Menuju konten utama

Ngobrol Bareng Kip Berman dari The Pains of Being Pure at Heart

Kip berkisah tentang bagaimana kancah musik di New York, seperti apa dunia yang berubah selepas punya anak, dan apa gitar favoritnya.

Ngobrol Bareng Kip Berman dari The Pains of Being Pure at Heart
Kip Berman dari The Pains of Being Pure at Heart. Foto/ thepainsofbeingpureatheart.com
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada sesuatu yang berbeda dari The Pains of Being Pure at Heart (ditulis sebagai The Pains di artikel ini) ketika pertama kali aku mendengarnya pada medio 2009. Lagu-lagu dari album perdana mereka, mulai “A Teenager in Love”, “Stay Alive”, hingga “Everything With You”,ketika itu beredar di nyaris semua pusat kebudayaan hipster yang terjangkit demam indie/twee pop, termasuk di Jember, sebuah kota skala menengah di Jawa Timur, tempat aku menjalani hidup dari 1987 hingga 2011.

Secara estetika musikal dan pilihan sound, aku awalnya menyangka mereka adalah rooster Sarah Records atau minimal satu geng. Ternyata dugaan itu meleset. Cukup kaget juga ketika tahu kalau mereka dibentuk di New York, kota yang, tak sampai satu dekade sebelum The Pains muncul, menghasilkan guncangan kultural yang kelak dilabeli sebagai post-punk revival slash indie rock revival slash garage rock revival.

The Pains kupikir mengambil jarak yang cukup jauh dari gerombolan The Strokes, Yeah Yeah Yeahs, LCD Soundsystem, Interpol, atau gerombolan band rock New York 2000-an lain yang bisa kamu tahu namanya dari Meet Me in the Bathroom-nya Lizzy Goodman.

Mereka terdengar manis, mengisahkan keresahan yang terasa lebih personal dan dekat dengan kehidupan sehari-hari (“Gentle Sounds”, entah kenapa, bikin saya merasa seperti mendengarkan Springsteen). No rockstar bravado. Hanya cerita mereka-mereka yang menjalani 24 jam dengan rutinitas yang mungkin terasa membosankan

Tapi ini tentu saja bisa dimaklumi. Karena, seperti kata Mark Twain, masalah kota New York adalah ia terlalu besar. “Kalau kamu punya enam urusan,” keluhnya, “kamu harus sedia waktu enam hari.” Dalam konteks musik, ini tentu saja membawa berkah. Di tengah bising dan kelakuan rockstar yang kerap bikin rungsing, kota ini tetap menyediakan ruang tumbuh bagi musik-musik The Pains.

Dua windu sejak aku pertama mendengar The Pains, Joyland Festival, salah satu festival musik terbaik di dunia, dengan baik hati memberiku kesempatan mewawancarai Kip Berman, pendiri The Pains.

Jujur, aku sempat bingung mau bertanya apa. The Pains memang sempat masuk ke daftar lagu yang diputar rutin, sebelum akhirnya perlahan jarang dimainkan dan semakin jarang lagi hingga akhirnya jadi seperti terabaikan ketika aku memasuki fase-fase berikut dalam hidup. Kisahku ini tentu tak berbeda dengan jutaan orang lain, yang mungkin secara alamiah tak lagi mendengarkan banyak musik yang pernah mengisi ceruk hidup mereka di usia 20-an.

Karenanya, aku berusaha menggali lagi perasaan-perasaan dan kegiatan yang kulakukan di fase awal usia 20-an. Foto-foto yang kutaruh di Facebook, juga artefak tulisan di blog, berhasil memunculkan pendar ingatan, meski di sana-sini berkabut. Itu masa yang penuh warna, periode yang bikin yakin bahwa hidup harus dijalani penuh seluruh, sembari melempar semua kekhawatiran ke tengah laut.

Ada romansa, patah hati, juga keresahan-keresahan eksistensial yang mungkin kalau diingat sekarang cuma bisa bikin nyengir sembari membatin: apaan sih?! Dan di sela-sela semua kesibukan dan kehebohan sendiri itu, The Pains ada dan menyelinap di antara semua lagu yang kusedot dari Multiply dan rimba internet itu.

Dari basis sisa-sisa afeksi dan aneka emosi dari usia 20-an itu, saya mengirim beberapa pertanyaan pada Kip via surel. Berikut percakapannya.

Kip, kamu lahir dan besar di Philadelphia, lalu pindah ke Portland, dan kemudian ke New York. Bagaimana proses adaptasimu saat pertama kali datang ke NY, dan seberapa berbeda skena musik di NY, Philly, dan Portland?

Wah, itu pertanyaan bagus! Ya, ketika aku tumbuh besar, Philly tidak benar-benar punya skena seni atau musik yang berkembang—atau kalaupun ada, aku nggak sadar. Kebanyakan hanya ada band punk dan hardcore yang main di konser all ages (pertunjukan untuk semua umur).

Jadi itu jenis konser yang aku datangi, di rubanah atau balai komunitas dan semacamnya. Saat aku pindah ke Portland, aku menemukan dunia lain, di mana pertunjukan all ages masih punya semangat punk dan hardcore. Tapi orang-orang memainkan musik pop lembut yang terinspirasi dari era 60-an. Magic Marker Records, label yang markasnya ada di satu rumah sekitar lima blok dari kampusku, sering bikin konser rumahan. Di sana aku bisa nonton band lokal seperti Dear Nora dan Kissing Book, atau band yang lagi tur seperti The Lucksmiths dan Mates of State—dan banyak lagi. Rasanya kayak nonton konser punk rock, tapi musiknya adalah pop dengan gitar yang catchy. Aku jatuh cinta dengan dunia itu.

Tapi ketika aku tiba di New York, gelombang pertama band rock NYC (Strokes, Yeah Yeah Yeahs, Interpol, TV on the Radio) sudah tidak lagi diomongin di kancah musik bawah tanah. Malahan kayak ada sesuatu yang baru lagu terjadi, sesuatu yang mirip dengan musik indiepop underground yang aku cintai di Portland. Musik-musik yang gak terlalu peduli dan gak berambisi jadi rockstar.

Drummernya biasanyacuma pakai floor tom dan snare, vokal penuh reverb, dan banyak noise serta feedback. Aku suka band-band seperti Crystal Stilts, Vivian Girls, My Teenage Stride, dan The Drums. Mereka semua bagus dengan caranya sendiri (dan jujur, buatku, Crystal Stilts itu band PALING keren. Bayangin kamu pergi ke pesta paling keren dan hip, ya mereka itu yang bakal main.

Di Indonesia, banyak orang pertama kali mendengar The Pains dari album pertama kalian yang rilis tahun 2009. Menurutku, album ini seperti produk era keemasan skena NY—seperti yang kubaca di buku Lizzy Goodman. Bagaimana kamu menggambarkan skena NY waktu itu?

Ketika kami mulai aktif di 2007–2008, dunia yang digambarkan Lizzy Goodman itu sebenarnya sudah berakhir (aku baca bukunya, manajer kami dulu, Asif Ahmed, dikutip di sana—dia lucu banget, dan bukunya BAGUS BANGET!). Ada sesuatu yang sangat rock n roll di kancah musik New York awal 2000-an ( aku penggemar The Strokes dan Yeah Yeah Yeahs), dan aku juga sangat suka skena itu. Tapi apa yang terjadi pada kami, The Drums, Vivian Girls, Crystal Stilts, Beach Fossils, Frankie Rose, dll, akarnya tidak sebesar itu. Kami bukan jenis band skala stadion.

Kami Lebih intim, lebih personal. Kami sering main di tempat bernama Cake Shop di basement, atau loft, dan gudang yang gak punya izin. Eh, tapi ini bukan berarti kami tidak mencoba menjadi “bagus”, ya. Kami tetap ingin menulis lagu terbaik, tapi tujuannya lebih untuk bikin teman-teman kami terkesan, atau ya untuk kami sendiri. Aku hanya ingin menulis lagu yang dianggap keren oleh teman-teman bandku.

Melihat skena New York hari ini, bagaimana menurutmu perkembangannya? Apakah kamu masih melihat semangat itu, atau sudah berubah total?

Mungkin aku bukan orang yang tepat untuk ditanya soal ini, karena aku bukan lagi anak 20-an yang merasa keren. Tapi aku selalu yakin akan ada orang-orang yang melakukan hal keren, bikin tempat baru untuk konser, dan membuat musik bareng teman-temannya. Venue dan bar yang aku tahu dan suka sudah tidak ada, tapi aku yakin hal-hal baru bermunculan. Jadi ya, 100% aku percaya semangat yang dulu kami lakukan masih ada, hanya bentuknya berbeda, suaranya berbeda, tempatnya berbeda. Aku pikir manusia tidak akan pernah berhenti ingin nongkrong bareng teman, bikin pesta, main musik, dan coba bikin sesuatu yang sebenernya gak mereka banget.

Ketika kamu melihat kembali album debutmu sekarang, 16 tahun kemudian, memori atau perasaan apa yang muncul? Apakah kamu masih merasa dekat dengan cerita yang kamu tulis waktu itu?

Aku ingat dulu merasa album itu nggak cukup bagus ketika dirilis—karena aku sudah menulis banyak lagu untuk Belong, dan aku sempat bilang ke Peggy (Wang, keyboardist dan vokal), “...kayaknya kita nggak usah rilis album ini, kita rekam saja lagu-lagu baru dan jadiin lagu-lagu itu album pertama kita.” Aku bersyukur gak menuruti kecemasan konyol itu, soalnya bisa jadi ketakutan dan kecemasan itu menggagalkan semuanya.

Banyak fans masih sukaaa banget nostalgia dan romansa era indie awal 2010-an. Apa perasaanmu melihat generasi sekarang menemukan musik kalian lewat streaming dan TikTok?

Kip: Awww, itu sangat mengejutkan! Kami merasa terhormat mengetahui anak-anak muda mendengar musik kami, sekaligus bersyukur karena mereka tidak berpikir kalau musik kami itu jelek, hahaha! Menyadari ada orang-orang baru yang mengenal kami sekarang dan merasa musik kami relevan dengan hidup mereka itu rasanya manis sekali.

Dalam banyak hal, band-band yang menginspirasi kami juga berasal dari era yang tidak kami alami. Kami tidak ada di Glasgow tahun 1989 bersama The Pastels, atau menonton Teenage Fanclub atau The Vaselines. Bahkan band-band keren 90-an seperti Rocketship, Black Tambourine, dan Aislers Set sudah tidak aktif ketika kami tahu mereka lewat kompilasi CD lama, mixtape, atau internet. Jadi yang menyatukan kami dengan generasi sekarang adalah keterbukaan untuk mengadopsi budaya dari era lampau, dan menjadikannya milik sendiri. Lucu juga karena sekarang kami jadi band dari “era lampau” itu.

Aku pernah baca wawancaramu ketika menjelaskan alasan TPoBPaH bubar. Kamu bilang, “aku tidak lagi merasakan hal yang sama—dan musik yang kubuat tidak terasa sama juga.” Bisa ceritakan apa yang membuatmu merasa begitu? Maksudku, kamu jelas mencintai musik. Bagaimana rasanya saat sesuatu yang sebelumnya kamu cintai tidak lagi membawa kebahagiaan?

PAINS adalah tentang masa hidup ketika kami semua tinggal di New York, keluar tiap malam, dan menghadapi suka-duka menjadi anak muda dan mencari arah hidup. Jadi ketika putriku lahir, hari-hariku dihabiskan mendorong stroller, menghadiri sesi cerita bayi di perpustakaan, membaca Madeline dan Jamberry, atau menyanyikan lagu anak seperti “Baby Beluga” dan “Bananaphone”.

Fokusku sepenuhnya ada pada hal lain, hal yang lebih penting dari apa yang dulu jadi pusat semesta hidupku, dan karenanya menyanyikan lagu-lagu lama itu terasa seperti gak nyetrum lagi.

Tapi aku tidak pernah berhenti menulis lagu. Hanya saja ketika aku menulis lagu, hasilnya sangat berbeda, dan jelas aku harus merilisnya dengan cara berbeda. Aku senang PAINS sudah menjadi band selama 10 tahun, merilis 4 album, tidak ada drama benci-bencian, dan kami sudah melakukan jauh lebih banyak daripada yang kami impikan—lebih dari banyak band yang kami kagumi. Jadi rasanya sepenuhnya wajar untuk berkata, “Wow,perjalanan kami cukup keren.”

Dan ketika aku menulis lagu baru yang membuatku bersemangat, lagu-lagu ini terdengar sangat berbeda, sehingga rasanya gak masuk akal untuk merilisnya sebagai materi The Pains. Kalau kamu mendengar dua albumku sebagai The Natvral, bakal terdengar jelas kalau itu memang karya yang beda jalur.

Dengan segala kisah hidup yang barusan kamu bilang, bisa gak kamu ceritakan bagaimana prosesnya sampai kamu memutuskan membentuk The Pains lagi?

Aku bukan tipe pemikir taktis dan strategis. Jadi ada orang yang mengontak kami dan dia nanya apakah kami mau main di beberapa konser, dan rasanya kok itu terdengar keren. Jadi kami bilang iya. Tapi aku kemudian sadar, aku masih mencintai Kurt, Peggy, Christoph, dan Alex—rasanya menyenangkan berada bersama mereka, membuat lagu lagi. Dan pola pikirku bahwa aku harus “menjalani” hidup seperti di lagu The Pains agar musiknya tetap terasa jujur, itu ternyata salah. Aku cukup bareng temen-temenku, dan musiknya bakal tetap terasa tulus.

Jika The Pains membuat musik baru di 2025, kira-kira bakal terdengar seperti apa? Masih dreamy atau sesuatu yang benar-benar baru?

Setiap hal yang kami buat selalu berbeda, setidaknya untuk album-album kami. Jadi kalau kami membuat musik baru, suaranya akan… berbeda—tapi tetap terdengar seperti kami. Aku membayangkan chord yang sederhana tapi terasa megah, lirik yang tidak rumit, tetap berisik, bernyanyi tentang perasaan kami… mungkin seperti “power pop PAINS”. Aku suka menulis lagu… jadi siapa tahu, kan?

Apakah kamu punya review musik atau artikel favorit tentang The Pains?

Wah, pertanyaan bagus. Ada banyak ulasan baik tentang kami (dan banyak yang kurang baik juga), tapi aku berhenti membacanya karena itu bikin kondisi mental jadi buruk untuk menulis musik. Kalau kamu terlalu mikirin gimana karyamu akan diterima —oleh fans atau kritikus—itu bisa memengaruhi apa yang kamu buat. Ada seniman yang suka banget masuk ke drama debat dengan kritikus. Aku nggak kayak gitu. Menulis tentang musik itu penting dan bisa jadi bentuk seni yang keren. Dan lagu-lagu terbaik kami itu lahir ketika aku menulis apa yang kurasakan saat tiu, sebebas mungkin dan gak mikirin apa orang lain dengerin atau enggak. Sejak 2019, aku bikin musik pakai nama The Natvral, dan belum dapat perhatian yang gimana-gimana. Mungkin nanti, lah, ya.

Tapi menurutku, aku menulis beberapa lagu terbaikku ya di masa sekarang ini. Mungkin karena alasan tadi itu. Ketika kamu gak punya pendengar atau gak ada ekspektasi orang lain, kamu benar-benar bikin lagu yang kamu suka untuk kamu sendiri. Bukan elitis atau sok, ya. Tapi perasaan kayak gini itu bikin aku mikir kalau kayaknya cuma aku yang bakal denger lagu ini. Jadi aku mau bikin yang menurutku keren.

Boleh ceritakan bagaimana hidupmu sekarang dan bagaimana itu mengubahmu sebagai penulis lagu?

Kip: Aku tinggal bersama istriku dan dua anak kami di kota universitas kecil di New Jersey. Aku harus nyetir sekitar satu setengah jam setiap kali kami latihan di studio di Brooklyn, yang kami patungan dengan beberapa band lain. Saat gak main musik, aku kerja di PAUD, bawa gitar dan nyanyi buat anak-anak, dari bayi sampai usia 5 tahun, dan aku juga guru pengganti di SMA setempat.

Aku rasa lagu yang kutulis sekarang masih sangat spontan—penuh perasaan dan ketidaksempurnaan manusia. Musikku sebagai The Natvral memang “terdengar” berbeda, tapi kalau didengarkan secara seksama, banyak keintiman dan perasaan yang sama. Neil Young dan Edwyn Collins memang orang yang berbeda, tapi aku suka mereka karena alasan yang sama: suara yang aneh, rasa manusiawi yang kuat, dan kejujuran yang tidak pretensius.

Kalau kamu punya kesempatan membuat dream band versi kamu, dengan kamu sebagai vokalis, siapa yang akan ada di dalamnya?

Kip: Wah, malah jangan aku yang jadi vokalisnya, hahaha. Hal yang kusuka dari berada dalam band adalah orang-orangnya—jadi aku mungkin akan bilang Christoph, Peggy, Alex, dan Kurt. Tapi jujur, banyak orang lain yang pernah terlibat di PAINS juga keren—Jacob, Eddy, Brian, Drew, Anton, Connor… Aku merasa beruntung orang-orang di PAINS keren, dan kurasa kami cukup lumayan mainin lagu-lagunya, lah.

Pertanyaan terakhir: Kamu beberapa kali main gitar yang berbeda. Dari semua gitar yang pernah kamu mainkan, mana yang merupakan favoritmu: Telecaster, Jaguar, Jazzmaster, atau Hagström?

Kip: Saranku yang paling penting: pilih gitar yang bisa bikin kamu merasa dan kelihatan keren. Kalau soal suara, ya gitar mah bakal mirip-mirip aja, hahaha. Aku beli Jaguar karena gitar itu bikin aku keliatan keren. Tapi ada terlalu banyak switch yang kadang gak sengaja bikin gitarnya mati pas lagi main (nggak ideal!). Hagström juga terlihat keren, tapi gitarku yang itu rusak saat syuting video “Belong:. Telecaster kayaknya jenis gitar yang cocok di segala suasana, jadi menurutku gitar itu yang terbaik buatku. Dan ya, bentuknya keren juga, hahaha.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Musik
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono