Menuju konten utama
Artikel Series Bagian 2

Ekonomi Berdikari Perempuan Penjahit di Petungkriyono Pekalongan

Ekonomi berdikari perempuan di pedesaan Petungkriyono berpotensi menjadi lebih kuat lewat usaha konveksi rumahan yang digagas Nur.

Ekonomi Berdikari Perempuan Penjahit di Petungkriyono Pekalongan
Siti (37), warga Dusun Dranan di Petungkriyono, Jawa Tengah menjahit tali pinggang celana. Usaha konveksi rumahan yang diinisiasi oleh iparnya ini sudah berlangsung sejak pandemi COVID-19 untuk memenuhi permintaan sandang lintas daerah. tirto.id/Sekar Kinasih
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anak perempuan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, berbeda dari tradisi masyarakat Jawa yang cenderung patrilineal. Mereka diposisikan lebih unggul secara sosial karena mereka mewarisi tanah serta ternak dari ibu atau neneknya.

Sekilas, sistem pewarisan dari garis ibu atau matrilineal tersebut mengindikasikan bahwa perempuan memiliki kontrol lebih besar dalam pengambilan keputusan di keluarga. Namun, tidak demikian halnya menurut temuan Siti Munawaroh di Dusun Dranan, Desa Yosorejo, pada awal tahun 2000-an silam.

Dalam studi bertajuk “Wong Lanang Wenang Nggarap, Wong Wadon Wenang Adol: Studi tentang Sistem Waris Adat Perempuan di Jawa” (2002), Siti menjelaskan, gagasan masyarakat Dranan yang menjunjung anak perempuan sebagai penerus tanah warisan ini “tidak berpengaruh terhadap kuatnya posisi perempuan di keluarga.”

Menguasai lahan bukan berarti perempuan menguasai rumah tangga secara utuh atau mendapatkan kesempatan kerja lebih luas. Sebab, pembagian kerja masih menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik.

Urusan rumah tangga dan pengelolaan tanaman pangan diserahkan pada pihak perempuan, seperti bertani, berkebun, beternak. Di satu sisi, laki-laki punya kesempatan lebih luas untuk bekerja di luar sektor pertanian, dengan ikut proyek pembangunan di luar desa, jadi tukang, pegawai pabrik, sampai PNS.

Aktivitas perempuan pun akhirnya dipandang sebatas sumbangsih untuk membantu rumah tangga atau mendukung suami, alih-alih didasarkan pada kesetaraan peran perempuan dan laki-laki.

Akan tetapi, seiring perempuan desa seperti Nur (38) terhubung dengan jaringan ekonomi lebih luas melalui usaha konveksi rumahan yang melayani pasar lintas daerah, otonomi ekonomi perempuan di pedesaan Petungkriyono berpotensi menjadi lebih kuat.

Sejak pandemi COVID-19, warga Dusun Dranan di Desa Yosorejo ini memulai usaha menjahit bersama suaminya, Wasyuri (47).

Berbekal pengalaman Nur mengikuti kursus memotong kain di kecamatan sebelah dan riwayat Wasyuri merantau sebagai penjahit untuk bisnis rumahan di Jakarta, keduanya memutuskan untuk memulai usaha menjahit dalam rangka memenuhi permintaan celana dari kenalan lama Wasyuri di kota.

Setelah menjual sapi warisan dari orang tuanya, Nur membeli mesin jahit, bahan kain, dan membuat sampel pakaian berkali-kali sampai standar jahitannya sesuai dengan permintaan pemesan.

Kesibukan Nur membuat tetangganya, terutama perempuan muda dan ibu-ibu, tertarik belajar menjahit.

Kebanyakan perempuan di desanya, kata Nur, menghabiskan waktu di pagi hari untuk cari rumput buat pakan ternak atau mengurus sawah, lalu momong anak. Waktu senggang setelahnya digunakan untuk mengobrol dengan tetangga kanan-kiri.

Nur sendiri mengakui, sebelum rutin menjahit, aktivitasnya berkutat pada mengurus anak dan rumah tangga.

“Daripada menganggur,” kata Nur, yang kemudian mengalokasikan waktu sepenuhnya untuk memberikan pelatihan menjahit bagi perempuan-perempuan di desanya.

Perempuan Petungkriyono

Perempuan dan ibu-ibu dari Dusun Dranan, bagian dari desa petani Yosorejo di dataran tinggi Petungkriyono, menjahit celana atas permintaan lintas daerah. tirto.id/Sekar Kinasih

Sayangnya, dengan memberikan kursus tersebut, Nur tidak punya cukup waktu untuk menjahit.

“Saya tidak bisa kerja karena kasih les teman-teman. Mesin-mesin saya dipakai orang. Saya tidak menghasilkan uang. Untuk uang jajan anak-anak, akhirnya saya jual motor,” ujar Nur.

Sekian waktu berlalu, kerja keras Nur membuahkan hasil. Kualitas jahitan anak-anak didiknya meningkat, pihak bos/perantara yang menyuplai kain merasa puas, pesanan jahitan pun ikut bertambah. Nur dapat kembali berkonsentrasi menjahit dan mengupah dirinya sendiri.

Kondisi keuangan Nur perlahan stabil. Uang yang dikumpulkan dari usaha menjahit dapat dialokasikan untuk membeli sapi lagi, sepeda motor baru, alat-alat elektronik rumah tangga, iuran sosial, membesarkan ruang dapur, sampai membiayai pendidikan anak pertama di pondok pesantren.

Menariknya, di tengah perbaikan ekonomi rumah tangga dari usaha menjahit, penghidupan sebagai petani dan peternak tetap dipandang utama di sana. Maka Nur selalu menegaskan bahwa rezekinya datang dari hasil jual ternak, alih-alih dari menjahit.

Menjahit, Sebuah “Ladang Kuasa” Perempuan

Dalam urusan jahit-menjahit, Nur lebih banyak melakukan kerja manajerial dan pengambilan keputusan dibandingkan Wasyuri. Pada waktu sama, Nur jugalah yang lebih banyak mengurus rumah tangga.

Dini hari sebangun tidur, Nur sudah mulai sibuk menjahit elemen-elemen utama pada celana, sehingga para penjahit yang datang kemudian bisa meneruskan bagian selanjutnya.

Ketika tukang sayur lewat, Nur pergi berbelanja. Memasak dan mencuci baju dengan mesin Nur lakukan setelah urusan menjahit pagi itu beres. Ibu Nur yang berusia 60-an, disapa Nenek Tumbu, membantu Nur di dapur.

Nenek Tumbu

Nenek Tumbu memanaskan air untuk membuat minuman, sementara Nur memasak dengan kompor gas. tirto.id/Sekar Kinasih

Terlepas Nur dan Wasyuri sama-sama menjahit dan selalu kompak hadir berdua saat menemui pihak bos/perantara, Nur-lah yang melakukan segala pencatatan terkait potongan kain masuk dan produk celana jadi, menerima uang jasa menjahit, mengelola upah penjahit, mengatur anggaran untuk belanja material jahit, belanja makan dan jajan anak sehari-hari, transfer uang anak di pondok pesantren, sampai mengalokasikan uang untuk urusan sosial seperti menyumbang hajatan tetangga serta arisan.

“Saya tidak pegang uang, malah dikasih istri. Untuk beli alat, bahan, bekal saya,” tukas Wasyuri.

Nur

Nur mencatat jumlah jahitan celana yang siap dikirimkan kepada pihak perantara di kota. tirto.id/Sekar Kinasih

Wasyuri selama ini banyak melakukan kerja operasional seperti membeli benang dan material jahit lainnya. Dia juga yang melakukan pengecekan pada hasil jahitan. Jika ada keluhan tentang kualitas jahitan dari bos/perantara, dialah yang akan menyampaikan ke penjahit dan membantu membereskannya.

Di ranah domestik, Wasyuri bertugas membersihkan rumah, seperti menyapu dan mengepel lantai. Wasyuri juga aktif di urusan sosial seperti kerja bakti memperbaiki jalan.

Berkaca pada riwayat ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam kerja pertanian dan rendahnya pengakuan terhadap kontribusi perempuan petani untuk rumah tangga, aktivitas menjahit ini bisa disebut sebagai “upaya perempuan untuk menemukan kembali lahan kuasanya,” demikian disampaikan Rr. Tur Nastiti, PhD, dosen dari Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

"Begitu menjahit dan menerima penghasilan, itulah uang perempuan yang masuk ke keluarga. Ketika itu terjadi, perempuan akan senang karena mereka tidak lagi diposisikan sebagai orang yang tidak punya penghasilan untuk keluarga. Mereka akan melepaskan diri dari anggapan itu, sehingga kerentanannya terminimalisasi. Menjahit bisa jadi upaya perempuan untuk menemukan kuasa ekonomi di keluarganya,” terang Nastiti.

Di satu sisi, meningkatnya produktivitas perempuan berpotensi meningkatkan pula beban kerja yang harus mereka tanggung. Apabila kesibukan bekerja dan urusan domestik ini tidak dikelola dengan baik, pada satu titik akan timbul konflik dari gesekan antara tuntutan pekerjaan dan keluarga.

Di sisi lain, Nastiti menduga situasi yang berkembang di Petungkriyono adalah engagement, alih-alih konflik.

“Pekerja berhasil menemukan titik negosiasi,” jelas Nastiti, “Dia tetap bisa ada di rumah, tetap menjalani peran domestik yang dilekatkan padanya, mengurus rumah, anak, keluarga, terlibat di sosial lewat arisan atau dasawisma. Ini menjadi perwujudan dari individu perempuan untuk menyelaraskan tanggung jawab rumah tangga dan tanggung jawab berkarya secara ekonomi.”

Perempuan Petungkriyono

Menjahit sambil momong anak. tirto.id/Sekar Kinasih

Peluang Ekonomi yang Tidak Menimbulkan Alienasi?

Selama ini, narasi tentang industrialisasi banyak berkutat tentang bentrokan yang timbul antara kepentingan pembangunan versus tradisi masyarakat, atau mengarah pada eksploitasi yang menekan orang kecil termasuk para petani di pedesaan.

Namun, pada pengalaman Nur dan perempuan penjahit di Dranan, masuknya usaha konveksi dapat pula dilihat sebagai peluang ekonomi yang tidak membuat mereka termarginalisasi atau tercerabut dari akar sosialnya. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut tanpa sampai teralienasi dari kultur pertanian subsisten.

Konteks praktik pewarisan tanah matrilineal yang berlaku di Petungkriyono bisa membantu menjelaskan hal tersebut. Perempuan memperlakukan tanah, sawah, ladang, kebun, yang diwariskan secara turun-temurun dari garis nenek dan ibu sebagai aset yang perlu dijaga, alih-alih diperjualbelikan.

Selama sekian generasi, tanah telah memberikan keluarga mereka penghidupan dan pangan, sehingga sumber pangan tersebut tidak boleh dilepas atau ditelantarkan.

Maka ketika Nur dan warga Dranan diperkenalkan dengan industri konveksi, mereka tidak merasa “dibenturkan” untuk harus memilih antara bergantung sepenuhnya pada aktivitas menjahit atau pertanian.

Kedua aktivitas dapat dikerjakan secara berdampingan, bergantian, dan didelegasikan pada anggota keluarga atau orang lain, sehingga hasilnya bisa saling melengkapi satu sama lain.

Nur, misalnya, mendelegasikan urusan ternak kepada ibunya. Setiap pagi, Nenek Tumbu merawat sapi Nur yang kandangnya terletak di tengah kebun dan sawah keluarga mereka. Sapi tersebut akan disembelih untuk hajatan sunat anak kedua Nur tahun depan.

Nur

Nenek Tumbu menyiramkan air garam ke rumput untuk pakan sapi milik putrinya, Nur. Sapi tersebut akan disembelih untuk hajatan sunat anak kedua Nur tahun depan. tirto.id/Sekar Kinasih

Nenek Tumbu jugalah yang mengelola tanaman buah-buahan di kebun serta mengawasi dua orang petani yang dipekerjakan Nur untuk mengelola sawahnya.

“Saya bayar orang untuk mengurus sawah saya, tapi sistemnya bukan bagi hasil. Istilahnya upah. Saya bayar dia kerja. Kalau nanti panen, padinya buat kami,” jelas Nur, “Hasil panen cukup untuk makan setahun, tidak dijual. Setahun, panen beras dua kali. Buat diri sendiri.”

Sementara itu, kakak perempuan Nur, Entik (48), memutuskan fokus pada aktivitas bertani.

Ketika Nur dan para pegawainya menjahit, Entik biasanya sudah berangkat ke sawah atau mengoperasikan mesin pengupas gabah di bangunan persis samping rumah Nur. Selain untuk konsumsi sendiri, beras yang diolah Entik juga berasal dari pesanan tetangga atau kerabat sekitar.

Entik

Entik (48) mengoperasikan mesin pengupas gabah. Tidak seperti adiknya yang menjalankan usaha konveksi rumahan, Entik fokus pada kerja-kerja pertanian. tirto.id/Sekar Kinasih

Di sebelah rumah Nur, tinggal Nenek Wiyah (70), kakak Nenek Tumbu alias bibi Nur dan Entik.

Nenek Wiyah memelihara 13 ekor kambing di kandang yang terletak persis di belakang rumah Nur. Sehari-hari, Nenek Wiyah bertani dan mencari rumput bersama suaminya, Darji.

Menjelang siang, setelah urusan ternak dan kebun beres, Nenek Tumbu dan Nenek Wiyah akan menyusul Nur untuk membantu memasukkan tali ke dalam pinggang pada celana yang telah selesai dijahit.

Mendelegasikan kerja pertanian kepada anggota keluarga atau orang lain tidak hanya dilakukan oleh Nur.

Asih (41), yang sudah tiga tahun menjahit di tempat Nur dan lanjut menjahit dari rumah sendiri, bercerita bahwa dulu dia mencari rumput untuk ternak bersama suaminya, Casbari.

Setelah Asih rutin menjahit, Casbari-lah yang pergi merumput, berkebun, dan mengelola sawah yang letaknya agak jauh dari rumah mereka.

Sepulang dari sawah dan kebun, Casbari akan membantu Asih menjahit. Anak gadis mereka, Shela (19), baru-baru ini juga ikut menjahit.

Nenek Wiyah

Nenek Wiyah dan suaminya, Darji, merawat 13 ekor kambing yang kandangnya terletak persis di belakang rumah Nur. Setiap pagi, mereka pergi ke sawah, mencari rumput, dan mengurus ternak. tirto.id/Sekar Kinasih

Sementara Iis (26), ibu muda yang sudah ikut menjahit dengan Nur selama satu tahun, masih bertani pada musim tertentu.

Selulus SD, Iis merantau ke Bekasi untuk bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Ketika usianya 21 tahun, Iis pulang kampung untuk menikah

Setelah menikah dan memiliki anak, Iis menjalani hari-harinya dengan mencari rumput untuk ternak. Iis juga mencoba menanam cabe serta bawang daun di lahan warisan sang ibu. Namun, dia terus merugi karena hujan menyebabkan akar tanaman membusuk.

“Bawang rugi terus, sampai terlilit utang gara-gara gagal panen,” cerita Iis.

Iis kemudian memutuskan untuk belajar menjahit dengan Nur. Penghasilannya digunakan untuk membeli lauk-pauk, membayar sumbangan sosial, dan jalan-jalan ke kota naik doplak bersama anak perempuannya yang berusia empat tahun.

Saat ini, tanahnya dijadikan sawah untuk menanam padi dan lahan untuk rumput. Iis pergi ke sana saat musim tanam dan panen, sementara ternaknya dirawat orang lain.

Dusun Dranan

Dusun Dranan dikelilingi oleh perbukitan, sawah, dan kebun. Bagian dari Desa Yosorejo ini terletak di ketinggian 1.268 meter dari permukaan laut. tirto.id/Sekar Kinasih

Tentang Masa Depan di Desa

Seiring anak-anak Dranan menyaksikan ibu, orang tua, kakek dan nenek mereka memadukan aktivitas bertani serta menjahit, akankah mereka meneruskan praktik tersebut? Ataukah kehidupan kota akan selalu lebih menarik perhatian? Apalagi, kerja-kerja pertanian bukanlah keseharian yang akrab bagi anak-anak dan remaja di sana sekarang.

Bagi Asih, bekerja sebagai penjahit di Petungkriyono adalah pilihan terbaik untuk Shela, sulungnya yang baru saja lulus dari pondok pesantren di Kecamatan Doro, alih-alih merantau ke kota.

"Ke kota, buat apa? Lebih baik menjahit rumah,” kata Asih, yang dibalas dengan senyum simpul Shela.

Masa depan sebagai penjahit juga diyakini oleh Siti (37) terhadap anak sulungnya, Alisia (16). Siti, saudara ipar Nur yang baru mulai ikut menjahit sejak sebelum Lebaran kemarin, tidak berpikir untuk mengirim Alisia kuliah ke kota atau mengizinkannya kerja di kota.

“Paling menjahit. Saya tidak mau kuliahkan di kota, biayanya tidak mampu,” tukas Siti.

Alisia, yang mengaku tidak pernah ikut orang tuanya pergi merumput atau merawat ternak karena kesibukannya di sekolah, terlihat ragu dengan rencana sang ibu.

“Pengen kerja di luar buat pengalaman. Pengalaman di kota pasti beda sama di Petungkriyono,” kata Alisia, “Semisal di kota nggak betah, baru pulang. Tapi masih bingung. Kalau saya mampu, mau kuliah sambil kerja. Kalau nggak, ya kerja.”

Di balik kegalauan anak muda untuk bertahan di Dranan atau merantau, peran generasi ini tetaplah penting untuk memberikan pemahaman kepada sesamanya dan masyarakat luas bahwa mencari penghidupan di desa tetaplah sebuah pilihan yang realistis.

"Dari proses ekonomi yang lebih terbuka ini, semoga tetap ada anak muda yang bisa menjadi reminder mengenai kehidupan desanya; sebagai pemberat untuk orang-orang agar tetap respek terkait proses produksi di desa, baik dari pertanian, peternakan, maupun konveksi,” kata Nastiti.

Dengan menyampaikan cerita tentang kehidupan desa dalam bahasa anak muda yang gaul dan mudah dimengerti banyak orang, terutama dibantu medium media sosial populer seperti TikTok atau Instagram, narasi yang berkembang pun akan lebih mudah dicerna banyak orang sehingga kelak bisa menjadi kebanggaan komunitas desa.

“Adanya cerita seperti itu bisa jadi point of stickiness agar generasi lebih muda tetap mau berkarya di desa,” pungkas Nastiti.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

tirto.id - News Plus
Reporter: Sekar Kinasih
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Abdul Aziz