tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikritik pendahulunya, Bill Clinton dan Barack Obama terkait penembakan warga sipil yang dilakukan agen patroli perbatasan AS pada Sabtu (24/1/2026). Penembakan itu menewaskan seorang perawat bernama Alex Pretti (37 tahun).
Melalui keterangan terbarunya, Barack Obama dan Bill Clinton sama-sama mengutuk peristiwa penembakan tersebut. Keduanya menyebut insiden itu sebagai momen penting bagi AS untuk bicara dan mengambil tindakan.
Dua warga sipil Minneapolis, Minnesota, telah menjadi korban penembakan. Mereka adalah adalah Renee Nicole Good (37 tahun) dan Alex Pretti. Keduanya warga berkebangsaan AS.
Renee Good ditembak oleh agen penegakan imigrasi dan bea cukai (ICE) pada 7 Januari lalu ketika ia berhenti di Jalan Portland Avenue dekat 34th Street dengan mobil. Renee Good ditembak dari luar mobilnya.
Kemudian pada Sabtu lalu, penembakan kembali terjadi. Kali ini, seorang perawat bernama Alex Pretti oleh agen patroli perbatasan AS yang ditugaskan dalam operasi gabungan di Minneapolis.
Departemen Keamanan dalam Negeri (DHS) menyatakan bahwa agennya menembak Pretti karena diklaim telah "mendekat dengan pistol dan melawan saat hendak dilucuti".
Akan tetapi, rekaman video yang beredar menunjukkan Pretti sama sekali tak memperlihatkan pistol. Pretti tampak membantu seorang pengunjuk rasa yang didorong petugas.
Saat mendekati kerumunan petugas, Pretti memegang ponsel dan bukan pistol. Ia mendekat untuk melerai dorongan petugas. Namun, ia kemudian dikeroyok oleh beberapa agen, dilumpuhkan, dan ditembak di tempat.
Clinton dan Obama Serukan Warga untuk Bersuara
Menukil NBC News, eks presiden AS Barack Obama menyebut kematian Pretti sebagai "tragedi yang memilukan". Dalam pernyataan bersama istrinya, Michelle Obama, politisi partai Demokrat itu menyebut insiden itu sebagai serangan atas nilai utama AS sebagai bangsa.
"Ini juga harus menjadi peringatan bagi setiap orang Amerika, apa pun partainya, bahwa banyak dari nilai-nilai inti kita sebagai sebuah bangsa semakin diserang," tulis keluarga Obama.
Dalam pernyataan itu, Obama mengkritik ICE di bawah DHS telah menciptakan taktik yang membuat yang "tampaknya dirancang untuk mengintimidasi, melecehkan, memprovokasi, dan membahayakan penduduk kota besar di Amerika".
Obama juga menyebut agen-agen federal seperti ICE dan lainnya telah "bertindak tanpa mendapat hukuman" atas serangkaian kasus penembakan terhadap warga sipil. Ia lalu mengkritik Trump karena tak bertindak untuk meredam polemik.
"Daripada mencoba menerapkan disiplin dan akuntabilitas terhadap agen-agen yang mereka kerahkan, Presiden dan pejabat pemerintahan saat ini tampaknya ingin menambah eskalasi situasi," kata Obama.
Peningkatan eskalasi polemik itu, kata Obama, dilakukan pemerintahan Trump dengan memberikan penjelasan publik tanpa "investigasi serius" dan "tampaknya secara langsung bertentangan dengan bukti video".
Hal serupa juga diungkapkan oleh eks presiden Bill Clinton. Melalui unggahan media sosial, ia menyebut insiden di Minneapolis sebagai hal yang mengerikan.
Clinton menyebut bahwa aparat berwenang telah berbohong kepada publik karena "mengatakan kepada kita untuk tidak mempercayai apa yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri".
Tak hanya mengkritik Trump, Obama dan Clinton juga sama-sama menyerukan agar publik AS mendukung protes yang telah berlangsung di banyak wilayah.
Menukil The Observer, Trump memberikan komentar terkait tewasnya Pretti dengan menyalahkan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dan Gubernur Minnesota Tim Walz. Oleh Trump, keduanya disebut telah "menghasut pemberontakan, dengan retorika yang sombong, berbahaya, dan arogan".
Trump juga telah mengancam pemberlakuan undang-undang pemberontakan jika otoritas lokal tak mendukung kebijakan imigrasi agresifnya. Artinya, jika sampai UU itu diberlakukan, militer aktif akan dikerahkan menuju Minneapolis.
Penembakan Renee Good pada awal Januari lalu telah menyebabkan aksi protes yang meluas di Minneapolis. Banyak dari mereka berunjuk rasa ke tempat agen ICE berada, sementara yang lainnya mendokumentasikan tindakan ICE dengan kamera amatir.
Di sisi lain, lebih dari 2000 anggota ICE dan pejabat federal tiba di Minnesota pada 1 Desember 2025 untuk menegakkan kebijakan migrasi Trump yang keras. Mereka mendapatkan perlawanan dari warga setempat.
Setelah terbunuhnya Alex Pretti, warga Minneapolis tetap melakukan aksi protes dengan memblokade jalan tempat perawat tersebut ditembak. Sepanjang malam, mereka menyalakan lilin di jalanan tersebut.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































