Pilpres 2024 Masih Jauh, Puan dan PDIP Kok Sudah 'Jegal' Ganjar?

Oleh: Zakki Amali - 25 Mei 2021
Dibaca Normal 2 menit
Elektabilitas Ganjar lebih baik dari kader PDIP mana pun, termasuk Puan. Ia juga rajin merawat kanal medsos. Kedua keunggulan itu menyebabkan ia dijegal?
tirto.id - Dalam kunjungan ke Kota Semarang Jawa Tengah untuk mempersiapkan pemilihan presiden tiga tahun mendatang, Minggu (23/5/2021), Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Keamanan sekaligus Ketua DPR RI Puan Maharani tiba-tiba mengatakan bahwa pemimpin itu adalah mereka yang ada di lapangan, “bukan ada di sosmed”.

“Pemimpin yang memang dilihat sama teman-temannya, sama orang-orangnya yang mendukung di lapangan. Sosmed perlu, media perlu, tapi bukan itu saja, tapi memang nyata terjalin di lapangan,” kata Puan di kantor PDIP Jateng.

Sindiran Puan segera memicu perbincangan. Sebab, meski tidak menyebut nama, dapat dengan mudah ditebak bahwa yang dia maksud adalah Ganjar Pranowo, kader PDIP yang juga Gubernur Jateng dua periode.

Alasan pertama, karena memang Ganjar rajin tampil di media sosial. Ia punya kanal Youtube sejak tiga tahun terakhir yang diikuti hampir sejuta akun. Bandingkan dengan gubernur lain di Jawa seperti Gubernur DKI Anies Baswedan yang cuma punya pengikut di bawah 100 ribu.

Ganjar juga punya semua akun media sosial populer, mulai dari Facebook, Twitter, sampai Instagram, juga jenama terbaru TikTok yang diikuti lebih dari 600 ribu akun dan 300 video yang disukai 7 juta kali.

Alasan kedua, karena Ganjar tidak ada dalam acara tersebut. Ganjar memang tak diundang oleh DPD PDIP Jateng.


Ketua PDIP Jateng sekaligus Ketua DPP PDIP Bidang Bappilu Bambang Wuryanto melabeli Ganjar sebagai kader “sok tahu”. Atas dasar itu pula, menurutnya, Ganjar tidak layak diundang dalam pembekalan yang dilakukan oleh Puan, putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Ganjar enggan menanggapi Bambang, tetapi ia mengisyaratkan telah mengerti maksudnya.

Hubungan Ganjar dengan Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul telah terjalin lama, namun keduanya dianggap tidak akur sejak periode pertama Ganjar menjabat gubernur dan berlangsung hingga kini. Keduanya pernah sama-sama duduk sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014. Ketika Ganjar maju sebagai Gubernur Jateng, Bambang masih di DPR RI dan sudah menjabat Ketua PDIP Jateng.

Kader PDIP Jagoan Survei

Bambang juga mengatakan Ganjar kader yang melewati batas karena menyiapkan pencapresan untuk Pilpres 2024.

Sebelum pertemuan tersebut, Ganjar memang kerap menjadi calon presiden unggulan dalam beberapa survei. Survei terbaru dirilis lembaga Akar Rumput Strategic Consulting. Dilakukan survei terhadap 1.200 responden dari 34 provinsi pada 26 April-8 Mei 2021 dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen.

Sebetulnya ada banyak nama dalam survei itu. Dua nama yang tadi disebut, Ganjar dan Puan, terpaut jauh. Elektabilitas Ganjar 11,25 persen, sedangkan Puan 2,48 persen untuk pertanyaan survei terkait kandidat presiden.

Dengan pertanyaan terbalik--sosok yang tidak diharapkan menjadi presiden--Puan dapat 5,3 persen sedangkan Ganjar 0,91 persen. Artinya, resistensi publik terhadap Puan lebih tinggi daripada Ganjar.

Survei serupa dari Pospoll Indonesia menempatkan elektabilitas Ganjar unggul dari Puan baik dalam skema 11 nama atau 22 nama yang ditanyakan kepada responden.

Dari dua lembaga survei itu, elektabilitas Ganjar berada dalam urutan ketiga setelah Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Ganjar memang jagoan survei. Dari seluruh kader PDIP saat ini, hanya namanya yang unggul dalam survei kandidat presiden. Misalnya menurut Indikator Politik, elektabilitas Ganjar naik dari periode survei selama 2020 pada bulan Februari, Maret, Juli dan September. Lagi-lagi elektabilitas Puan di bawah Ganjar.


Kendati punya elektabilitas tinggi, menurut Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS)-Jakarta Nyarwi Ahmad, teguran dari pengurus teras PDIP seperti Puan dan Bambang tidak dapat diabaikan. Bisa jadi, kata dia, karier politik Ganjar di PDIP tengah sedang terancam.

“Kritik yang disampaikan Bambang Wuryanto ke Ganjar Pranowo mengindikasikan hal itu,” kata Ahmad, melansir Antara.

Ketika Ganjar tidak dianggap lagi di PDIP, menurut Direktur Eksekutif Romeo Strategic Research & Consulting (RSRC) A Khoirul Umam, bisa saja partai lain bakal meliriknya. Di level nasional, kata dia, elektabilitas kandidat presiden masih kuat dipengaruhi oleh ketokohan. Namun, sikap politik PDIP lewat Puan dinilai menunjukkan keengganan untuk mendukung Ganjar.

“Tentu sikap Puan tidak lepas dari hasil perhitungan politik hasil pengamatan dan observasi panjang yang ia lakukan pada pola kepemimpinan dan pendekatan politik Ganjar,” kata Umam, melansir Antara.

Perbedaan antarkader ini lekas dimoderasi oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Menurut dia, Senin (24/5/2021), karena penentuan kandidat presiden dan wakil presiden itu hak prerogatif Megawati, maka “pilihan terbaik partai saat ini bagi seluruh kader adalah melakukan konsolidasi secara menyeluruh.”

Baca juga artikel terkait PILPRES 2024 atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Politik)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight