tirto.id - Hari Terakhir Pesta Kreasi Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta yang diadakan di Halaman Gedung AA Maramis menyita perhatian publik. Pasalnya festival ini menghadirkan berbagai pengalaman menarik bagi para pengunjungnya. Mereka tak hanya akan dibuat mendapatkan ilmu baru dengan pembawaan yang lebih santai dari pakar di berbagai bidangnya, namun juga keseruan lewat penampilan langsung dari para seniman.
Hal ini terpancar dengan adanya persembahan musik di panggung utama yang dihiasi oleh berbagai musisi seperti Gondal-Gandul, Biru Baru, Reality Club, dan Last Child. Hingar bingar panggung tak ubahnya magnet yang membius setiap mata dan telinga pendengarnya. Lebih lanjut, keanekaragaman subsektor juga turut meriahkan acara ini lewat berbagai booth, mulai dari kuliner hingga fashion.
Tak ditampik bahwa kini Pesta Kreasi Kota menjadi wadah untuk para kreator, komunitas, dan warga untuk merayakan ide-ide kreatif yang mampu menggerakkan ekonomi kota melalui pameran, karya, pertunjukan, talkshow, maupun workshop.

Jakarta sebagai Capital of Fashion ASEAN
Dalam diskusi bertajuk “Jakarta untuk Ekonomi Kreatif WorldWide Stage Industri Ekonomi Kreatif”, hadir berbagai pembicara andalan yang aktif di industri kreatif, seperti Diana Nazir (Founder Indonesia Contemporary Art & design (ICAD)), Edwin Nazir (Produser Film), Yoga Prathama (Co Founder & Creative Director JICAF), dan Svida Alisjahbana (CEO, Jakarta Fashion Week/GC Media).
CEO, Jakarta Fashion Week/GC Media, Svida Alisjahbana ungkap bahwa dirinya yakin bahwa Jakarta tak hanya bisa menguasai pasar industri fashion dalam skala nasional saja, lebih dari itu mampu menjangkau pasar Asia Tenggara. Yang mana tantangannya bukan pada sisi kreativitasnya, melainkan pada kesiapan menghadapi standar internasional.
"Kriya dan fashion Indonesia belum bermain pada standar internasional. Pemain fashion Indonesia yang sudah kelas dunia belum ada. Untuk itu, kita perlu bantuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas," ujar Svida dalam diskusi tersebut.
Selain menyinggung tentang peran penting pemerintah, Svida juga menekankan pentingnya kolaborasi regional untuk mewujudkan harapan tersebut. "Mari kita jadikan Jakarta sebagai capital of creative economy ASEAN. Kita harus bersatu dengan Vietnam, Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia,” ungkapnya.
Founder Indonesia Contemporary Art & design (ICAD), Diana Nazir turut berbagi cerita terkait salah satu pencapaiannya pada 2023 lalu, yang berhasil melakukan pameran tingkat global berjudul Java Blues di Superdesign Show Milan. Pengalaman itulah yang membuat Diana yakin bahwa Jakarta memiliki kelengkapan yang mumpuni untuk tampil tak hanya di panggung Asia, namun juga tingkat global.
"Jakarta sebenarnya sudah lengkap banget untuk manggung di global. Kami bahkan pernah berpameran di panggung global sebelum pemerintah berpikir untuk mendukung," ungkap Diana.
Dari Dominasi Lokal ke Panggung Dunia
Sementara itu, Produser Film, Edwin Nazir membawa kabar menggembirakan tentang industri film Indonesia yang sedang mengalami masa keemasan. Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang pasca-pandemi tidak hanya pulih, tetapi bahkan lebih baik dari sebelum pandemi. Market share film lokal mencapai lebih dari 65% di box office, angka yang luar biasa tinggi.
"Kalau bicara talenta dan produk, saya sangat yakin kita sudah bisa bersaing di tingkat global. Film Indonesia cukup sering bersuara di festival internasional. Sekarang tinggal bagaimana membuat ekosistemnya semakin sehat," jelas Edwin.
Ia menambahkan bahwa kekuatan lokal menjadi keunggulan utama film Indonesia. Hal ini juga bisa berkaca ke berbagai negara lain, yang mengilhami contoh serupa. Karena nyatanya hampir di semua negara yang tidak berbahasa Inggris, film lokalnya selalu lebih laris karena kedekatan dengan bahasa ibu dan budaya setempat. Dengan begitu, jika dunia perfilman Indonesia terus mempertahankan unsur lokalitas dalam berkarya, maka akan memperkuat fondasi pasar yang bahkan mampu bertarung di kancah global.
Ilustrasi: Talenta Global yang Butuh Panggung Lokal
Kini, giliran Co Founder & Creative Director JICAF, Yoga Prathama yang mengungkap fenomena unik sekaligus kerentanan industri ilustrasi Indonesia.
"Ilustrator Indonesia berulang kali di-feature di media internasional. Mereka kolaborasi luar biasa di luar negeri. Tapi di media lokal, tidak terdengar. Kalau mereka tidak ditarik atau dibuatkan platform di Indonesia, semua ilustrator akan kabur keluar," ungkap Yoga.
Padahal jika berkaca pada Singapura dan Bangkok yang sudah memiliki platform khusus ilustrasi sejak 2021, Indonesia sebenarnya bisa menciptakan mediumnya sendiri. Berangkatdari kondisi itu, terbentuklah JICAF yang hadir sejak 2023 sebagai rumah bagi ilustrator Indonesia. Platform ini tidak hanya pertunjukan karya, tetapi juga membuka peluang untuk dibawa ke panggung dunia melalui kolaborasi Southeast Asia.
"Cross-market menjadikan kita sama-sama mendapat potensi. Mereka dapat market lokal kita, kita dapat market internasional mereka," tutup Yoga.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































