tirto.id - Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Anwar Makarim, mengungkit proses pengadaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang dilaksanakan di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy (2016-2019).
Nadiem membandingkan proses pengadaan perangkat digital di eranya sebagai menteri (2019-2024) dan di era Muhadjir yang menjabat sebelumnya.
Dia menyampaikan bahwa selama pengadaan Chromebook berlangsung sejak 2020-2022 yang menjadi tempus delicti waktu terjadinya tindak pidana dari dakwaan kasus tersebut, menurutnya secara anggaran lebih rendah dibandingkan pada 2019 saat Muhadjir masih menjabat sebagai Mendikbud.
Dia merincikan bahwa di 2019, Muhadjir menganggarkan pengadaan TIK sebesar Rp1,68 triliun dan Nadiem menyebut dirinya selalu menganggarkan lebih rendah dibandingkan nominal tersebut.
"Makanya saya menjelaskan dulu. Di tahun 2019, kan anggarannya Rp1,68 triliun. Kita lihat, lalu saya jadi menteri di tahun 2020. Anggarannya drop menjadi Rp763 miliar dari sebelumnya. Coba kita lihat 2021 turun lagi jadi Rp1,3 triliun, ini APBN ya. Masih lebih kecil lagi daripada Rp1,68 triliun. Dan untuk tahun 2022, yang mana menjadi tempus delicti daripada kasus ini berakhir Rp1,567 triliun. Masih dibawah tahun 2019, tahun terakhir Pak Muhadjir untuk digitalisasi pendidikan," kata Nadiem dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
Nadiem menjelaskan upaya membandingkan besaran anggaran pengadaan TIK itu sebagai bentuk bantahan bahwa atas sejumlah isu yang menyebut penganggaran Chromebook menyedot anggaran negara dengan jumlah yang fantastis.
"Ini sangat menarik buat saya, karena banyak sepertinya narasinya adalah program digitalisasi pendidikan ini baru dan tiba-tiba pengadaan yang besar," tegasnya.
Kemudian, Nadiem bertanya kepada Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud 2017-2022, Gogot Suharwoto mengenai kebijakan pengadaan 1,5 juta tablet di era Muhadjir.
Gogot mengatakan bahwa dia tak bisa memastikan besaran jumlah anggaran yang digunakan untuk pembelian tablet tersebut karena pelaksanaannya tidak dibawah Pustekkom yang dipimpinnya.
"Saya boleh tanya ini, ini program tablet apakah benar bahwa di tahun 2019 dibagikan 1,5 juta tablet ke sekolah, Pak?" tanya Nadiem ke Gogot.
"Beritanya seperti itu, kami enggak melihat anggarannya sama persis," jawab Gogot.
Nadiem kemudian bertanya mengenai perangkat lunak dasar atau OS yang digunakan seluruh tablet tersebut. Gogot kemudian menyebut bahwa 1,5 juta tablet tersebut menggunakan Android.
Mendengar jawaban tersebut, Nadiem kemudian mengklaim bahwa Android adalah produk serupa dengan Chromebook yang sama-sama diproduksi oleh Google.
"Kalau tablet Android pak," jawab Gogot.
"Android ya pak, kalau Android buatan siapa Pak?" tanya Nadiem.
"Kalau Android, Google Pak," jawab Gogot.
"Android Google, benar Pak. Jadi tabletnya macam-macam tapi operating system-nya android dibuat oleh Google. Sama seperti Chrome(book) merek laptopnya macam-macam tetapi operating system-nya dibuat oleh Google," ungkap Nadiem.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































