tirto.id - Sebelum Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan SUV-SUV bongsor lain, menjajah jalanan Indonesia, ada SUV Amerika yang pernah cukup populer pada dekade 1990-an. Namanya Opel Blazer. Masa jayanya tidak panjang, dengan akhir cerita yang bisa dibilang menyedihkan. Akan tetapi, kisah perjalanan unik itulah yang membuat Blazer justru bisa dikenang dan diceritakan kembali.
Kisah Opel Blazer tidak bisa dilepaskan dari kiprah perusahaan induknya, General Motors, yang merupakan pionir industri otomotif di Nusantara. Pada Mei 1927, perusahaan bernama NV General Motors Java Handel Maatschappij membuka pabrik perakitan di Tanjung Priok, Pelabuhan Batavia (kini Jakarta). Setahun kemudian, ribuan unit Chevrolet sudah dipasarkan ke berbagai wilayah Hindia Belanda, Singapura, Malaya, hingga Siam (kini Thailand).
Namun, GM terpaksa angkat kaki ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada Maret 1942. Pabrik GM diambil alih dan operasionalnya dihentikan. Perusahaan asal AS itu baru kembali ke Indonesia pasca-Perang Dunia II, dengan membuka cabang di Jakarta dan mengoperasikan kembali pabrik perakitannya. Hasilnya adalah kemunculan sejumlah seri Chevrolet yang sempat lekat di hati masyarakat Indonesia pasca-Kemerdekaan, seperti Impala, Bel Air, Corvette, dan Nova.
Akan tetapi, lagi-lagi, kejayaan itu tidak bertahan lama. Memasuki dekade 1960-an dan 1970-an, gempuran merek-merek Jepang, seperti Toyota, Nissan, dan Mitsubishi, mulai menggerus dominasi mobil AS. GM pun perlahan menghilang dari pasar.
Meski begitu, jejak GM di Indonesia tidak sepenuhnya hilang. Pada 1976, Probosutedjo, adik tiri Presiden Suharto, mendirikan PT Garmak Motor Ltd sebagai agen tunggal pemegang merek dan perakit Chevrolet di Indonesia. Perusahaan ini sempat menjual 1.000 unit per bulan pada 1980, tetapi terus merosot hingga di bawah 200 unit per bulan karena pemasarannya dinilai tidak cukup kuat.
Pada 1993, GM mengambil alih 60 persen saham Garmak Motor, kemudian mendirikan PT General Motors Buana Indonesia (GMBI). Mereka juga membangun pabrik baru di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat pada 1995. Comeback itu membutuhkan produk yang bisa langsung mencuri perhatian pasar. Produk itu adalah Blazer.
Untuk memahami alasan Blazer begitu disambut, kita perlu memahami konteks pasar kendaraan Indonesia saat itu. Di awal 1990-an, jalanan Indonesia dipenuhi oleh jip-jip kompak, seperti Daihatsu Taft, Daihatsu Feroza, Daihatsu Rocky, dan Suzuki Katana. Kendaraan tersebut dicintai karena ukurannya ringkas, daya tahannya luar biasa, dan tampilannya keren. Akan tetapi di sisi lain, mereka juga bising, suspensinya keras, kabinnya sempit, dan mesinnya kecil.
Blazer, bersama Nissan Terrano dan Jeep Cherokee, menawarkan hal berbeda. Bukan jip kompak, bukan sedan, melainkan kendaraan dengan ground clearance tinggi, bodi besar, mesin bertenaga, dan kabin nyaman. Inilah embrio SUV modern di Indonesia.
Opel Blazer resmi diperkenalkan di Indonesia pada 1996 oleh GMBI. GM sengaja menggunakan merek Opel, anak perusahaannya dari Jerman, alih-alih Chevrolet. Alasannya masuk akal secara bisnis: nama Opel sudah cukup dikenal di Indonesia berkat varian-varian sedan, seperti Opel Optima, Opel Vectra, Opel Rekord, dan Opel Kadett.
Chevrolet, di sisi lain, terakhir kali populer di Indonesia sebelum tahun 1955. Di era 1980-an mereka hanya hadir lewat model-model rebadge dari Isuzu, seperti Trooper yang dijual dengan nama Chevrolet. Meski nama Opel lebih identik dengan sedan, GM berjudi bahwa ekuitas merek Opel lebih kuat untuk mendongkrak penjualan SUV baru.
Taruhan itu, setidaknya di awal, terbayar. Blazer dengan mesin bensin 4 silinder 2.200 cc langsung mendapat sambutan hangat. Saat diluncurkan pertama kali, Opel Blazer dibanderol Rp72 juta on the road DKI Jakarta, lebih murah dari Nissan Terrano yang sudah hadir setahun sebelumnya dengan harga Rp80 juta. Keunggulan lainnya, Blazer sudah menggunakan sistem injeksi bahan bakar, teknologi yang belum dimiliki semua pesaingnya saat itu.
Blazer yang masuk ke Indonesia sebenarnya merupakan versi unik, tidak akan ditemukan di tempat lain di dunia.
Blazer yang dijual di Amerika Utara menggunakan mesin V6 Vortec 4.300 cc, sementara di Indonesia mesinnya menggunakan 4 silinder 2.200 cc. Itulah yang membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara yang menjual Blazer bermesin 4 silinder. Keputusan itu didorong oleh sistem perpajakan Indonesia yang kurang ramah terhadap kendaraan bermesin besar. Mesinnya pun bukan buatan Chevrolet, melainkan dari Holden, dengan pilihan konfigurasi DOHC 16 katup dan SOHC 8 katup.
Itu berarti, Blazer merupakan mobil gado-gado tiga negara: merek Jerman, desain Amerika, mesin Australia.

Sayangnya, masa kejayaan Opel Blazer berlangsung singkat, terutama sejak krisis moneter Asia merembet ke Indonesia. Rupiah terjun bebas.
Karena sebagian besar komponen Blazer masih diimpor dan pembeliannya menggunakan dolar AS, harga melonjak tajam dan daya beli masyarakat anjlok. Penjualan Blazer, yang sempat mencapai 3.500 unit pada 1997, menyusut drastis menjadi hanya 640 unit pada 2001.
GM mencoba menyelamatkan situasi dengan meluncurkan varian Opel Blazer Montera versi lebih terjangkau, untuk bersaing dengan Toyota Kijang Kapsul dan Isuzu Panther. Akan tetapi, upaya itu tidak membuahkan hasil memuaskan. Penjualan tetap lesu.
Pada 2002, GM menanggalkan nama Opel, lalu menggantinya dengan Chevrolet, seiring perubahan strategi merek GM secara global untuk mengutamakan Chevrolet di Asia Tenggara. Bersamaan dengan itu, hadir pula facelift terbaru berbasis model yang dikembangkan di Brasil, yang kemudian dikenal dengan julukan "Blazer Samba".
Hasilnya? Setali tiga uang dengan Montera. Media-media otomotif nasional kala itu banyak mengulas Blazer Samba secara negatif. Ditambah, kekuatan merek Chevrolet di Indonesia secara umum lemah, bahkan jika dibanding dengan merek Jerman sekalipun. Akhirnya, penjualan Chevrolet Blazer disetop pada 2005.
Meski sempat berusaha bertahan selama bertahun-tahun, termasuk dengan mobil Trailblazer yang diimpor dari Thailand, GM akhirnya menyerah juga. Mereka mengumumkan penghentian penjualan Chevrolet di Indonesia terhitung sejak 1 April 2020. Praktis, kiprah GM di Indonesia pun berakhir.
Di tengah semua kisah naik-turun itu, Opel Blazer tetap tercatat sebagai produk terbaik GM dalam kiprahnya di Indonesia modern.
Bukan mobil sempurna, memang. Bobot bodi Blazer yang mencapai 2,2 ton membuat mesin 2.200 cc-nya terasa kurang bertenaga. Putaran bawah terasa lamban, terutama untuk stop-and-go di kota. Di kecepatan 100 km/jam, mesin sudah berputar hingga 3.500 RPM. Tidak heran bila cukup banyak pemilik Blazer yang kemudian mengganti mesin bensin bawaannya dengan mesin diesel Isuzu Panther tipe 4JA1 2.500 cc. Itu terbukti lebih cocok secara karakter torsi untuk bobot kendaraan berat.
Selain itu, Blazer adalah "sobat Pertamina" karena dianggap boros. Namun, klaim tersebut perlu dikaji ulang. Sebab, menurut data Karaboto, konsumsi BBM Blazer di dalam kota berkisar 7–8 km per liter, sedangkan di luar kota bisa mencapai 9–10 km per liter. Bahkan, ada yang mengklaim konsumsinya lebih unggul dari Toyota Kijang Kapsul dan Nissan Terrano karena sudah menggunakan sistem injeksi. Bukan angka luar biasa, tapi juga tidak seburuk reputasinya.
Pada akhirnya, kisah Opel Blazer adalah cerminan dari perjalanan General Motors di Indonesia secara keseluruhan. Penuh potensi, sempat bersinar terang, lalu padam terlalu cepat karena berbagai keputusan bisnis yang keliru dan ketidakmampuan membaca selera pasar lokal. Tapi setidaknya, untuk sesaat di pertengahan tahun 1990-an, Si Kebo, begitu para penggemar menamainya, pernah menjadi simbol kegagahan di jalan-jalan Indonesia.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































