22 Juli 1963

Orang Inggris Jadi "Sultan": Sejarah Dinasti Raja Putih di Sarawak

James Brooke. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 22 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Bermodal kapal Royalist yang dibeli dari uang warisan ayahnya, James Brooke menjadi awal kekuatan penting dinasti Brooke di Sarawak.
Calon Letnan James Brooke, personel tentara Bengali yang masih muda itu, harus dirawat di Inggris dan tak bisa bertempur melawan orang-orang Burma pada 1825. Itu kali kedua dia ke Inggris. Yang pertama adalah saat dia harus sekolah selama sekitar 4 tahun di sana, di usia 12 tahun. Pada kesempatan kedua, dia tinggal di tanah moyangnya hingga 1830.

Tanah yang dipijak dan air yang diminumnya setelah lahir ke dunia adalah Banares, India. Itu karena ayahnya, Thomas Brooke—yang berdarah Inggris—adalah pegawai tinggi di East India Company (EIC) di sana. Menurut Nigel Barley dalam bukunya White Rajah: A Biography of Sir James Brooke (2013), dia adalah anak kelima Thomas dan istrinya, Anna Maria. Orang tuanya berlatar keluarga birokrat Inggris.

Awal Maret 1830, dia berlayar kembali ke negeri kelahirannya. Setelah berbulan-bulan melaut, dia pun mendarat di India. Pangkatnya saat itu sudah letnan. Dia sempat ikut pelayaran EIC ke Tiongkok dan Asia Tenggara di mana dia belajar menjadi pedagang EIC, meski tak berhasil.

“Setelah kembali ke Inggris dan ayahnya meninggal (1933) dia keluar Tentara Bengali, mencoba peruntungan dalam maskapai penting di Kepulauan India,” tulis buku Adventures of Sir J. Brooke, Rajah of Sarawak (1853) yang disusun George Foggo.

Di tahun itu, dia sudah punya kapal tipe sekunar yang dinamai Royalist. Kapal tiang tiang layar itu berbobot 142. “Dia beli dan dapatkan kapal itu di Inggris untuk pelayaran ke Timur Jauh (Asia) dengan warisan 30 ribu poundsterling dari ayahnya, Thomas Brooke, pada Desember 1835,” tulis Kee Hui Ong dalam Footprints in Sarawak: 1914 to 1963 (1998).

Ketika kapal berlayar ke Timur Jauh untuk mencari peruntungan, di tahun 1838, usia James sudah 35 tahun. Kapal itu akhirnya berlabuh di Sarawak, Kalimantan Utara—yang kini jadi wilayah Malaysia.

Menurut buku Iban Pegai Rajah Brooke yang disusun Nalong Anak Buda dan Johnny Anak Chuat, “Raja Brooke datang di Sarawak pada 15 Agustus 1839 dengan kapal sekunar Royalist dari Singapura [….] di Sarawak (Kuching) dia bertemu Raja Muda Hashim...” Kala itu, Sarawak bagian dari Kesultanan Brunei.

Di sana, menurut buku Adventures of Sir J. Brooke, Rajah of Sarawak, sang letnan menjadi penyedia barang-barang Inggris bagi raja. Dari Sarawak, kapal Royalist direstui untuk mengangkut hasil hutan Kalimantan. Raja Muda Hashim yang masih famili dengan Sultan Brunei itu juga minta disediakan senjata dan juga serdadu. Termasuk 14 serdadu laut Jawa.

“Brooke kembali ke Singapura terlebih dahulu dan sempat berlayar ke Sulawesi sebelum ada panggilan lagi di Sarawak pada tahun 1840. Pemberontakan masih bertahan dan kali ini Raja Muda Hashim butuh bantuan Brooke,” tulis Graham Saunders dalam A History of Brunei (2013). Ketika keadaan memburuk di Sarawak, Raja Muda Hashim sedang berada di Brunei Darussalam, terlibat dalam intrik keraton Kesultanan Brunei.

Di Sarawak, rupanya bangsawan Melayu sedang tidak akur dengan orang-orang Dayak ketika Brooke dan rombongan Royalist tiba. Perseteruan orang-orang Dayak dengan Kesultanan Brunei itu menjadi berkah bagi James Brooke. Kapal yang dibeli dengan uang warisan ayahnya itu bisa memuat banyak senjata dan barang dagangan lain yang dibutuhkan kekuatan-kekuatan politik di Sarawak.

Sebagai pedagang yang terkoneksi dengan EIC dan Kerajaan Inggris, James punya kru yang terdiri dari serdadu-serdadu bersenjata api, selain pelaut di kapal. Jika James Brooke butuh tambahan pasukan untuk perang, selama langkah menguntungkan EIC Inggris, ia tentu akan diberi bantuan.

Pemberontakan orang-orang Dayak terhadap bangsawan Melayu Brunei yang berlangsung sejak 1836 itu dengan mudah diakhiri Brooke. Dia lebih menekankan negosiasi. Tuntasnya pemberontakan orang-orang Dayak itu membuat Sultan Brunei menghadiahi Brooke tanah di Sarawak seluas 7 ribu mil persegi.

Dengan tanah yang dimilikinya, Brooke sang petualang itu pada 24 September 1941 mengaku diri sebagai Gubernur sekaligus Raja Sarawak. Agustus tahun berikutnya, dia diakui Sultan Brunei sebagai raja. Orang-orang Dayak pun menjadi sekutu pentingnya.



Menurut Masri Sareb Putra dalam bukunya Dayak Djongkang: From Headhunter to Catholics Studi dan Pendekatan Semiotika, James Brooke yang memerintah negeri berpenduduk mayoritas Dayak itu gemar menjual etnis Dayak ke luar negeri.

Ketika berkuasa menjadi raja bule di Sarawak, Kerajaan Inggris merestui dirinya. Tak ada kekuatan kolonial di Asia yang mengusiknya. Begitu juga raja-raja lokal di Kalimantan lain. Raja yang membuat Dayak terkenal ini, menurut Masri, adalah raja yang "mahir menggunting dalam lipatan." Dia membantu Sultan Brunei menumpas pemberontak Dayak Bidayah yang melawan Sultan Brunei, tapi kemudian ia mempreteli kekuasaan sang sultan.

Brooke menjadi raja hingga kematiannya di tahun 1868 setelah berkuasa lebih dari seperempat abad. Karena ia tak pernah menikah dan tak jelas anak-anaknya, terpaksa takhta Sarawak beralih ke keponakannya: Charles Anthony Johnson Brooke (1829-1917). Sebelumnya, James menggadang-gadang keponakannya yang lain, John Brooke, yang sempat Raja Muda Sarawak (1859-1863), tapi yang menjadi penerusnya adalah Brooke yang pertama.

Jika pamannya dikenal sebagai James of Sarawak, Charles kemudian sohor sebagai Charles of Sarawak. ak seperti pamannya yang lahir di India, Charles lahir di Inggris. Begitu juga anak-anak Charles seperti Charles Vyner Brooke dan Bertram Brooke yang jadi Raja dan Raja Muda Sarawak. Charles berkuasa cukup lama, hingga meninggal dunia 17 Mei 1917 di Inggris, yakni sekitar 48,5 tahun.

Charles of Sarawak lalu digantikan Charles Vyner Brooke yang berkuasa hingga 1 Juli 1946—setelah bala serdadu Jepang angkat kaki dari Sarawak. Dia berkuasa tak selama ayahnya, hanya 29 tahun saja. Tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, Sarawak diduduki Jepang sehingga ia dan keluarganya dia menetap di Sidney ketika perang dunia II berkecamuk.

Charles Vyner Brooke baru kembali pada 15 April 1946. Pada 1 Juli 1946 dia menyerahkan Sarawak pada Kerajaan Inggris. Setelah itu, tak ada lagi dinasti Raja Putih yang bertakhta hampir 105 tahun di sana. Sarawak akhirnya secara resmi diberi kemerdekaan oleh Inggris pada 22 Juli 1963, tepat hari ini 57 tahun lalu.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 2 Juni 2017 dengan judul "Dinasti Raja Bule di Sarawak, Kalimantan". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait KOLONIALISME atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight