beberapa meter dari bangunan rumahnya. Ada lima ekor kambing dan empat ekor sapi yang sudah gelisah menanti pakan.
Salah satu sapi yang Siti rawat berukuran sangat besar. Bobotnya kira-kira 700 kg. Sapi tersebut milik warga desa sebelah yang digaduh Siti dan suaminya.

Setelah memastikan setiap ekor ternaknya memakan rumput stok kemarin, Siti bertolak menuju bukit di tepi desa untuk mencari rumput segar lagi.
Menerabas udara pagi yang dingin, langkah kaki Siti begitu ringan sekaligus mantap melangkah di jalanan tanah berbatu licin karena embun dan gerimis dini hari.
Di tengah jalan, Siti menjumpai beberapa tetangga dan teman sesama pencari rumput. Mereka mengambil jalur lain karena ingin mencari rumput di sisi tebing yang lebih curam.
Pemandangan di kanan-kiri dipenuhi rumput liar tinggi dan pepohonan pinus. Beberapa kali jalur pendakian terhalang oleh batang pohon yang roboh diterjang hujan angin beberapa hari sebelumnya.
Setelah mendaki sekitar 30 menit, Siti tiba di lahan rumput ibunya. Setengah jam lamanya, Siti menebas rumput-rumput gajah yang menjulang tinggi.

Rumput yang telah Siti tebas itu kemudian diikat kuat dengan dua tali, lantas posisinya ditegakkan. Siti membungkus rumput tersebut dengan kain selendang, lalu memunggunginya sambil berjongkok supaya bisa menggendongnya.
Dengan beban rumput di punggung, Siti mencoba berdiri. Agar tidak oleng, tubuhnya agak dibungkukkan sedikit.
Setelah memastikan ujung selendang sudah terikat kuat di dadanya, Siti mulai berjalan pelan menuruni bukit kembali ke desa. Ketika merasa lelah, Siti beristirahat sejenak dengan menyandarkan tubuh di batu besar.

Kembali ke kandang, Siti menyimpan hasil merumput ke dalam karung untuk tambahan pakan hari ini sekaligus stok hari esok. Seiring ternaknya mengunyah rumput, Siti menyapu dan menyiram kotoran di lantai.
Beres mengurus ternak, Siti pun pulang. Di jalan menuju rumah, tukang sayur ternyata sudah menantinya. Siti membeli tahu putih.
Sesampai di rumah, Siti segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan kemeja batik.
Dengan penampilan yang sudah rapi, Siti berseru memanggil Alisia (16) dan Imron (12) untuk sarapan bersama. Hanya Alisia yang merespons dari dalam kamar, sedangkan Imron sudah main ke luar bersama teman-temannya.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan ketika si sulung menyusul ibunya untuk sarapan bersama dengan nasi, sayur bening bayam, telur dadar, dan ikan pindang oleh-oleh kenalan dari kota.
Sabtu pagi itu, Alisia berencana masuk sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Orang tuanya sudah membekalinya dengan sepeda motor matic sejak dia masuk SMA tahun lalu untuk berangkat-pulang sekolah yang bisa dijangkau 10 menit dari rumah.

Seusai sarapan, Siti dan Alisia berpisah. Sang ibu akan melanjutkan aktivitasnya pagi itu dengan menjahit di rumah Nur yang berjarak beberapa bangunan saja dari rumahnya.
“Buat tambah-tambah penghasilan, lumayan buat jajan anak juga,” tutur Siti tentang keputusannya menjahit. Sebelum menjahit, Siti mendapat uang dari hasil kerja suaminya sebagai pekerja proyek aspal dan hasil mereka berdua menggaduh ternak.
Dari menjahit, Siti menerima upah setiap minggu, sementara upah menggaduh ternak diterima sekali waktu saja dalam setahun.
Kata Nur, meski Siti baru mulai belajar menjahit dan progresnya agak pelan, tapi hasil jahitannya selalu rapi. Siti tersipu malu mendengar kerjanya dipuji, lalu melanjutkan mengoperasikan mesin jahit pada selembar kain celana seragam SD.
Siti terus menjahit sampai hari siang jelang sore. Kemudian, Siti akan pulang ke rumah untuk makan dan beristirahat sejenak, sebelum akhirnya menjahit lagi di rumah Nur pada malam hari.

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id
































