tirto.id - Pemerintah menyediakan 55 dapur di untuk melayani konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Salah satu dapur tersebut berada di Ragheeb, kawasan Shauqiah, Makkah.
Tim Media Center Haji (MCH) 2025 meninjau langsung proses produksi makanan di dapur tersebut pada Kamis (15/5/2025). Dapur ini memenuhi standar higienis, gizi, dan kesehatan sesuai ketentuan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
Menurut Konsultan Ahli Konsumsi PPIH Arab Saudi, Agung Ilham, setiap 11 dapur didampingi satu tenaga ahli. Di Makkah terdapat lima tenaga ahli, sedangkan di Madinah dua orang.
Agung menjelaskan bahwa seluruh bahan makanan yang diolah di dapur tersebut dikirim dari Indonesia. Semua dapur mendapat bahan makanan yang seragam. Juru masaknya pun didatangkan dari Indonesia.
Dapur Ragheeb, misalnya, melibatkan enam juru masak dengan minimal dua di antaranya harus berpengalaman dan kompeten.
Makanan hasil olahan dapur pemerintah itu disajikan dalam bentuk siap saji atau prasmanan.
Untuk menjaga kualitas, setiap dapur wajib mengirim dua sampel makanan ke kantor Daker dan dua sampel ke KKHI. "Sampel dicek dari sisi gramasi, rasa, dan kualitas," ujar Agung, Kamis (15/5/2025).
Agung juga mengatakan bahwa setiap dapur mampu memproduksi 3.500–5.000 porsi per hari.
"Saat ini, produksi masih sekitar 500 porsi per hari dan akan meningkat menjelang puncak haji," jelasnya.
Proses memasak sendiri membutuhkan waktu sekitar 2–3 jam. Untuk makan malam, misalnya, bahan mulai diolah pukul 12.00 WAS. Setelah dikemas dan dimasukkan ke dalam hotbox, makanan dikirim pukul 16.00 dan tiba di hotel jemaah pukul 18.00 WAS.
Agung menegaskan bahwa makanan siap saji harus dikonsumsi maksimal tiga jam setelah tiba di hotel.
"Untuk makan malam, batas akhirnya pukul 21.00 WAS," katanya.
Pemeriksaan kesiapan makanan dilakukan tiga kali sehari, yakni pada pukul 00.10 WAS untuk sarapan, 07.00 WAS untuk makan siang, dan 13.00 WAS untuk makan malam.
Penulis: Fahreza Rizky
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































