tirto.id - Hubungan AS dan Israel dikabarkan semakin memanas. Baru-baru ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel perlu mengurangi ketergantungan militernya terhadap Amerika Serikat dan membangun kemampuan produksi persenjataan secara mandiri.
Pada sebuah pertemuan dengan perwira cadangan di wilayah permukiman Gush Etzion di Tepi Barat, Netanyahu berkata selama ini Israel telah menerima dukungan militer dan teknologi yang sangat besar dari Amerika Serikat.
Namun, situasi geopolitik yang semakin kompleks, terutama konflik dengan Iran dan kelompok-kelompok proksi yang disebutnya sebagai ancaman, menuntut Israel untuk memiliki sistem produksi senjata sendiri yang lebih kuat dan independen.
“Tetapi hari ini saya katakan: Kita membutuhkan sistem produksi senjata independen kita sendiri. Kita harus memproduksi persenjataan kita sendiri,” kata Netanyahu dikutip The Times of Israel, Selasa (23/6/2026).
Ia juga menekankan bahwa kemandirian ini penting untuk menjamin kekuatan jangka panjang negara tersebut, termasuk dalam menghadapi potensi konflik di masa depan.
“Kita sekarang menghadapi Iran dan proksinya. Kita telah menyerang mereka dengan keras. Ini belum berakhir, tetapi itu tergantung pada kekuatan kita. Di mana kita akan berada dalam 30 tahun ke depan tergantung pada kekuatan kita,” lanjutnya.
Netanyahu juga menyoroti pentingnya investasi jangka panjang dalam teknologi militer dan pelatihan generasi komandan baru, karena menurutnya posisi strategis Israel di masa depan akan sangat ditentukan oleh kapasitas internal tersebut, bukan hanya oleh dukungan eksternal.
“Kita perlu membebaskan diri dari ketergantungan, terus membangun kekuatan yang lebih dan lebih, menggabungkan lebih dan lebih teknologi, dan melatih lebih dan lebih banyak generasi komandan seperti Anda — karena pada akhirnya, itulah yang akan menentukan posisi kita,” tegasnya.
Alasan Hubungan AS-Israel Dinilai Mulai Retak
Menurut The Times of Israel, alasan hubungan Israel dan AS semakin retak adalah ketika Israel merasa tidak dilibatkan dalam sejumlah proses diplomatik antara AS dan Iran, termasuk kesepakatan atau memorandum of understanding (MOU) yang dibahas tanpa partisipasi langsung Israel.
Kesepakatan tersebut mencakup upaya untuk mengakhiri konflik secara permanen serta mencegah dimulainya kembali perang, termasuk di berbagai front seperti Lebanon.
Hal ini menjadi sensitif bagi Israel karena negara tersebut masih terlibat dalam ketegangan militer dengan kelompok Hizbullah di Lebanon, yang menurut Israel didukung oleh Iran. Israel sendiri menolak untuk menarik pasukan dari wilayah tersebut selama ancaman dari kelompok itu masih dianggap ada.
Meskipun Amerika Serikat tetap menegaskan komitmennya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menyatakan bahwa kemungkinan eskalasi militer tetap terbuka jika Iran tidak memenuhi kesepakatan diplomatik yang sedang dinegosiasikan. Namun Iran, menurut Israel, tidak dapat menjamin hal itu.
Selain tidak dilibatkannya Israel dalam proses menuju kesepakatan damai di Timur Tengah, para menteri sayap kanan di pemerintahan, menyerukan Israel untuk mengabaikan MOU AS-Iran tersebut.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memberikan respons terhadap sejumlah menteri sayap kanan di Israel yang menyerukan agar pemerintah Israel mengabaikan Memorandum of Understanding (MOU) yang sedang dibahas dengan Amerika Serikat-Iran.
Dalam komentarnya, Vance menekankan pentingnya menjaga hubungan strategis antara Israel dan Amerika Serikat, terutama di tengah situasi geopolitik yang kompleks dan penuh ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia," tegas JD Vance.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























