Narkoba Paling Mahal dan Paling Legendaris

Oleh: Petrik Matanasi - 17 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Narkoba mahal ini, di masa lalu pernah digunakan para pesohor dunia. Obat ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Albert Hoffman melalui penelitian yang dimulainya sejak 16 November 1938.
tirto.id - Setiap generasi punya cara mabuk masing-masing. Rastafara punya ganja, kaum Asassin punya hashish dan generasi bunga punya lysergic acid diethylamide (LSD). Yang terakhir ini fenomenal di kalangan hippies dekade 1960-1970an. Narkoba termahal, menurut BNN. "Satu keping itu sekitar Rp250.000 sampai Rp 300.000," kata Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Besar Sumirat Dwiyanto.

Menurut BNN, efek psikologis yang ditimbulkan LSD cukup berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung pada banyak faktor seperti pengalaman sebelumnya, keadaan pikiran, lingkungan, serta kekuatan dosis. LSD juga punya efek jangka panjang psikoemosional. Beberapa pengguna mengutip pengalaman LSD sebagai penyebab perubahan signifikan dalam kepribadian dan perspektif hidup. Ia biasa dipakai untuk meditasi, bahkan untuk menulis.

LSD pernah menjadi bahan berita di Indonesia karena dianggap menjadi biang kerok kecelakaan maut yang menewaskan 4 orang di Pondok Indah pada 21 Januari 2015. Pelakunya adalah Christopher Daniel Sjarif yang mengaku memakai LSD hingga tak sadarkan diri, meski polisi tak menemukan barang buktinya. Menurut dr. Suharjono seperti dilaporkan Antara, LSD diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar 1990-an, ketika narkoba jenis ekstasi berjaya di kalangan pemakainya.

Asal-Usul LSD

Sejarah LSD tak terlepas dari Albert Hoffman, sang penemu, yang merupakan ahli kimia. Sejak 16 November 1938, menurut J. Ott dalam jurnalnya yang berjudul "LSD Ganz Personlich" (1969), Albert memulai mensintesis racikan yang belakangan dikenal sebagai LSD. Ketika itu dia sedang meneliti lysergic acid. Hoffman berharap racikannya itu membantu merangsang pernafasan. Lima tahun kemudian, apa yang dimulainya ternyata punya efek memabukkan.

Hoffman merasakan sensasi luar biasa setelah menelannya sedikit. Hanya 0,25 mikrogram saja pada 16 April 1943. Dia segera pusing dan tak sampai satu jam setelah menelan LSD dia mengalami halusinasi. Rasa cemas muncul disertai pusing-pusing. Hoffman berbaring dan tenggelam dalam mabuk yang tidak menyenangkan, dan pikirannya dikuasai khayalan. Selama dua jam, dia merasa seperti bermimpi. Dengan mata tertutup, dia merasakan siang benderang yang mencolok. Muncul juga keinginan untuk tertawa.


INFOGRAFIK LSD


Ternyata obat ini dianggap baik untuk mengatasi gangguan kejiwaan dan kemudian dipasarkan sebagai obat oleh Sandoz, tempat Hoffman bekerja. Tapi penyalahgunaan muncul pada 1950-an, saat LSD dijadikan obat mabuk oleh mereka yang tidak mengalami gangguan jiwa. Obat ini kemudian terkenal di pertengahan 1960-an. Menurut Deputi Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN), dr. Diah Setia Utami, awalnya LSD disintesis pada 1940-an untuk penderita gangguan jiwa, tetapi setelah tahun 1960-an sudah tidak digunakan lagi.

Dalam John Lennon: A Biography yang ditulis Jacqueline Edmondson, John dan kawan-kawan The Beatles mulai memakai LSD pada pertengahan dekade 1960-an di New York. Konon, LSD menginspirasi John Lennon menulis lagu "Lucy in the Sky with Diamonds" yang terdapat dalam album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band.

Jimi Hendrix sang dewa gitar juga pernah menggunakan LSD pada akhir 1966, ketika dirinya bertemu dengan Linda Keith. Hal itu diungkap oleh Brad Schreiber dan Steven Roby dalam Becoming Jimi Hendrix: From Southern Crossroads to Psychedelic London, the Untold Story of a Musical Genius (2010).

Setelah 1967, menurut Charles Cross dalam Room Full of Mirrors: A Biography of Jimi Hendrix (2005), selama tur manggung di beberapa kota, Hendrix juga menikmati ganja, hashish, dan amfetamin. Banyak yang percaya LSD dan obat terlarang lainnya memengaruhi permainan gitar Jimi Hendrix yang selalu dikenal dalam sejarah musik rock.

Bicara penggunaan LSD di Pink Floyd, mau tidak mau kita harus bicara soal Syd Barret, sang pendiri dan penulis penting lagu-lagu Pink Floyd ketika band itu baru eksis. Dia juga suka bereksperimen dengan LSD. Meski Syd Barret dianggap berpengaruh di jagad musik rock psikedelik, namun masa produktifnya sebagai penulis lagu tidak lama. Bahkan sebagai musisi kemudian dia kacau di atas panggung.

Perilakunya pun akhirnya sering merepotkan band ketika manggung, hingga akhirnya David Gilmour ditarik ke band untuk menggantikan posisi Syd Barret sebagai gitaris. Dia pernah memainkan satu kord gitar saja sepanjang konser juga diam terpaku sepanjang pertunjukan.

Ketika memainkan lagu "Intersteller Overdrive," dia mengubah setelan gitarnya. Personel lain kalang kabut, namun penonton mengira itu bagian dari pertunjukan. Syd tak langsung didepak, tapi dipertahankan sebagai penulis lagu. Namun ia tidak seproduktif yang diinginkan dan akhirnya didepak selamanya.

Tak hanya para musikus, beberapa teknokrat sohor dunia macam Steve Jobs dan Bill Gates juga memakainya. Orang mengenal Jobs dengan produk Apple dan Gates dikenal dengan Microsoft. Kepada Bianca Bosker, Steve Jobs pernah mengatakan, "memakai LSD adalah sesuatu yang luar biasa, salah satu dari dua atau tiga keputusan terbaik yang pernah aku buat dalam hidup."

Jobs yang dikenal sebagai vegetarian dan tertarik dengan ajaran timur itu di masa mudanya menyukai meditasi. Gates mengaku LSD sangat membantunya menemukan ide-ide di awal-awal sejarah Microsoft berdiri. Di kalangan penulis, setidaknya ada Stephen King yang memakai LSD dan obat penghasil halusinasi lainnya pada dekade 1970-an. Ketika itu, dia baru saja memulai kariernya sebagai novelis.

Ilmuwan sekelas Karry Mullis juga memakainya ketika meneliti molekul DNA. Dia adalah penemu PCR yang diganjar hadiah Nobel. Francis Crick, penemu struktur heliks ganda DNA, juga merasa terbantu oleh LSD. Baginya LSD memberi inspirasi. Tapi Karry Mullis dan Francis Crick tentu bukan ilmuwan pertama yang memakainya. Peneliti pertama yang memakai LSD, tentu saja, siapa lagi kalau bukan penemunya: Albert Hoffman.

Baca juga artikel terkait NARKOBA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra