tirto.id - Sebuah video di akun Instagram @gempa_dan_cuaca menyebar cepat di lini masa warganet sejak Kamis (10/9/2026). Video itu menampilkan pria yang mengklaim soal keberadaan "sesar aktif baru Surabaya-Madura”. Dia juga menyebut cumber klaimnya, yaitu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dia mengatakan patahan “baru” itu membentang dari Bangkalan di Pulau Madura, menembus Surabaya, hingga Sidoarjo dengan panjang sekitar 90 kilometer. Jalur patahan itu digambarkannya melintasi kawasan padat penduduk di Surabaya, dari Kenjeran, kampus Universitas Airlangga, Jalan Mayjen Sungkono, hingga berujung di Hutan Kota Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri.
Video tersebut memicu respons yang ramai di tengah maraknya kejadian bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Indonesia belakangan ini. Untuk membedah validitas klaim itu dan menelaah antisipasinya, Tirto mewawancarai sejumlah pakar kegempaan pada Jumat (11/9/2026), mulai dari akademisi hingga peneliti di lembaga pemerintah yang menangani data sesar aktif di Indonesia.
Alhasil, menurut Penanggung Jawab Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pepen Supendi, tidak ada satu sesar pun yang secara resmi diberi nama Sesar Surabaya-Madura.
Menurut Pepen, di wilayah Surabaya, Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) memetakan struktur bernama Java Back-arc Thrust, yang secara umum sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Sesar Kendeng.
Jalur sesar ini antara lain melalui Segmen Waru dan Surabaya. Segmen Java Back-arc Thrust Surabaya tercatat memiliki panjang sekitar 25 kilometer, dengan magnitudo maksimum yang dimodelkan sekitar Mw 6,7.
Segmen Surabaya ini pun bukan sumber potensi gempa yang baru muncul pada 2026 sebab, dalam pemutakhiran 2024, statusnya adalah "Data Updated" atau ‘data yang dimutakhirkan’.
Sementara di wilayah Madura, Pepen menyebut memang terdapat Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) yang terdiri atas sejumlah segmen, termasuk Somorkoning, Ketapang, Baliga, Sumenep, Brakas, dan Mandangin di Madura.
"Tidak ada satu sesar yang secara resmi diberi nama 'Sesar Surabaya-Madura' sebagai satu sesar aktif yang menerus dari Surabaya ke Madura dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024," kata Pepen kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).
"Istilah 'Sesar Surabaya-Madura' sebagai satu patahan aktif yang menerus langsung dari Surabaya ke Madura bukan nomenklatur resmi PuSGeN 2024. Istilah tersebut lebih merupakan penyederhanaan terhadap struktur dan segmentasi sesar aktif yang sebenarnya lebih kompleks," sambung Pepen.
Dalam Peta PuSGeN 2024, kata Pepen, struktur Java Back-arc Thrust di bagian timur Jawa yang berlanjut ke arah Selat Madura tidak diperlakukan sebagai satu patahan lurus, melainkan dibagi menjadi beberapa segmen.
Antara lain segmen Waru, Surabaya, Selat Madura 1, Selat Madura 2, dan Situbondo. Sesar Somorkoning sendiri berada di Pulau Madura, sekitar 4 kilometer di sebelah utara Surabaya, dan merupakan bagian dari sistem sesar RMKS yang berdiri sendiri.
"Tidak tepat jika seluruh struktur Surabaya-Madura digambarkan sebagai satu patahan lurus dan tunggal. Yang lebih tepat, kawasan tersebut memiliki struktur tektonik yang kompleks," tegasnya.

Identifikasi Sesar Tak Bisa Sembarangan
Penjelasan Pepen sejalan dengan pandangan Guru Besar Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno. Dia menekankan perlunya klarifikasi soal nomenklatur yang digunakan untuk menyimpulkan sebuah sesar baru dengan istilah “Sesar Surabaya-Madura”.
Sebab, dari referensi dan kajian yang sudah ada, tidak pernah ada penamaan dan karakteristik sesar demikian.
"Perlu klarifikasi dulu, tidak ada sesar tunggal yang nyambung dari Surabaya ke Madura. Yang ada adalah sesar yang berseri, memanjang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang lewat Madura. Segmen-segmennya salah satunya adalah Sesar Surabaya dan Sesar Waru," ujar Eko kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).
Eko menambahkan, sesar-sesar itu sudah lama ada di peta sumber daya gempa yang diterbitkan PuSGeN. Di Bangkalan sendiri, kata dia, ada pula sesar-sesar Socah, Blega, dan Ketapang yang bisa dilihat di peta gempa Pusgen.
"Sehingga, kalau ada peta yang menghubungkan Surabaya-Madura sebagai garis lurus tunggal, itu tidak ada. Yang ada memang potongan-potongan yang memanjang, disebut Sesar Kendeng, bahkan dari Pati dan Rembang. Jadi bukan satu sesar, tetapi sebuah sistem yang saling terhubung, jamak. Dan ini yang sering mengecoh," katanya.
Ahli geologi Muhammad Burhannudinnur turut menekankan bahwa penamaan sebuah sesar tidak bisa sembarangan. Dia pun menyoroti secara khusus metode yang dipakai dalam video viral tersebut.
Menurutnya, penamaan sebuah sesar mesti memenuhi tiga syarat, yakni lokasi, arah, dan panjang, yang biasanya dipetakan dengan koordinat jelas berdasarkan data lapangan atau satelit. Dia mencontohkan, rute yang digambarkan dalam video viral melintasi tengah kota dengan arah hampir timur laut-barat daya sebagai suatu metode yang janggal.
"Kalau itu, dari peta PuSGeN, peta sesar aktif, itu tidak ada, tidak tercantum di situ. Yang ada itu sesar yang barat-timur, sesar naik atau sesar thrust, yang segmennya ada Surabaya, ada Waru," kata Burhannudinnur kepada wartawan Tirto, Jumat (11/9/2026).
"Kalau yang di video itu, petanya ada di peta situasi, kayak satelit, kemudian dicoret saja. Belum tentu itu lokasinya di situ. Jadi akurasi petanya, posisinya, itu perlu dicek secara ilmiah," imbuh Burhanuddinnur.
menekankan bahwa status sesar aktif harus dikeluarkan oleh lembaga resmi dengan data penelitian yang akurat, yakni Badan Geologi lewat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta PuSGeN yang merupakan kumpulan Kementerian PUPR dan sejumlah lembaga lain.
Sementara BMKG, kata dia, umumnya berperan menginterpretasikan atau mengelaborasikan data dari kedua lembaga tersebut. Secara metodologis, Burhannudinnur menjelaskan sesar aktif biasanya meninggalkan jejak morfologi yang bisa diverifikasi di lapangan, seperti pembelokan alur sungai atau pergeseran permukaan tanah.
"Kalau sesarnya aktif sampai sekarang, biasanya ada pembelokan morfologi, pembelokan sungai, pergeseran, itu ada. Kalau yang di peta satelit video itu tidak ada sama sekali, sungainya lurus-lurus saja yang ditabrak garis itu. Jadi, secara data geologi, penarikan garis yang ada di Instagram itu tidak sesuai kaidah geologi," tegas Burhanuddinnur.
Kata "Baru" yang Kerap Disalahpahami
Pepen Supendi dari BMKG meluruskan kerancuan paling mendasar dari isu ini, yakni soal makna kata "baru" dalam kajian PuSGeN. Dia menyebut jumlah segmen sumber gempa di Pulau Jawa meningkat dari 31 segmen pada 2017 menjadi 82 segmen pada data PuSGeN 2024, seiring bertambahnya hasil penelitian geologi, geofisika, geodesi, dan data kegempaan yang digunakan dalam pemutakhiran peta.
“Baru” dalam konteks peta, kata dia, berarti adanya pengetahuan atau identifikasi sumber gempa yang baru dimasukkan ke dalam model, bukan berarti sesarnya baru terbentuk secara geologis.
"Istilah 'sesar baru' perlu diluruskan. 'Baru' dalam pemutakhiran peta tidak berarti sesar tersebut baru terbentuk atau baru menjadi aktif pada tahun 2026," kata Pepan.
Justru, ada satu pengecualian yang luput dari sorotan publik selama ini. Khusus Sesar Somorkoning, ungkap Pepen, segmen ini memang berstatus ‘Baru’ dalam Peta 2024.
PuSGeN menjelaskan adanya bukti aktivitas sesar berdasarkan penelitian morfologi, geolistrik, dan trenching, termasuk indikasi aktivitas gempa pada masa Holosen. Namun, kata Pepen, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperjelas jalur sesar, slip rate, magnitudo maksimum, dan parameter kegempaan lainnya.
"Tidak tepat jika diberitakan seolah-olah pada 2026 ditemukan atau terbentuk sebuah patahan baru yang tiba-tiba menghubungkan Surabaya dengan Madura," tegas Pepen.
Sesar Somorkoning inilah yang menjadi fokus studi Periset Bidang Geologi Gempa Bumi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono. Mudrik menyebut ada dua sistem sesar besar yang berkembang di Jawa Timur, yakni Sistem Sesar Besar Kendeng-Baribis atau Java Back Arc Thrust dan Sistem Sesar Besar RMKS.
"Penelitian kami di BRIN mendapatkan bukti retakan permukaan gempa bumi atau surface rupture di Sesar Somorkoning di Pulau Madura," kata Mudrik kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).
Riset ini merupakan kerja sama BRIN dan tim Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kendati demikian, dia mengingatkan penelitian Sesar Somorkoning ini belum tuntas.
Pasalnya, tim peneliti baru menemukan bukti paleoseismologi gempa buminya. Penelitian masih belum bisa menentukan besaran gempa bumi berdasarkan panjang jalur retakan karena dataset yang tersedia masih kasar dan tertutup oleh pepohonan.
“Perlu survei permukaan bumi yang mampu menembus tutupan pohon, yaitu survei LiDAR," jelas Mudrik.
Di sisi lain, Mudrik menyoroti kelemahan struktural dalam tata kelola data sesar aktif di Indonesia. Menurutnya, ada dua lembaga yang meneliti sesar aktif, yakni PuSGeN dan Badan Geologi, namun proses kontrol kualitas data oleh ahli yang benar-benar menekuni sesar aktif dirasanya masih kurang memadai.
"Ini masalah kita bersama. Kami di BRIN sudah mendorong dibuat semacam tim ahli yang mengontrol kualitas data, tetapi proses ini kelihatannya tidak diakomodasi dan cenderung resisten," ujarnya.

Potensi Gempa Segmen Sesar di Surabaya dan Madura
Sejumlah narasumber memberikan estimasi magnitudo yang secara umum sejalan, meski dengan sedikit variasi angka, sesuatu yang wajar mengingat pemutakhiran data terus berjalan. Mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus pakar kebencanaan, Daryono Perwira Sakti, memaparkan segmen Sesar Surabaya memiliki potensi pelepasan energi gempa bumi dengan magnitudo 6,5.
Karakteristik sesar ini bertipe sesar naik atau sesar geser-naik. Dampak gempa dangkal di kelas magnitudo ini sangat destruktif di permukaan.
“Terutama karena adanya amplifikasi getaran akibat lapisan tanah lunak berupa aluvium dan endapan rawa yang sangat tebal di bawah kawasan Surabaya," tulis Daryono.
Sementara itu, Daryono menilai segmen Sesar Madura di Zona RMKS memiliki potensi magnitudo maksimum yang serupa hingga lebih besar, yaitu 6,8, terutama jika beberapa segmen lepas pantai terpicu pecah secara bersamaan. Mekanisme dominan pada zona ini adalah sesar geser.
Meski laju geser sesar darat di Jawa Timur tergolong lambat hingga sedang, berkisar 1 hingga 6 milimeter per tahun, Daryono mengingatkan periode ulang gempa utamanya tetap berpotensi menghasilkan guncangan kuat. Dampaknya dapat melampaui ambang batas ketahanan bangunan standar, jika energi tektonik yang terkunci akhirnya terlepas.
Daryono turut menegaskan struktur ini bukan sesar baru secara geologi, melainkan struktur geologi tua sejak era Oligo-Miosen yang mengalami reaktivasi akibat gaya kompresi dari interaksi penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia di selatan Jawa.
Pembuktian keaktifannya, kata dia, telah dipertegas sejak Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia 2017 yang merupakan hasil riset lintas lembaga BMKG, Badan Informasi Geospasial, Institut Teknologi Bandung, dan BRIN.
Adapun Mudrik dari BRIN memberikan rincian angka yang bersumber dalam data PuSGeN 2024. Sesar di Madura, yakni RMKS, ditengarai mampu melepaskan magnitudo maksimum 6,5 dan slip rate 0,5 milimeter per tahun.
Di Surabaya, sesar Java Back Arc Thrust-Waru memiliki potensi magnitudo maksimum 6,8 dan slip rate 1,1 milimeter per tahun; sementara Java Back Arc Thrust-Surabaya dengan magnitudo maksimum 6,7 dan slip rate 0,5 milimeter per tahun.
“Secara umum, iya, ada potensi gempa bumi yang merusak di Surabaya-Madura," kata Mudrik.
Daryono juga menambahkan kejadian gempa bumi di masa lalu pada daerah-daerah ini juga tercatat dalam katalog Wichmann dan Visser, catatan sejarah gempa dari era kolonial Belanda.
Namun, poin yang ditekankan berulang oleh para narasumber adalah pentingnya membedakan antara potensi gempa dan prediksi gempa. Eko dari UPN Veteran Yogyakarta menegaskan data yang tersaji bukan ramalan tentang kapan bencana akan terjadi.
"Ini bukan sebuah kepastian akan terjadi kapan. Ketika BMKG merilis, itu adalah skenario terburuk, bukan prediksi atau kepastian kejadian. Tapi, karena itu menjadi ancaman yang laten dan tersembunyi, kesiapsiagaan menjadi penting," kata Eko.
Pepen Supendi dari BMKG menegaskan hal serupa. BMKG mengimbau masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Informasi mengenai keberadaan sesar aktif merupakan dasar untuk mitigasi dan perencanaan pembangunan, bukan prediksi bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Adapun nilai magnitudo maksimum pada peta sumber gempa merupakan parameter potensi sumber, bukan jaminan gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.

Mitigasi Jadi Kunci, Bukan Kepanikan
Eko Teguh Paripurno dari UPN, menekankan pentingnya tata ruang berbasis sebaran patahan sebagai rencana mitigasi pemerintah daerah. Dia juga menekankan penegakan building code, pengecekan bangunan yang berada di kawasan overlay patahan, serta retrofitting jika diperlukan, disertai pemantauan lewat sensor gempa karena guncangan besar biasanya didahului gempa-gempa kecil sebagai gejala awal.
"Kalau patahan itu sudah diplot dan kawasan kita ada di sana, kita perlu berhati-hati. Sehingga, kita perlu membuat tata ruang yang berbasis sebaran patahan. Contohnya di Bantul itu sudah dibuat peta-peta sampai pada skala mikro dan juga sama di Palu sehingga di sana bahkan ada sempadan patahan," ujar Eko.
Untuk masyarakat umum, Eko mendorong pemanfaatan aplikasi resmi seperti InaRISK Personal dan Info BMKG untuk mengetahui tingkat kerawanan di daerah masing-masing, alih-alih memercayai penafsiran di media sosial.
"Jangan melihat media sosial yang melakukan penafsiran tersendiri atas informasi-informasi itu. Ini tidak hanya berlaku untuk gempa, ke gunung juga begitu. Kadang influencer atau pemilik media sosial siapa pun membuat tafsiran sendiri atas fenomena itu dan itu sangat tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Pakar kebencanaan, Daryono Perwira Sakti, menawarkan sejumlah langkah yang lebih teknis, mengingat tingginya kepadatan penduduk dan kondisi tanah lunak di Surabaya-Madura. Dia menyebut perlunya mikrozonasi bahaya seismik lewat pengujian mikroseismik hingga kedalaman batuan dasar, revisi tata ruang dengan mengintegrasikan zona sempadan patahan serta penegakan standar bangunan tahan gempa SNI 1726.
Selain itu, perlu dilakukan retrofitting bangunan vital seperti rumah sakit, sekolah, dan jembatan penghubung Surabaya-Madura hingga penguatan sistem peringatan dini lewat jaringan sensor dan edukasi simulasi evakuasi mandiri berbasis skenario terburuk.
“Pemda dan masyarakat perlu rutin menyelenggarakan simulasi evakuasi mandiri (drop, cover, hold on) berbasis skenario terburuk (worst-case scenario) agar respons saat terjadi guncangan dangkal secara mendadak dapat meminimalkan korban jiwa,” terang Daryono.
Dari penelusuran ini, klaim dalam video viral perlu dipilah menjadi beberapa lapis kebenaran. Keberadaan struktur sesar di kawasan Surabaya dan Madura memang nyata dan sudah lama dipetakan sejak Peta PuSGeN 2017 hingga pemutakhirannya pada 2024.
Namun, sebutan "Sesar Baru Surabaya-Madura" sebagai satu patahan tunggal sepanjang 90 kilometer bukanlah nomenklatur resmi dan cenderung merupakan interpretasi sepihak pembuat konten viral. Yang ada adalah sistem segmen yang saling menyambung di wilayah Surabaya dan di wilayah Madura, dengan Sesar Somorkoning di Madura sebagai satu-satunya segmen berstatus resmi "baru" dalam Peta PuSGeN 2024, yang parameternya pun masih terus diteliti hingga saat ini.
Terlepas dari kelemahan klaim tersebut, potensi gempa merusak di kisaran magnitudo 6,5 hingga 6,8 di kawasan Surabaya dan Madura adalah fakta ilmiah yang telah lama diketahui. Sehingga, respons paling tepat bagi warga dan pemerintah daerah di Surabaya dan Madura bukan kepanikan, melainkan kesiapsiagaan dan resiliensi yang tepat serta akurat.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































