tirto.id - Haru tak bisa ditahan dari wajah Nadia Rahmatika (21) saat dirinya berdiri di tengah ratusan calon jemaah haji 2025 lainnya di halaman Kantor Gubernur Bali. Di usia semuda itu, ia menjadi jemaah termuda dari Bali yang akan berangkat ke tanah suci tahun ini.
Perjalanan panjang menuju Mekkah, bukan hanya secara geografis, tapi juga emosional, telah dilalui Nadia sejak kepergian sang ibunda pada November tahun lalu.
“Perasaan saya antara senang dan sedih. Senang karena di usia saya yang muda ini, Allah izinkan saya berangkat ke tanah suci. Di sisi lain juga, saya sedih karena ibu saya harusnya layak untuk ke sana,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Nadia telah mendaftarkan diri sejak 2010, namun takdir berkata lain. Setelah sang ibu wafat karena penyakit ginjal kronis, Nadia — si bungsu dari empat bersaudara — ditunjuk untuk menggantikan. Bersama ayahnya yang juga akan berhaji, Nadia mengurus semua kebutuhan keberangkatan, dari vitamin hingga obat untuk diabetes sang ayah.

Di sisi lain, ada Husain Ismail (64), pensiunan wiraswasta yang telah menunggu 12 tahun sejak mendaftar haji pada Juni 2013. Setelah menanti penuh kesabaran, kini ia bersiap berangkat bersama istrinya.
“Alhamdulillah, kita diberi kesempatan. Sekarang tinggal jaga kesehatan. Saya fitness dan jalan kaki. Tidak ada vitamin khusus, yang penting pola makan seimbang,” katanya.
Husain telah mengikuti manasik secara berkala yang menurutnya sangat membantu memahami proses ibadah. Baginya, 43 hari di tanah suci bukan sekadar ritual, tetapi perjalanan spiritual yang dinanti seumur hidup.
Semangat masyarakat Muslim di Bali untuk berhaji memang sangat tinggi. Menurut data, antrean keberangkatan bisa mencapai hingga 28 tahun. Kendati biaya naik-turun dan proses persiapan yang panjang, semangat itu tidak surut. Bahkan, beberapa orang seperti Samsul Arifin memilih tidak hanya menjadi jemaah, tetapi juga melayani sesama sebagai petugas haji.
“Ada tim pembimbing ibadah, saya sendiri jadi pemandu ibadah haji. Tugas kami memfasilitasi jemaah dari Indonesia hingga kembali ke Bali,” ujar Samsul, Ketua Kloter 72, yang akan mendampingi 390 jemaah dari Bali.

Samsul mengatakan, jumlah jemaah haji asal Bali sebanyak 672 dipecah lagi ke dalam dua kloter. Kloter 72 memiliki 390 orang jemaah haji dan akan terbang ke Arab Saudi berselang dua jam setelah Kloter 71 berangkat dari embarkasi Surabaya.
Setelah berada di Arab Saudi, petugas haji akan memastikan tersedianya fasilitas yang dibutuhkan jemaah, seperti akomodasi, transportasi, dan konsumsi, serta meneruskan informasi dari Pihak Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kepada jemaah.
“Kita membantu jemaah haji dalam satu kloter, saling bahu membahu. Terutama (membantu) jemaah haji yang membutuhkan bantuan. Harapan kita, mudah-mudahan jemaah haji itu berangkatnya selamat, sehat, dan kembalinya juga utuh,” tandasnya.
Haji Mabrur Jadi Harapan
Total sebanyak 672 jemaah asal Provinsi Bali resmi dilepas untuk berangkat ke tanah suci oleh Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, dalam sebuah seremoni yang berlangsung pada Selasa (13/5/2025). Dalam sambutannya, Giri menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan, kebersamaan, dan kekhusyukan doa.
“Saya selalu mendoakan bapak dan ibu sekalian. Bersatu, ikut komando, dan jaga kesehatan. Kami doakan agar menjadi haji yang mabrur,” ucapnya.
Giri juga mengajak para jemaah agar sepulang dari tanah suci membawa perubahan positif bagi umat Islam di Bali.
“Setelah balik, mari kita bangun rumah-rumah Allah, masjid dan musala. Pemerintah siap bantu renovasi tanpa jemaah harus keluarkan iuran,” tegasnya.
Berdasarkan data dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bali, jemaah tahun ini tersebar dari berbagai kabupaten/kota. Denpasar menyumbang jumlah terbanyak dengan 236 orang, disusul Badung (118), Jembrana (86), dan lainnya. Ada pula 9 petugas haji dan pembimbing yang ikut mendampingi.
Mayoritas jemaah berusia 51–60 tahun (252 orang), dan sebanyak 212 orang berusia di atas 60 tahun. Yang termuda adalah Nadia (21 tahun), sedangkan yang tertua adalah Siti Maimunah (89 tahun) dari Buleleng.
Menariknya, 641 dari 672 jemaah belum pernah menunaikan haji (95,39 persen), mencerminkan betapa istimewanya perjalanan ini bagi banyak orang. Proporsi pria dan wanita juga relatif seimbang.

Persiapan Teknis dan Administratif
Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Bali, Mahmudi, mengatakan jemaah Bali tergabung dalam Kloter 71 dan 72 akan masuk Embarkasi Surabaya. Biaya haji tahun ini merujuk pada Keppres Nomor 6 Tahun 2025, yaitu Rp60,9 juta untuk jemaah dan Rp94,9 juta untuk petugas.
“Insyaallah berangkat ke Arab Saudi tanggal 23 Mei pukul 00.20 WIB. Pemulangan dari Madinah 3 Juli,” jelas Mahmudi.
Seluruh proses, dari pelunasan biaya, manasik, hingga pemeriksaan kesehatan, telah dilalui sejak akhir 2024. Bahkan, semua visa jemaah Bali telah terbit.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Komang Sri Marheni, menyebutkan bahwa Bali sebenarnya memiliki 777 jemaah yang sudah melunasi. Namun, karena kuota hanya 698, ada 79 jemaah yang harus menunggu pemberangkatan berikutnya.
“Jemaah cadangan sudah siap, tinggal memantapkan hati dan mental untuk melaksanakan ibadah haji,” ujarnya.
Haji bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga transformasi spiritual. Dan bagi para jemaah asal Bali tahun ini — dari Nadia yang muda hingga Siti yang sepuh — setiap langkah ke tanah suci adalah lembaran baru yang penuh doa, harapan, dan tekad untuk menjadi insan yang lebih baik.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id






























