tirto.id - Langkah reporter Tirto terhenti tepat di depan garis polisi yang membentang di Los C2 Lapak Buah Pasar Induk Kramat Jati. Area itu luluh lantak akibat kebakaran hebat yang melanda pasar tersebut pada Senin (15/12/2025). Sisa-sisa rangka kios menghitam, sementara bau gosong masih kuat menyergap indera penciuman.
Syahdan, seorang pria paruh baya menghampiri dari balik garis pembatas itu.
“Lapak saya berjualan ada di situ. Kalau mau masuk, ikut saya ke dalam,” ujarnya sambil melangkah pelan.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Ngatono (48). Sejak 1980-an, dia menggantungkan hidup dari berjualan pisang di Pasar Induk Kramat Jati. Kini, di tengah reruntuhan bangunan dan puing-puing yang berserakan, Ngatono hanya bisa menceritakan nasibnya yang kehilangan sumber penghidupan.
“Namanya nasib mau gimana lagi. Itu tempat saya berjualan habis semua,” katanya lirih seraya menunjuk bekas kiosnya di Los C2 Lapak Buah.
Kepada Tirto, Ngatono memperlihatkan tumpukan pisang miliknya yang sekilas masih tampak utuh, tapi seluruhnya telah gosong terpanggang si jago merah. Tepat sebelum kebakaran, pisang-pisang tersebut sejatinya siap didistribusikan ke para pelanggan.
Manakala peristiwa nahas itu terjadi, Ngatono baru saja memasukkan stok pisang dari seorang pemasok. Dia bahkan tak sempat menyelamatkan uang tunai senilai Rp8 juta yang sedianya akan digunakan untuk membayar pasokan tersebut. Dompet dan telepon genggamnya pun ikut tertinggal, tak terselamatkan ketika api menyambar kios-kios dengan cepat.
“Uang saya Rp8 juta cash mau di buat bayar pisang hangus semua,” ujarnya.

Ngatono menduga kebakaran dipicu oleh korsleting listrik yang berasal dari salah satu tempat istirahat pedagang. Api yang muncul kemudian membesar dengan cepat, menyambar tas dan karbit—bahan yang mudah terbakar dan biasa digunakan untuk mematangkan pisang.
Kobaran api lalu menjalar ke plastik-plastik di sekitar lapak, sebelum akhirnya melalap hampir seluruh kios di Los C2.
“Ini pusat awal kebakarannya di sini, tempat tidur teman saya. Korsleting listrik,” ujarnya sambil menunjuk titik awal api.
Kebakaran pada Senin pagi (15/12/2025) itu menghanguskan sebanyak 350 kios di Pasar Induk Kramat Jati. Api dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 07.15 WIB dan dengan cepat menghanguskan ratusan kios di kawasan Los Buah Blok C2.
Sekitar 121 pedagang terdampak kebakaran itu. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 6.196 meter persegi, menjadikannya salah satu kebakaran terbesar yang pernah terjadi di kawasan pasar induk tersebut.
Nombok Ratusan Juta
Masih di lokasi kebakaran, Tirto juga bertemu Kamdi (54), pedagang pepaya yang turut menjadi korban kebakaran Pasar Induk Kramat Jati. Berbeda dengan Ngatono yang berada di lokasi saat kejadian, Kamdi justru tengah berada di rumah ketika api melalap Los C2.
Jarak rumahnya ke pasar biasa ditempuh sekitar 30 menit. Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIB, Kamdi menerima telepon dari seorang kerabat yang mengabarkan bahwa Los C2 terbakar. Kamdi segera bergegas menuju pasar. Namun, ketika tiba sekitar pukul 07.20 WIB, kobaran api sudah membesar dan nyaris tak bisa dikendalikan.
“Sudah enggak bisa ditanggulangi,” katanya.
Kamdi mengaku menanggung kerugian besar akibat kebakaran tersebut. Dia memperkirakan perputaran uang di kiosnya bisa mencapai ratusan juta rupiah per hari. Kini, aktivitas dagang terhenti total.
“Ya seperti ini, kita jadi nganggur semuanya,” ujarnya.
Kamdi menuturkan potensi kerugian juga mengintai banyak pedagang lain. Pasalnya, sejumlah pedagang telah terikat kontrak dengan para petani. Mau tak mau, mereka tetap harus menampung dan membayar pasokan buah yang sudah disepakati, meski barang-barang tersebut tak bisa dijual akibat aktivitas pasar yang lumpuh.
Terkait perputaran uang yang tinggi juga diamini oleh korban kebakaran lain yang ditemui Tirto. Pedagang buah lokal bernama Edi mengaku perputaran uang di kiosnya bisa mencapai sekitar Rp100 juta per hari. Kebakaran tersebut membuat aktivitas jual beli terhenti total. Meski begitu, pasokan buah dari daerah tetap berdatangan.
“Semalam masih ada pengiriman. Mau enggak mau saya terima karena sudah sampai sini, tapi enggak bisa dijual. Kalau penjualan perputaran itu sehari Rp100 juta,” katanya.
Akibatnya, Edi yang sudah berjualan sejak tahun 1980-an harus menanggung kerugian harian yang nilainya tak kecil. Dia menyebut kondisi ini memaksanya nombok sekitar Rp100 juta per hari, setidaknya sampai ada kepastian lokasi penampungan atau relokasi.
Untuk sementara, Edi menghentikan aktivitas di pasar dan mencoba mengalihkan distribusi ke depo lain. Namun, makin lama penanganan dilakukan, makin besar pula beban yang harus dia tanggung. Dampaknya bukan hanya dirasakan pedagang, tetapi juga menjalar ke konsumen dan toko-toko yang selama ini bergantung pada pasokan dari Pasar Induk Kramat Jati.
“Konsumen dan toko-toko yang beli ke saya juga jadi terganggu pasokannya,” ujarnya.

Tingginya perputaran uang di Pasar Induk Kramat Jati juga diakui oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Pramono menyoroti peran strategis Pasar Induk Kramat Jati sebagai sentra distribusi buah di Jakarta.
Dia menyebut perputaran transaksi di pasar tersebut dapat mencapai ratusan juta per hari sehingga keberlangsungan aktivitas perdagangan harus segera dipulihkan. Berdasarkan hasil perhitungan sementara, dia memperkirakan total kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai Rp10 miliar.
“Dari hasil perhitungan, diperkirakan kerugian kebakaran mencapai Rp10 miliar,” ujar Pramono saat meninjau lokasi kebakaran, Selasa.
Berharap Cepat Direnovasi hingga Akses Pinjaman Modal
Ngatono, Kamdi, dan Edi memiliki harapan yang sama: lokasi tempat mereka berjualan segera direnovasi sehingga roda perekonomian dapat kembali berputar. Bagi para pedagang, waktu menjadi faktor krusial. Makin lama proses perbaikan berjalan, makin besar kerugian yang harus mereka tanggung.
“Karena semakin lama enggak direnovasi, semakin besar nomboknya,” ujar Edi.
Selain percepatan renovasi, Kamdi berharap pemerintah segera menyediakan penampungan sementara bagi para pedagang terdampak. Relokasi sementara dinilai penting agar aktivitas jual beli tetap dapat berjalan sembari menunggu proses renovasi atau revitalisasi kawasan Los C2 yang terbakar.
Kamdi juga menaruh harapan pada akses pembiayaan untuk memulai kembali usahanya. Dia berencana mengajukan pinjaman modal ke Bank Jakarta, meski berharap persyaratan dapat dipermudah bagi para korban kebakaran.
“Berniat pinjam Rp500 juta, semoga bisa dipermudah,” katanya.
Pemprov Jakarta Targetkan Renovasi Rampung dalam Lima Hari
Pemprov Jakarta menargetkan proses renovasi Pasar Induk Kramat Jati yang terdampak kebakaran dapat diselesaikan paling lama lima hari. Target tersebut disampaikan Gubernur Pramono Anung saat meninjau langsung lokasi kebakaran di Jakarta Timur, Selasa (16/12/2025).
“Penanganan ini saya minta dilakukan cepat. Maksimal lima hari harus selesai agar tidak mengganggu suplai dan pengadaan komoditas, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Saya yakin semuanya bisa tertangani dengan baik,” ujarnya pada Selasa.
Gubernur menambahkan bangunan Pasar Induk Kramat Jati yang berada di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya, telah diasuransikan. Dengan demikian, proses renovasi dapat dilakukan melalui mekanisme asuransi sehingga lebih cepat dan terukur.
“Seperti yang disampaikan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, kawasan ini diasuransikan. Renovasi selanjutnya akan ditangani melalui mekanisme asuransi,” jelasnya.
Untuk menjaga kelangsungan aktivitas ekonomi para pedagang, Pemprov Jakarta juga menyiapkan lokasi penampungan sementara yang berjarak sekitar 100 meter dari area pasar yang terdampak kebakaran.

Santunan untuk Pedagan Terdampak
Pemprov Jakarta juga memberikan bantuan sebesar Rp5 juta kepada total 121 pedagang yang terdampak kebakaran di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bantuan tersebut diberikan untuk membantu keberlangsungan usaha para pedagang hingga pasar kembali beroperasi secara normal.
Pramono mengatakan bantuan itu diharapkan dapat membantu pedagang bertahan selama masa pemulihan pascakebakaran.
"Kami memberikan bantuan kepada pedagang, 121 pedagang. Rp5 juta setiap pedagang supaya mereka bisa tetap bertahan untuk lima hari inilah," ujar Pramono di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (16/12/2025).
Untuk mendukung pemulihan usaha pedagang, Pemprov Jakarta menghadirkan Bank Jakarta guna memberikan kemudahan akses pembiayaan.
"Para pedagang meminta kemudahan kredit, bahkan ada yang mengajukan hingga Rp500 juta. Saya yakin Bank Jakarta akan memenuhi karena ini pedagang dengan omzet yang jelas dan klien yang loyal,” ujarnya.
Terkait upaya pencegahan ke depan, Pramono menegaskan pentingnya penguatan aspek keselamatan dalam proses renovasi pasar. Dia menekankan perbaikan sistem kelistrikan untuk mencegah korsleting yang diduga menjadi penyebab kebakaran, serta penambahan fasilitas keselamatan berupa hidran kebakaran.
"Dalam renovasi nanti, saya minta aspek pencegahan korsleting listrik diperbaiki dengan lebih baik. Untuk hidran kebakaran, akan dilakukan penambahan karena memang dibutuhkan di kawasan ini,” ujarnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























