tirto.id - Senyum merekah terpancar dari wajah Ifan Andri Wicaksono, jemaah asal Embarkasi Surabaya (SUB), saat ditemui di Sektor 2, Madinah. Bagaimana tidak, impiannya menunaikan haji bersama keluarga akhirnya terwujud, lengkap dengan fasilitas memuaskan.
“Saya berangkat bertiga keluarga, Alhamdulillah kami bisa tinggal satu hotel. Hotelnya nyaman, makanannya enak dan terjamin,” ujar Ifan di Tabah Hotel Tower, Rabu (14/5/2025).
Ifan merasa tenang selama beribadah. Kehadiran petugas haji Indonesia yang selalu sigap turut memberikan rasa aman. “Petugasnya luar biasa peduli. Ada jemaah yang sempat jatuh saat makan, langsung dibantu. Cepat tanggap sekali,” katanya.
Setelah menunggu 13 tahun, Ifan akhirnya bisa berkunjung ke tanah suci. Baginya, pelayanan konsumsi menjadi salah satu faktor kenyamanan yang paling dirasakan.
“Makanannya cocok di lidah. Pelayanannya juga memuaskan. Semoga semua sehat sampai puncak haji dan bisa pulang dengan selamat,” harapnya.
Cerita serupa datang dari Edi Ahmad, jemaah asal Bangka Belitung yang tergabung dalam Kloter 07 Embarkasi Palembang. Ia juga telah menanti selama 13 tahun untuk berangkat haji.
“Saya berangkat bersama istri, ibu, dan bapak. Alhamdulillah, kami juga bisa sekamar. Layanan sangat baik, dan makanannya sesuai selera Indonesia. Rasanya seperti di kampung sendiri,” ujar Edi. Ia berharap pelayanan yang sudah baik ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Di lokasi berbeda, Ketua Rombongan Kloter 24 SOC (Solo), Wachudi Sukardi, tampak menikmati makan siang di lorong Hotel InterContinental Daar Al Hijra, Sektor 1, Madinah. Ia tidak menyangka makanan yang disediakan panitia justru melebihi ekspektasinya.
“Menunya pas di lidah. Malah lebih enak dari masakan saya sehari-hari. Terima kasih untuk semua yang sudah menyiapkan,” ujarnya sambil tertawa bersama rombongan.
Djubaidah, Koordinator Layanan Konsumsi Sektor 1 Madinah, menjelaskan bahwa makanan disajikan tiga kali sehari—pagi (05.00–08.00), siang (12.00–14.00), dan malam (17.00–19.00). Sejauh ini, katanya, tidak ada keluhan berarti dari jemaah.
Distribusi makanan dilakukan melalui ketua rombongan. Sebelumnya, panitia mengambil sampel untuk mengecek kualitas: mencicipi nasi, lauk, dan memastikan standar kebersihan terpenuhi.
“Kami uji dulu makanannya. Kalau sudah layak, langsung kami serahkan ke ketua rombongan untuk dibagikan ke jemaah,” jelas Djubaidah.
Untuk menjamin kelancaran, katering diminta tiba 30 menit sebelum waktu distribusi. Jemaah juga diminta mengonsumsi makanan sebelum batas waktu yang tertera pada kemasan, demi menjaga mutu.
Tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng 55 perusahaan katering yang akan menyiapkan 84 kali makan bagi jemaah selama di Makkah dan 15 kali makan saat puncak haji di Armina. Sementara selama di Madinah, jemaah akan mendapatkan 27 kali makan yang disiapkan oleh 21 perusahaan katering.
"Total yang kita siapkan untuk jemaah haji selama di Arab Saudi itu 127 kali makan. Jadi kami harus menyiapkan 25,8 juta box makanan,” ungkap Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kemenag, Muchlis M Hanafi, beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, Kemenag juga mengutamakan bahan lokal. Dari 611 ton bumbu yang dibutuhkan, 475 ton dipasok dari dalam negeri—kontribusi signifikan dari sektor pangan Indonesia dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
Untuk mengantisipasi kendala distribusi, terutama saat puncak haji 7–15 Zulhijah, panitia juga menyediakan makanan siap saji. “Sampai saat ini, sudah ada 2,4 juta paket makanan siap saji dari dalam negeri, seperti rendang dan opor,” pungkas Muchlis.
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id

































