Pembantaian Kanjuruhan: Habis Tragedi Terbitlah Harapan

Reporter: Adi Briantika, tirto.id - 17 Okt 2022 15:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam menyebut ada dua penyebab terjadinya kematian dalam tragedi Kanjuruhan.
tirto.id - Baca serial laporan Indepth Tirto mengenai tragedi di Kanjuruhan:

1. Tragedi Kanjuruhan: Seperti Digiring Menuju Gas Air Mata

2. Pakai Anjing Saja Bisa Bubar, Kenapa Harus Gas Air Mata?

***

“Meskipun ku tak siap untuk merindu. Ku tak siap tanpa dirimu. Kuharap terbaik untukmu..”


Lagu ‘Sampai Jumpa’ gubahan Endank Soekamti itu terdengar melalui pengeras suara yang dipasang di perempatan lampu merah Stadsklok Kajoetangan Kota Malang, Jawa Timur. Dalam suasana Kota Malang yang tengah berkabung beberapa hari setelah tragedi Kanjuruhan, lagu itu ironisnya terdengar pas, entah disengaja atau tidak.

Hari itu Jumat, 7 Oktober 2022, selepas magrib, saya berkendara menuju Stadion Kanjuruhan. Arus lalu lintas lebih padat dari biasanya. Jarak tempuh pun memakan waktu sekitar 50 menit. Hari itu tepat peringatan tujuh hari sejak tragedi terjadi pada 1 Oktober dan dini hari 2 Oktober, maka dalam tradisi, ada tahlilan yang diselenggarakan untuk mendoakan para korban. Saya sengaja datang untuk merekam momen tahlilan tersebut.

Sekira satu kilometer sebelum stadion, saya memarkir motor di sebuah tempat pencucian kendaraan dan mesti berjalan 10 menit untuk mencapai tujuan; bersama dengan para peserta tahlil yang didominasi oleh Aremania. Mereka mengenakan kaus hitam tanda berkabung. Jalanan dua arah itu kini menjadi satu arah, kendaraan dari timur terpaksa mengalah sementara.

Pukul 7 malam, saya tiba di seberang stadion. Dua petugas Dinas Perhubungan berompi biru-oranye mengatur arus lalu lintas di Jalan Trunojoyo, bukan Polisi Lalu Lintas dari kepolisian setempat atau kepolisian yang dikirim dari daerah lain. Gapura Kanjuruhan menyambut saya dan ribuan orang lainnya. Kami bersama-sama berjalan menuju ke area lapangan basket Kanjuruhan –fasilitas tambahan stadion— yang menjadi tempat doa bersama.

Saya berdesak-desakan dengan mereka yang bertujuan serupa. Saya harus menyelip di antara motor-motor parkir, kadang berjinjit untuk melihat rute yang bisa dilewati, juga memiringkan badan agar mudah berjalan di antara mereka.

Tenda-tenda beralaskan kain dipasang, disesaki para peserta tahlil dari berbagai kalangan: anak, remaja, dewasa, ada semua. Banyak yang mengenakan syal Arema, sembari membentangkan spanduk bertuliskan bermacam keresahan Aremania, serta puluhan karangan bunga yang berbaris rapi. Semua menjadi pemandangan malam ketujuh usai tragedi penembakan gas air mata.

Sebuah backdrop bertuliskan “Doa Bersama 01.10.22” terpampang jelas sejajar dengan tribun lapangan basket. Lilin berdiri dikelilingi mereka yang bersimpuh di aspal sembari berdoa. Saya mondar-mandir di area itu, sempat melihat syal suporter klub Persebaya, Persija, Persib, Persis, dan Persik. Artinya tak hanya Aremania yang hadir, tapi pendukung klub sepak bola lainnya pun bertandang memanjatkan doa. Mereka melebur tanpa stigma, menanggalkan rivalitas yang selama ini kerap diwarnai kekerasan.

Usut Tuntas

Dua kata itu banyak ditulis di spanduk-spanduk pinggir jalan, di kertas yang ditempel di berbagai lokasi dari kota hingga kabupaten Malang, serta berseliweran di media sosial yang disertai tanda pagar. Warga Malang ingin polisi bisa menyelidiki perkara kematian Aremania hingga rampung. Tak boleh ada yang ditutupi. Mereka menuntut transparansi dan keberanian Korps Bhayangkara menghukum segala pihak yang bertanggung jawab merenggut nyawa arek-arek.

“Kapolri telah menetapkan enam tersangka. Tapi kami masih bisa merasakan masih ada fakta yang bersembunyi. Tapi, tenang, masih ada tim investigasi yang dibentuk Jokowi, itu harapan kami. Mudah-mudahan kesabaran kami tidak dilukai, kepercayaan kami terhadap hukum tidak dikhianati,” kata seorang orator di Kanjuruhan, malam itu.

Perjalanan pengusutan kasus ini masih panjang, sang orator mengatakan “Marilah dulur-dulurku kabeh, energi awake dewe dicacekno siji gae ngawal supoyo keadilan benar-benar ditegakkan di Bumi Arema.” Ajakan itu disambut dengan keriuhan pendatang. “Aku tetap janji, nek sampai fakta ini tersembunyi, fakta ini terselubung, sampai titik darah penghabisan aku akan maju terus!”

Iki gak iso dipekso, gak iso dipenggak. Iki panggilan jiwa”

Rampung ia bicara, massa mulai menyanyikan yel-yel. Tangan ke atas, suara melantang, gerimis kembali turun. Mereka bubar perlahan. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh mereka yang berada di bawah kanopi ‘Salam Satu Jiwa’.

Sebagian para pendoa bergerak pelan menuju ke luar stadion, sembari menyanyikan ‘Mau Jadi Apa Indonesia Tanpa Arema’; sebagian beristirahat di dekat barisan karangan bunga, sebagian memadati kamar mandi umum. Namun gerak mereka makin lambat lantaran ada mobil-mobil yang juga mau angkat kaki dari situ. Saya juga mendengar teriakan “Copet! Copet!”, itu pun tak mengurai keramaian massa.

Para pedagang di kantin pun tak segera menutup tokonya. Banyak di antara yang mereka rehat di sana, menyeruput kopi sambil menghisap rokok dan menyeka keringat. Malam itu memang gerimis, tapi kepadatan para pendukung membuat badan berpeluh; termasuk saya. Saya memesan teh hangat sembari mencari tahu perihal alasan pedagang enggan diwawancarai jurnalis.

Sembari menyeruput, saya tanya kepada ibu penjual soal keengganan itu. Ia bilang “Semua orang sudah tahu, (unggahan) yang di TikTok itu, yang kejadian itu.” Unggahan yang ia maksud adalah video Aremania berupaya keluar dari salah satu gerbang tapi pintu itu dikunci. Unggahan itu viral. “Orangnya dibawa ke kantor polisi, ditangkap di rumah.”

“Lalu banyak yang takut bicara?”

“Iya.”

Infografik Indepth SalamSatuJiwa
Infografik Indepth #SalamSatuJiwa. tirto.id/Ecun


Banyak pedagang yang emoh berbicara karena takut menjadi target penculikan polisi. “Takut viral,” kata penjual pernak-pernik yang juga ada di stadion. Ketakutan mereka wajar, juga keinginan agar diri sendiri dan keluarga aman dari intimidasi kepolisian pun merupakan sesuatu yang lumrah. Pada 1 Oktober, usai pertandingan Arema vs Persebaya, polisi juga mengintimidasi pendukung.

Seorang Aremania, Yohannes Prasetyo, yang kala itu berada di Gate 7 saat insiden, sempat berlari ke lapangan untuk meminta polisi menyetop penembakan gas air mata. Polisi meladeninya dengan bentakan dan pengusiran. Ia pun dianiaya oleh aparat yang telah melanggar kaul Tri Brata dan Catur Prasetya.

"Polisi banyak pukul saya. Kepala, punggung, kaki, ada yang pakai tangan, tongkat, tendang pakai sepatu," tutur Yohannes.

Intimidasi oleh aparat bukan hal baru. Tindak kekerasan yang dialami para suporter, tidak hanya dilakukan oleh anggota Polri tetapi juga dilakukan oleh prajurit TNI seperti menyeret, memukul, dan menendang. Kekerasan pun tidak hanya terjadi di dalam stadion, tapi juga di luar stadion. Kepolisian juga menembak gas air mata kepada para Aremania yang berada di luar stadion.

Usai insiden, diduga terdapat pihak-pihak tertentu yang mengintimidasi melalui sarana komunikasi dan secara langsung. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menduga hal ini dilakukan agar menimbulkan ketakutan kepada para saksi dan korban agar tidak bersaksi. Kemudian, berkaitan dengan anggota TNI yang juga menjadi penganiaya, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengklaim yang dilakukan anak buahnya bukanlah pelanggaran etik.

"Saya berusaha untuk tidak [memberikan sanksi] etik. Bagi saya sudah sangat jelas itu pidana," kata Andika. Lima tentara mengakui melakukan tindak kekerasan kepada Aremania dan sudah diperiksa yakni empat Sersan Dua dan satu Prajurit Satu.

Berkenaan dengan pemeriksaan terhadap unsur pimpinan, TNI akan mendalami ihwal kesesuaian prosedur dan instruksi yang disampaikan kepada prajurit yang bertugas di Kanjuruhan saat kejadian. Para prajurit yang berlaku salah ini diduga melanggar Pasal 126 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer dan terancam 5 tahun penjara.


Temuan Tim

Anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) insiden Kanjuruhan, Rhenald Kasali, menduga pengaturan jadwal pertandingan agar selalu digelar pukul 21.30 WIB lantaran diduga demi mengakomodasi iklan rokok.

Hal itu diketahui usai pertemuan dengan sejumlah atlet sepak bola di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Senin, 10 Oktober 2022, Rhenald menuturkan bahwa banyak pemain mengeluhkan pertandingan malam hari karena mereka tidak nyaman bermain. Temuan sementara lainnya TGIPF yaitu polisi menggunakan gas air mata kedaluwarsa.

Selanjutnya Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan TGIPF mulai menganalisis dan menyusun laporan dan memprediksi laporan bisa diserahkan kepada kepala negara pada 14 Oktober.

6 Oktober atau lima hari setelah kejadian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan enam tersangka tragedi Kanjuruhan yakni Kepala Satuan Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur AKP Hasdarman, Kepala Bagian Operasional Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Akhmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Abdul Haris, dan petugas keamanan Suko Sutrisno. AKP Bambang Sidik Achmadi dan AKP Hasdarman ia klaim sebagai orang yang menyuruh menembakkan gas air mata kepada Aremania.

Lantas ada Komnas HAM, lembaga yang juga mengusut perkara Kanjuruhan, juga memiliki temuan sendiri. Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam menyebut ada dua penyebab terjadinya kematian dalam tragedi itu yakni penembakan gas air mata oleh polisi kepada suporter dan kapasitas stadion yang melebihi batas –42.516 tiket dijual, sedangkan kapasitas stadion menampung 38.000 penonton—

Anam juga mengklaim peristiwa ini merupakan pelanggaran hak asasi. "Terindikasi bahwa ini merupakan pelanggaran HAM," ujar dia. Berdasar temuan Komnas HAM, pihak yang bertanggung jawab atas penembakan gas air mata tidak hanya personel Korps Brimob, namun juga berasal dari Korps Sabhara yang memegang senjata selama pengawasan pertandingan.

Janji di Bawah Kanopi Warung

Hujan intensitas sedang mengguyur, menemani saya berjalan menuju gapura stadion. Saya bergegas lantaran Estu, bukan nama sebenarnya dari seorang Aremania, menanti saya di warung seberang stadion. Tanpa tedeng aling-aling ia langsung mengajak saya angkat kaki dari Kanjuruhan. Saya ambil motor di parkiran, lalu kami cabut dari sana, berboncengan. Sekira pukul 23.

“Sedih, Mas,” ucap dia membuka pembicaraan. “Hati saya belum kuat untuk melangkah lagi.” Estu tak mau ikut ke area stadion untuk doa bersama, dia hanya panjatkan doa di bawah kanopi warung. “Saya masih tidak kuat, hati saya masih hancur melihat saudara-saudara saya meninggal begitu banyak. Hati saya remuk. Dua kali saya sempat menangis.”

Sulit bagi Estu untuk menginjakkan kaki di Kanjuruhan, baginya peristiwa 1 Oktober itu sangat kelam. Saya tanya, jika seluruh pertandingan tak ditunda lagi dan situasi sudah normal bagi Arema dan Aremania, apakah dia bakal ke stadion itu? Estu bilang, “Tidak. Saya tidak akan kembali ke Kanjuruhan.”

Dia tak mau berjingkrak-jingkrak lantaran dulur-dulurnya banyak yang meregang nyawa. Bahkan ia tak masalah jika Aremania lain tetap mau mendukung tim kesayangannya di Kanjuruhan. Bagi Estu dukungan bukan sekadar menyemangati langsung Arema, menabuh snare drum, melantangkan yel-yel di stadion. Estu pun mengenang seorang rekannya, Iksan, bukan nama sebenarnya, kala sore itu mereka nongkrong sebelum pertandingan. Temannya itu jadi salah satu korban.

Estu pun menginginkan agar aparat penegak hukum bisa mengusut tuntas perkara ini; jika tidak tuntas, ia berserah kepada Allah, baginya pasti ada keadilan bagi para pelaku. Trauma yang dirasakan oleh pemuda jelang kepala tiga itu adalah valid. Dirinya menjadi saksi bagaimana Aremania kocar-kacir karena polisi seenaknya menembakkan gas air mata, tubuhnya menjadi saksi empat arek yang berhasil ia selamatkan.

Kecintaan Estu terhadap Ongis Nade akan terus ada, meski menyaksikan dari layar kaca. “Aku wong Malang. Tanpa sepak bola, aku tetap Arema.”

Saya kembali teringat lagu Endank Soekamti itu, yang terdengar lantang di pengeras suara perempatan Stadsklok Kajoetangan. Setelah rasa kehilangan, sudah sepantasnya terbit harapan. []

Baca juga artikel terkait KANJURUHAN atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Adi Renaldi

DarkLight