Natal Duka di Nduga: Korban Sipil saat TNI-Polri Memburu TPNPB-OPM

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 21 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Warga menuding TNI-Polri membunuh empat warga sipil Papua di Nduga saat memburu TPNPB-OPM.
tirto.id - Presiden Joko Widodo menargetkan proyek Trans Papua tuntas pada akhir 2018. Namun, target itu tak tercapai, malah berbuah kado Natal dan tahun baru yang buruk bagi warga Nduga, Papua: Empat warga Papua tewas beberapa hari sebelum perayaan hari besar bagi mayoritas orang Papua tersebut.

Bagi Jokowi, Nduga adalah "wilayah merah" di pegunungan tengah Papua, kerap terjadi baku tembak antara TNI-Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Meski begitu, Jokowi memaksakan membentangkan aspal di sepanjang Papua, termasuk Nduga. Agar tetap aman, TNI dilibatkan atas dasar Pasal 3 ayat (1) Perpres Nomor 40/2013.

Pada 2017, TNI mengerahkan 394 personel Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) untuk proyek Trans Papua.

TPNPB-OPM menolak ada pembangunan Trans Papua. Mereka lalu melakukan penyerangan terhadap pekerja proyek pemerintah itu. Usai penyerangan, Jokowi mengerahkan TNI dan Polri untuk menyisir wilayah itu. Sekitar 169 personel gabungan TNI-Polri, ditambah 1 kompi (100 personel) dari Yonif 751/Sentani, diterjunkan ke daerah Nduga.

Berdasarkan keterangan polisi, pekerja Trans Papua dari PT Istaka Karya berjumlah 25 orang: 19 orang tewas, 4 orang selamat, dan 2 orang lagi belum diketahui nasibnya.


Untuk mencari pekerja yang belum ditemukan itu, Bupati Nduga Yarius Gwijangge membentuk tim evakuasi dan kemanusiaan pada Kamis pekan lalu (13/12). Selain Pemkab Nduga, tim itu terdiri dari pendeta, aktivis hak asasi manusia, DPRD Nduga, TNI, dan Polri. Hari itu mereka langsung menyisiri beberapa distrik di Nduga.

Nduga adalah wilayah yang minim akses dan belakangan sering diguyur hujan. Berdasarkan data BPS tahun 2011, luas Nduga 12.941 kilometer persegi—sekitar 19 kali luas DKI Jakarta, pusat bisnis dan politik Indonesia.


Tim Kemanusiaan Nduga Menemukan Korban Sipil Papua

Tim evakuasi itu ternyata tak menemukan karyawan PT Istaka Karya. Ketua DPRD Kabupaten Nduga Anthi Gwijangge menuturkan, ketika dia dan tim evakuasi sampai di Distrik Mbua, ada satu jenazah yang ditemukan di wilayah perkebunan.

“Besoknya ada pencarian lagi dapat satu mayat lagi. Itu semua masyarakat sipil asli Nduga,” kata Gwijangge melalui sambungan telepon kepada reporter Tirto, Rabu lalu (19/12).

Kedua jenazah itu adalah remaja usia 18 tahun, Mianus Lokbere dan Nison Umangge. Setelah disemayamkan di rumah keluarga, keduanya dimakamkan bersebelahan.

Di sekitar dua jenazah itu, warga mengumpulkan beberapa granat tangan dan granat lontar buatan PT Pindad, pabrik senjata buatan Indonesia yang memasok peralatan tempur bagian TNI dan Polri.

Kemudian di Distrik Dal, tim evakuasi bertemu dengan Kaluke Gwijangge. Kaluke menjelaskan bahwa suaminya, Yarion Pokneangge (58 tahun) meninggal karena serangan jantung.

“Itu tidak tembus peluru cuma ada aparat lewat. Ada bunyi tembakan, helikopter, segala macam. Dia sakit di rumah, kaget, lalu mati,” ujar Anthi Gwijangge.


Ketika tim bergeser ke Distrik Mbulmu Yalma, mereka menemui Mentus Nimiangge, 28 tahun. Berdasarkan penuturan Theo Hesenggem, Direktur Yayasan keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, yang juga anggota tim evakuasi, peluru tajam menembus tubuh Nimiangge dari leher sebelah kanan hingga punggung bagian kiri.

Anthi Gwijangge menjelaskan, saat itu Nimiangge masih hidup. Tim evakuasi bergegas meminta bantuan TNI dan Polri untuk mendatangkan helikopter, harus segera dibawa ke rumah sakit.

“TNI-Polri bilang tidak bisa. Padahal besoknya kami keluar dari daerah itu, helikopternya dua-duanya masuk,” ujarnya. Nimiangge meninggal pada Sabtu (15/12).

Saat hendak ke distrik lain di wilayah Nduga, tim evakuasi berunding dengan TNI-Polri. Mereka meminta TNI-Polri tak ikut melanjutkan proses pencarian korban.

“Biar kami sendiri pergi dan kami akan mencari. Kalau TNI-Polri ikut kami ke sana, nanti ada kontak senjata antara TPN-OPM dengan TNI-Polri. Sehingga nanti kami yang kena sasaran. Jadi biar kasih tinggal kami sendiri,” terangnya.

Namun, TNI-Polri menolak. Tim evakuasi termasuk Theo Hesenggem geram. Akhirnya, mereka kembali ke Wamena, pusat kota lama di pegunungan tengah Papua, menghentikan pencarian.

“Kami bukan gagal mencari [korban] tapi kami digagalkan oleh anggota [TNI-Polri],” keluh Hesenggem melalui sambungan telepon kepada reporter Tirto, Kamis kemarin (20/12).


Korban Sipil Dibunuh TNI-Polri?

Aktivis HAM internasional Theo Hesenggem menuding TNI yang membunuh empat warga sipil di Nduga. Hal itu berdasarkan hasil temuan tim evakuasi di lapangan.

“Warga mengatakan, pembunuh orang yang ditemukan waktu pencarian itu anggota [TNI-Polri], menggunakan dua helikopter dan menembak warga dari atas. Itu helikopter tentara. Dari helikopter itu melakukan tembakan bertubi-tubi di mana masyarakat berada,” ujarnya.

Menurut warga, lanjut Hesenggem, mereka melihat granat tangan dan granat lontar yang dilemparkan di beberapa tempat. Granat itu meledak di udara lalu mengeluarkan asap tebal dan bau menyengat.

“Menurut masyarakat sekitar, itu heli menggunakan senjata melakukan tembakan dari udara bertubi-tubi. Itu penyerangan yang dilakukan pada 4 Desember,” tuturnya. Tanggal itu adalah dua hari sebagai serangan balasan setelah penembakan terhadap para pekerja Trans Papua.


Hal senada disampaikan politikus Partai Golkar Anthi Gwijangge, yang menuding TNI-Polri yang membunuh warga sipil di Nduga.

“TNI-Polri masuk di tempat ini pakai helikopter dan jalan kaki untuk penyisiran. Hingga mungkin warga takut, lari. Mungkin TNI-Polri berpikir ini mungkin TPN-OPM yang lari kah? Mereka tembak itu [dengan] jarak jauh,” kata Gwijangge.

“Jelas-jelas dibunuh TNI-Polri, bukan TPN-OPM,” imbuhnya.

Ia mengatakan warga sipil di Nduga tidak terbiasa mendengar suara tembakan dan helikopter. Maka, sebagian besar warga masih mengungsi ke wilayah hutan sampai sekarang.


Infografik HL Indepth Operasi Nduga Papua
Infografik: Korban Warga Sipil di Nduga, Papua

TNI: Korban warga Sipil di Nduga adalah 'Ekses'

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel (Inf) Muhammad Aidi mengaku mendapatkan laporan dari anggotanya. Hal itu terkait kemungkinan ada korban ketika kontak senjata dengan TPNPB-OPM.

“Kami tidak bisa pastikan apakah benar murni masyarakat karena kalau KKSB itu tidak punya NRP [nomor registrasi pokok] seperti TNI. Siapa saja bisa menjadi KKSB. Tidak bisa dideteksi,” kata Aidi melalui sambungan telepon kepada reporter Tirto, Kamis (20/12). KKSB adalah akronim kelompok kriminal separatisme bersenjata, sebutan otoritas Indonesia untuk TPNPB-OPM.

“Nyatanya kalau memang ditemukan korban meninggal, ya itulah ekses dari suatu konflik,” imbuhnya.

Saat ditanya, jika benar anggotanya salah sasaran dan mengakibatkan warga sipil menjadi korban, apakah akan memprosesnya secara hukum, Aidi mengklaim anggotanya menembak sasaran yang tepat.

“Posisi kami diserang. Kalau ada terjadi korban akibat kejadian itu, ya anda bisa simpulkan korbannya karena apa?” lanjutnya. “Kalau kami diserang dengan panah, batu, atau tombak, apakah kami harus diam?”


Aidi menjelaskan, di Nduga, anggotanya menggunakan amunisi granat tangan dan granat lontar. Salah satu fungsinya untuk membentuk tirai agar helikopter bisa mendarat tanpa diserang.

“Kalau kami sudah berhadapan dengan musuh pasti membunuh. Kan berhadapan dengan musuh. Kalau granat asap itu tirai. Itu senjata standar infanteri, senjata ringan,” terangnya.

Seluruh anggotanya menggunakan peluru tajam. Tak ada peluru karet maupun peluru hampa.

“Kami tidak mau konyol, kami tentara,” ucapnya.

Selain itu, perlengkapan udara dalam operasi TNI di Nduga: Helikopter BELL 412EP, pesawat militer C-130 Hercules, dan pesawat CN235. Menurut Aidi, semuanya bukan untuk menyerang tapi sarana transportasi dan angkutan barang.


Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengaku timnya sudah melakukan investigasi soal warga Nduga yang meninggal. Namun, hasil temuannya berbeda dari tim evakuasi yang dibentuk Pemkab Nduga.

“Ada tiga jenazah yang kami temukan,” kata Kamal melalui sambungan telepon kepada reporter Tirto, Kamis (20/12). Dia tak menganggap Yarion Pokneangge menjadi salah satu sipil yang menjadi korban, seperti temuan tim evakuasi.

Soal dugaan pelaku adalah anggota Polri, Kamal menjawab, “Kami belum bahas narasi itu secara utuh. Yang pasti kami tidak menggunakan bom dalam rangka evakuasi korban.”

Kamal menegaskan tak ada temuan selongsong granat tangan dan lontar di sekitar jenazah korban sipil. Namun, dia mengaku beberapa warga melihat helikopter milik TNI mengudara di Distrik Mbua dan Distrik Dal.

“Personel gabungan TNI-Polri sampai saat ini masih melakukan pencarian terhadap empat korban karyawan PT Istaka Karya yang belum ditemukan dan melakukan pengejaran terhadap kelompok kriminal bersenjata dalam rangka penegakan hukum,” ujarnya.

Saat dimintai keterangan dan sikap negara terkait dugaan pembunuhan warga sipil di Nduga, Staf Khusus Kepresidenan Kelompok Kerja Papua Lenis Kogoya enggan menjawab. Dia mengaku belum mendapatkan informasi mengenai hal ini.

Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN DI NDUGA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan