tirto.id - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tengah melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) terhadap aksi pendakian ilegal yang dilakukan oleh pemilik akun TikTok @chandra.kusuma.fa usai konten pendakian Gunung Merapi yang diunggahnya viral di media sosial.
Pendakian menjadi ilegal sebab Gunung Merapi masih ditutup karena berstatus Siaga (Level III).
“Kepala Balai TNGM telah memerintahkan jajaran untuk melakukan pulbaket mendalam dan progress hingga hari ini adalah sedang dalam proses pemanggilan yang bersangkutan,” ujar Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, dalam keterangan tertulisnya pada Senin (16/6/2025).
Wahyudi menyampaikan bahwa informasi terkait konten pendakian ilegal pertama diketahui pada 11 Juni 2025. Tak berselang lama, tim yang ditugaskan langsung melakukan penelusuran dan pendekatan persuasif kepada pemilik akun.
“Memperoleh hasil sebagai berikut, pemilik akun adalah Chandra Kusuma, pendakian dilakukan pada tanggal 8 Juni 2025, jumlah pendaki diduga lebih dari satu, dan jumlah konten terunggah hingga 15 Juni 2025 adalah 3 (tiga) konten,” jelas Wahyudi.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, petugas di lapangan juga melakukan penyesuaian aktivitas pendakian melalui rekaman kamera pemantau. Hasilnya, kata Wahyudi, terdapat kesamaan pakaian yang dikenakan Chandra dengan yang tampak di dalam konten.
“Pada tingkat lapangan dilakukan pengambilan data pada kamera pemantau dan dijumpai aktivitas pendakian oleh yang bersangkutan (diketahui dari baju yang dikenakan sama dengan yang dipakai pada konten terunggah),” tuturnya.
Wahyudi menegaskan bahwa hingga saat ini tidak diperkenankan mendaki Gunung Merapi dan beraktivitas pada radius 3 Km dari puncak Merapi. Sebagaimana diketahui bahwa saat ini status aktivitas Gunung Merapi berada pada level Ill atau siaga.
“Status tersebut dikeluarkan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi melalui hasil pengamatan dan analisis,” katanya.
Balai TN Gunung Merapi, disebut Wahyudi juga telah memasang informasi larangan pendakian pada lokasi-lokasi yang menjadi titik masuk jalur pendakian. Termasuk melaksanakan sosialisasi baik secara daring maupun luring, dan penjagaan di New Selo.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id































