Menuju konten utama

OJK Wanti-wanti LJK Monitoring Dampak Konflik di Timur Tengah

LJK diminta terus memantau dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendongkrak inflasi global dan mempengaruhi stabilitas sektor keuangan.

OJK Wanti-wanti LJK Monitoring Dampak Konflik di Timur Tengah
Konferensi pers RDKB, di Jakarta, Selasa (3/3/2026). tirto.id/Nanda Aria Putra

tirto.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta lembaga jasa keuangan (LJK) untuk terus memonitoring dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendongkrak inflasi global dan mempengaruhi stabilitas sektor keuangan nasional.

Penjabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, mengatakan bahwa konflik yang melibatkan jalur strategis Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena dapat mengganggu pasokan energi dunia.

Ia mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah memiliki tiga saluran transmisi yang perlu dicermati. Pertama adalah kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global.

"Melalui pemberitaan kita bisa melihat bagaimana penutupan Selat Hormuz ini kalau terjadi berkepanjangan tentu saja ini juga berisiko karena 30 persen supply minyak dunia itu lewat situ, kemudian LNG juga cukup signifikan, sehingga kita antisipasi dampak rambatannya di kita terkait dengan harga minyak ini," kata Frederika dalam konferensi pers RDKB, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Kenaikan harga minyak dunia, menurut Frederika, akan mendorong peningkatan inflasi global. Kondisi ini pada gilirannya akan mempengaruhi kbijakan bank sentral di berbagai negara terkait suku bunga, serta berpotensi menyebabkan pengetatan likuiditas di pasar keuangan global.

"Tentu saja ini akan meningkatkan inflasi global yang juga akan berpengaruh pada kebijakan bank sentral terkait dengan suku bunga. Kita juga harus melihat bagaimana dampaknya terhadap pengetatan likuiditas di pasar keuangan global, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, dan lain-lain," jelasnya.

Saluran transmisi ketiga adalah peningkatan ketidakpastian yang mendorong flight to quality atau perpindahan modal ke instrumen safe haven. Dalam situasi ini, negara berkembang seperti Indonesia dituntut untuk menunjukkan daya tarik agar tetap kompetitif di mata investor asing.

"Dalam situasi saat ini, kita melihat bagaimana pasar negara berkembang seperti Indonesia dituntut untuk menunjukkan fundamental dan likuiditas yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel supaya tetap kompetitif dan menarik untuk aliran modal asing," ucapnya.

OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) disebut telah menyiapkan serangkaian instrumen kebijakan yang dapat diaktivasi apabila terjadi fluktuasi pasar yang tidak diharapkan. Selain itu, OJK juga mendorong lembaga jasa keuangan untuk terus memperkuat manajemen risiko di tengah ketidakpastian global.

"Kami juga meminta lembaga jasa keuangan untuk terus melakukan monitoring dinamika global termasuk potensi dampaknya, serta terutama juga memperkuat manajemen risiko dan melakukan stress testing di berbagai skenario," imbuhnya.

Friderica menambahkan bahwa koordinasi antar lembaga dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menghadapi dinamika global. OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan terus melakukan sinergi dan koordinasi erat terutama di tengah situasi geopolitik yang masih berkembang.

"Kita juga lakukan kerjasama dan sinergi yang sangat baik di antara forum KSSK, OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan LPS untuk terus melakukan koordinasi erat terutama di saat-saat seperti ini," tuturnya.

Baca juga artikel terkait OJK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana