PLN Punya Utang Rp500 Triliun, Bagaimana Penyelamatannya?

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 3 Juni 2021
Dibaca Normal 1 menit
PLN memiliki utang hingga Rp500 triliun. Menteri BUMN Erick Thohir meminta manajemen PLN mengambil sejumlah strategi.
tirto.id - Menteri BUMN Erick Thohir memaparkan berbagai upaya untuk menyehatkan keuangan PLN. Salah satunya terkait utang PLN yang mencapai Rp500 triliun.

“Kami minta dari Rp500 triliun itu harus ada renegosiasi dengan bunga lebih murah, paling tidak kalau bisa seperlima. Alhamdulillah dari PLN sudah negosiasi sampai Rp30 triliun,” kata Erick Thohir dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (3/6/2021).

PLN sebelumnya mengungkapkan, interest bearing debt (rasio utang kena bunga) berhasil diturunkan menjadi sebesar Rp452,4 triliun. Penurunan ini karena adanya pelunasan pinjaman sebelum jatuh tempo sekitar Rp30 triliun segera setelah diperoleh kompensasi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PLN, Sinthya Roesly menjelaskan, pelunasan pinjaman sebelum jatuh tempo sekitar Rp30 triliun dilakukan setelah diterimanya piutang kompensasi dari Pemerintah untuk tahun 2018 dan 2019 dengan total sebesar Rp45,4 triliun. Ditambah penerbitan Global Medium Term Notes (GMTN) sebesar USD1,5 miliar pada bulan Juni 2020, dengan tingkat bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibanding pinjaman sebelumnya.

“Ini merupakan rangkaian upaya liability management untuk menurunkan beban cashflow pinjaman dalam jangka panjang, serta upaya perbaikan cashflow terutama 5 tahun ke depan, penurunan beban bunga pinjaman, dan untuk mengendalikan Biaya Pokok Penyediaan Listrik dan subsidi seiring dengan turunnya beban bunga pinjaman,” tutur Sinthya.

Dengan pelunasan pinjaman di luar jadwal pembayaran sekitar Rp30 triliun tersebut, maka Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) PLN juga mengalami perbaikan.

Erick mengatakan, semua pihak kini memang berupaya untuk membantu memperbaiki keuangan PLN. Termasuk pembayaran kompensasi dari pemerintah.

“Kompensasi sebelumnya hari ini diketok, dua tahun baru cair. Itu ada cost-nya. Sekarang 6 bulan,” ungkap Erick.

Erick mengungkapkan, pihaknya juga meminta PLN untuk memperbaiki keuangan melalui pemangkasan capital expenditure atau capex hingga 50 persen.

“Alhamdulillah, PLN bisa menekan Capex sampai 24%, sehingga cashflow lebih baik,” kata Erick.

PLN juga diminta untuk negosiasi pembelian listrik melalui take or pay senilai Rp60 triliun. Menurut Erick, PLN sudah bisa melalukan negosiasi hingga Rp25 triliun.

“Buku PLN sudah lebih sehat. Karena semua berupaya memperbaiki kinerja PLN,” jelas Erick.


Baca juga artikel terkait PLN atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Abdul Aziz
DarkLight