tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, optimis upaya yang kini sedang dilakukan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah akan mendorong nilai tukar rupiah menguat hingga ke posisi Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Karena itu, ia meminta para investor yang saat ini masih memegang valuta asing (valas) dalam denominasi dolar AS untuk menjual greenback tersebut.
"Kalau BI ditanya itu, BI nggak boleh ngomong. Kalau saya suka-suka. Saya... kalau saya bilang, pemain valas cepet-cepet jual lah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp15.000 per dolar AS," katanya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta Jogja Financial Festival 2026, dikutip akun YouTube Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Jumat (22/5/2026).
Optimisme itu bukan tanpa dasar, ia menyatakan saat ini ekonomi Indonesia masih dalam kondisi aman. Sehingga, tidak akan ada kemungkinan bahwa mata uang Garuda akan terjerembab terlalu dalam dan krisis keuangan 1998 akan kembali terulang.
"Kata pak presiden, kalau purbaya masih senyum, ekonomi aman. Ini masih senyum terus nih," guraunya sembari mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian ribuan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih beberapa waktu lalu.
Lebih penting dari itu, meski hingga kini rupiah masih terus terdepresiasi, namun Bank Indonesia dikatakan terus melakukan upaya penguatan. Pemerintah pun tidak tinggal diam, dengan intervensi di pasar obligasi untuk menurunkan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah, Purbaya berharap dapat memberi ruang lebih luas bagi rupiah untuk bernafas.
"Kita juga membantu nilai tukar dari sisi pemerintah. Saya masuk ke pasar obligasi supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi. Artinya, asing nggak akan terus keluar dari Indonesia karena rugi," tambahnya.
Meski baru dilakukan sepekan terakhir, upaya ini sudah membuahkan hasil, kendati tidak merinci, Purbaya mengklaim imbal hasil SBN sudah mengalami penurunan. Pada saat yang sama, investor asing juga mulai kembali ke Indonesia. Dari catatannya, setidaknya arus modal asing sudah masuk hampir Rp2 triliun sampai saat ini.
"Ini sudah berdampak. Jadi walaupun rupiah melemah, yield obligasi cenderung turun dalam satu minggu terakhir. Karena kita beli obligasi di pasar sekunder. Kalau kita lihat dampaknya signifikan juga, investor asing sudah masuk ke pasar sekunder kita, sudah masuk ke pasar primer. Jadi, kemungkin sudah hampir Rp2 triliun masuk situ," katanya bangga.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































