Menuju konten utama

Membantu Perempuan Desa Citali Membangun Usaha Olahan Singkong

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Nusantara membantu Kelompok Wanita Tani Desa Citali membangun usaha produksi olahan singkong.

Membantu Perempuan Desa Citali Membangun Usaha Olahan Singkong
Singkong. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Singkong dikenal sebagai tanaman yang relatif mudah dibudidayakan. Namun, kemudahan menghasilkan komoditas tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petaninya.

Di Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, singkong tumbuh sebagai salah satu potensi pertanian lokal. Persoalannya muncul ketika hasil panen hanya berhenti sebagai bahan mentah. Pada saat panen raya, harga singkong dapat sangat rendah bahkan ketika pasar tidak mampu menyerap seluruh hasil panen, sebagian singkong akhirnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Situasi tersebut memperlihatkan satu persoalan klasik pembangunan pertanian: desa dapat memiliki bahan baku melimpah, tetapi belum tentu mampu menangkap nilai ekonomi terbesar dari bahan baku tersebut. Di sinilah hilirisasi pertanian menjadi penting.

Ketika Singkong Tidak Lagi Berhenti sebagai Bahan Mentah

Hilirisasi pada dasarnya adalah upaya membawa komoditas lebih jauh dalam rantai nilai.

Singkong yang dijual mentah memiliki nilai yang sangat tergantung pada harga pasar saat panen. Tetapi ketika singkong diolah menjadi produk pangan, nilai yang dijual bukan lagi sekadar bahan bakunya. Di dalam produk tersebut terdapat proses pengolahan, keterampilan, rasa, kemasan, merek, serta kemudahan bagi konsumen.

Gagasan inilah yang mendasari program pemberdayaan terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT) Taliwargi Desa Citali, kelompok yang beranggotakan 22 orang anggota aktif.

Program Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Nusantara menggabungkan pendidikan nonformal, hilirisasi singkong, penguatan usaha, pemasaran digital, dan prinsip ekonomi hijau. Kegiatan ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Sebelumnya, KWT Taliwargi telah memiliki pengalaman mengolah hasil pertanian, antara lain menjadi keripik singkong dan keripik pisang. Namun, produk masih menghadapi persoalan mutu, kemasan, inovasi, serta pemasaran. Karena itu, persoalannya bukan dimulai dari nol. Yang dibutuhkan adalah menaikkan kapasitas kelompok agar aktivitas produksi sederhana dapat berkembang menjadi usaha yang lebih bernilai.

Pendidikan Nonformal sebagai Jembatan

Salah satu hal menarik dari pendekatan ini adalah penggunaan pendidikan nonformal. Dalam pemberdayaan masyarakat, belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas dengan kurikulum formal. Bagi kelompok usaha desa, proses belajar justru lebih relevan ketika berkaitan langsung dengan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Pelatihan dirancang dengan kombinasi penjelasan singkat, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi. Materinya bergerak dari produksi sampai pemasaran.

Anggota KWT diperkenalkan pada pengembangan singkong menjadi produk yang lebih beragam donat singkong dan brownies singkong, Yang merupakan hasil penelitian tim.

Pemanfaatan singkong ke dalam beberapa jenis produk memberikan ruang ekonomi yang berbeda dibandingkan hanya menjual umbinya dalam keadaan mentah. Di sisi lain, penggunaan kulit singkong untuk produk olahan juga memperluas pemanfaatan bagian dari komoditas tersebut.

Di sinilah prinsip ekonomi hijau memperoleh konteks yang lebih konkret. Ekonomi hijau tidak harus selalu dimulai dari teknologi berskala besar. Di tingkat desa, prinsip tersebut dapat diterjemahkan melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Produk yang Enak Belum Tentu Menjadi Usaha yang Sehat

Salah satu kelemahan usaha skala rumah tangga sering kali bukan pada kemampuan membuat produk, melainkan pada kemampuan menghitung dan mengelola usaha.

Berapa biaya sebenarnya untuk membuat satu kotak brownies singkong? Berapa harga jual yang layak? Berapa margin yang diperoleh? Apakah seluruh pengeluaran sudah dicatat? Bagaimana pembagian tugas antaranggota? Apakah kemasan sudah cukup baik untuk membawa produk ke pasar yang lebih luas?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menentukan apakah usaha hanya berjalan sesaat atau mampu bertahan.

Karena itu, pendidikan nonformal dalam program ini tidak berhenti pada pengolahan pangan. KWT juga memperoleh penguatan mengenai perencanaan produksi, pencatatan keuangan sederhana, legalitas produk, pengelolaan usaha, dan pemasaran.

Pendekatan semacam ini penting karena pemberdayaan ekonomi seharusnya tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana keterampilan itu diubah menjadi nilai ekonomi.

Perempuan desa dalam konteks ini bukan semata-mata penerima pelatihan. Mereka diarahkan menjadi pelaku dalam rantai nilai: memahami bahan baku, mengolahnya, menjaga mutu, menentukan harga, mengelola usaha, hingga menjangkau konsumen.

Dari Warung ke Etalase Digital

Persoalan berikutnya adalah pasar. Produk yang baik tidak akan menghasilkan dampak ekonomi jika hanya dikenal oleh lingkaran konsumen yang sangat terbatas. Karena itu, hilirisasi perlu berjalan bersama perluasan akses pasar.

Selama ini pemasaran produk KWT masih banyak dilakukan secara konvensional.

Program PKM kemudian memperkenalkan penggunaan Shopee, serta website pemasaran produk unggulan Desa Citali yang telah dibuat secara khusus untuk pemasaran digital Desa Citali.

Website tersebut dirancang menjadi etalase digital yang dapat menampilkan produk, identitas usaha, dan informasi yang dibutuhkan konsumen. Bahkan dalam jangka lebih panjang, kanal tersebut dapat digunakan untuk memperkenalkan produk UMKM lain di Desa Citali.

Tetapi digitalisasi bukan sekadar memindahkan katalog produk dari meja ke layar. Tantangan sebenarnya adalah memastikan perempuan yang mengelola usaha mampu membuat informasi produk, memperbarui konten, membangun komunikasi dengan konsumen, dan mengelola kanal tersebut secara mandiri.

Itulah mengapa pelatihan pengelolaan website dan pemasaran digital menjadi bagian dari proses pendidikan. Teknologi, dalam konteks pemberdayaan, sudah seharusnya membuat masyarakat semakin mandiri—bukan semakin bergantung pada pihak yang membuatkan teknologinya.

Lebih dari Sekadar Olahan Singkong

Pengalaman Desa Citali memberikan pelajaran bahwa persoalan pembangunan ekonomi desa tidak selalu disebabkan oleh tidak adanya sumber daya. Kadang-kadang sumber daya itu sudah tersedia dalam jumlah melimpah. Masalahnya adalah berapa banyak nilai yang mampu dipertahankan di desa.

Jika singkong hanya keluar dari desa sebagai bahan mentah, sebagian besar kemungkinan penciptaan nilai terjadi setelah komoditas tersebut meninggalkan tangan petani. Tetapi ketika masyarakat memiliki kemampuan mengolah, mengemas, mengelola, dan memasarkan produknya sendiri, semakin banyak bagian dari rantai nilai yang berpeluang tetap berada di tingkat lokal.

Dalam proses tersebut, perempuan memiliki posisi strategis. Pemberdayaan KWT tidak hanya berbicara tentang menambah variasi makanan dari singkong. Lebih jauh, pendidikan nonformal memberi kesempatan kepada perempuan desa untuk memperkuat keterampilan produktif, kewirausahaan, dan kemampuan memanfaatkan teknologi.

Pada akhirnya, persoalan singkong di Citali bukan semata-mata tentang harga sebuah umbi. Ia berbicara tentang bagaimana pengetahuan dapat mengubah sumber daya menjadi nilai, bagaimana perempuan dapat mengambil peran lebih besar dalam ekonomi lokal, dan bagaimana desa dapat bergerak dari sekadar menghasilkan komoditas menuju menciptakan produk.

Jika proses itu berlangsung secara berkelanjutan, singkong tidak lagi hanya menjadi hasil panen yang murah ketika produksi melimpah. Ia dapat menjadi titik awal bagi lahirnya produk unggulan, keterampilan baru, usaha baru, dan peluang ekonomi yang tumbuh dari desa itu sendiri.

Penulis: Ir. Noneng Nurhayani, M.MPd; Rismayani Deri, S.Psi., MT; Muhammad Ikmal Wiawan, S.Tr., M.Kom; Rahmi.

Penulis: Tim Media Servis