Menuju konten utama

Menjelajah Singapura: Dari Rumah Hantu hingga Akuarium Raksasa

Program blu Travel Week menghadirkan beragam promo menarik untuk para pelancong yang ingin menjelajahi Singapura dengan cara baru dan penuh kesan.

Menjelajah Singapura: Dari Rumah Hantu hingga Akuarium Raksasa
Menjelajah Singapura: Dari Rumah Hantu hingga Akuarium Raksasa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saya masih bisa mengingat dinginnya lorong itu. Lampu strobo menyala sebentar-padam sebentar. Ia seperti sengaja menyembunyikan sesuatu di antara jeda gelapnya. Dari kejauhan terdengar deru gergaji mesin, bercampur dengan jeritan samar. Berjalan dua langkah, sudah ada “zombie” tergeletak dan berusaha untuk kayang, sembari berteriak-teriak.

Kupikir, sebagai generasi yang tumbuh dengan film horor Suzanna (Malam 1 Suro bikin saya tak berani ke toilet sendirian selama beberapa hari) dan menghabiskan tiga tahun di SMP paling angker di sebuah kota kecil di Jawa Timur, wahana rumah hantu adalah kengerian artifisial. Buatan. Tak menyeramkan.

Oke, saya mengaku salah.

Body artikel Feature BLU

Menjelajah Singapura: Dari Rumah Hantu hingga Akuarium Raksasa. FOTO/dok.BCA Digital

Di sinilah saya, saling berpegangan tas dengan tiga orang kawan lain. Berusaha menguatkan satu sama lain sembari membaca ayat suci yang kami ingat sebisanya di tengah kepanikan.

Baru berjalan beberapa meter dari zombie kayang, bertemulah kami dengan sosok yang bikin dengkul lemas. Seorang nenek penjaja kudapan berwajah pucat, dengan rambut berantakan berjalan perlahan, lengkap pakai ketawa yang menggiriskan hati. Lalu tiba-tiba dia menerkam! Kamu bisa melihat wajahnya yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahmu, serta pelototan mata yang seolah menembus jantung.

Seorang teman yang memegang tasku, ngomong sembari setengah teriak.

“Aku keluar aja, ya?!”

Kami berusaha menguatkannya. Kami sebenarnya begitu bangga melihat kawan ini, yang sejak awal jujur: dia penakut dan tak bisa tahan dengan horor dan hantu. Tapi toh dia berani melawan ketakutan dan masuk bersama ke rumah hantu yang diilhami kisah kawasan paling menyeramkan di Singapura ini. Sayangnya, teror nenek terkutuk di awal ini memang bikin para pemberani pun jadi meleyot.

Yang sial, si nenek itu baru permulaan. Setelah itu, kami melewatkan lima menit terpanjang dalam hidup. Kakek tua berambut putih dengan kuku panjang. Pria berkutang yang telungkup di kasur lalu tiba-tiba bangun dan meraung. Penjaga lorong yang mati mengenaskan dan bangkit menuntut dendam dengan tiba-tiba keluar dan membuatmu melolong.

“Argh!”

Ada juga yang klasik di kisah horor Asia Tenggara: pocong. Saya berteriak ketika melihat mereka berjejer di depan lorong yang akan kami lalui. Argh, pasti sebentar lagi pocongnya akan bergerak! Suara teriakan-teriakan dari pelantang suara membuat kaki jadi tak punya tulang. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah lari sekencang-kencangnya, teriak sekerasnya, memaki sepuasnya.

Tahu gak apa yang kamu sadari di rumah hantu? Bahwa ketakutan itu menular. Ketika orang di depanmu berlari panik, secara otomatis kamu mengikutinya. Kamu mendadak jadi ketakutan juga. Ini yang terjadi pada kami: ketakutan dan histeria kolektif.

Dan ketika kami melihat cahaya di luar sana, ada rasa lega yang sukar tergambarkan. Kamu merasa seperti karakter dalam film-film Blumhouse yang berhasil bertahan hidup dan bisa memandang matahari sekali lagi.

Begitulah rasanya berjalan di salah satu rumah hantu Halloween Horror Nights 13 di Universal Studios Singapore. Setiap tahun, jelang Halloween, taman hiburan yang biasanya dipenuhi tawa dan kehangatan ini berubah jadi kawasan teror.

Ada lima wahana yang siap merobek jantungmu, masing-masing dengan tema sendiri, terinspirasi dari kisah seram, film horor, maupun serial menegangkan. Ada The Unruly Immortals, dari manhwa yang berkisah tentang pertemuan manusia dengan makhluk dari alam lain, lengkap dengan latar belakang rumah sakit jiwa, halusinasi, dan suster yang siap memotongmu.

Body artikel Feature BLU

Halloween Horror Nights 13 di Universal Studios Singapore. FOTO/dok.BCA Digital

Kemudian ada The Death Whisperer, yang diambil dari film horor Thailand berjudul sama. Kisahnya tentang desa Kanchanaburi medio 1972 yang mengalami kutukan. Di sini, kamu akan masuk ke rumah dengan tirai-tirai putih menggelantung, yang menyembunyikan kengerian di setiap sudut gelap, dan kamu harus berusaha keluar dari kelokan yang seperti tiada ujung.

Juga ada The Stranger Things, yang melempar kita ke Hawkins National Laboratory, untuk menghadapi Mind Flayer hingga Demodogs. Dan tentu saja ada Build to Horror, terinspirasi kisah kawasan berhantu di Singapura, sebuah wahana yang membuat kami mengumpat dan memaki kencang.

Ingin merasakan pengalaman yang sama? Siapkan nyalimu: Halloween Horror Nights 13 akan hadir di malam-malam tertentu dari 26 September hingga 1 November 2025.

Keluar dari wahana Build to Horror, kami bersimbah keringat. Napas Senin-Kamis. Setelah saling berkisah dengan nada tinggi bercampur adrenalin yang masih deras, kami ambil napas dalam-dalam. Masih ada beberapa wahana horor yang menunggu untuk dicoba. Malam masih panjang. Kami ingin sekali masuk ke The Death Whisperer dan membandingkan level keseraman hantu dan wahananya. Kami bertiga saling tatap.

“Gas?”

“Gas!”

Malam itu kami belajar: ketakutan memang menular, tapi begitu pula keberanian.

Yang Biasa Menjadi Luar Biasa di Singapura

Singapura memang unik. Negaranya hanya seluas 730-an kilometer persegi, tapi sejak puluhan tahun lalu menjadi jadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan salah satu negara terkaya di dunia.

Ini juga terjadi di sektor pariwisata. Tahun lalu, menurut data Singapore Tourism Board (STB), Singapura dikunjungi 16,5 juta wisatawan mancanegara (wisman), naik 21 persen dari 2023. Tahun ini, STB memproyeksikan akan ada sekitar 17 hingga 18 juta wisman yang datang ke negeri singa ini.

Sebagai salah satu negara yang sejak dulu jadi kawasan bisnis dan pariwisata, tak heran kalau ada banyak sekali yang bisa dikisahkan dari negara/kota yang dulu dikenal sebagai Tumasik ini. Mulai dari kuliner, tempat menarik, tetenger bersejarah, hingga berbagai atraksi dan wahana kelas dunia.

Namun Singapura seperti tak pernah kehabisan cerita. Ia menyediakan ruang lapang bagi yang klasik maupun kontemporer. Mereka memberi dukungan bagi kopitiam berusia seabad dengan aura monokrom, hingga mempromosikan toko cheesecake baru dengan interior ceria dan warna-warni. Di sini, gedung berusia ratusan tahun dirawat dengan apik, segala yang antik dan bersejarah mendapat posisi terhormat. Namun berjarak beberapa belas menit, segala hiburan modern dengan teknologi tercanggih juga jadi daya tarik tak terbantahkan.

Maka tak bisa tidak: yang biasa jadi luar biasa di Singapura.

Mungkin ini yang dinamakan Singapore Paradox: tempat yang sedemikian kecil, tapi memberi begitu banyak.

Dan paradoks ini berhasil memanggil saya untuk kesekian kalinya. Setelah beberapa kali ke Singapura untuk menonton konser dan mencicipi beberapa kuliner Michelin Guide, kali ini saya ingin mencoba hal baru: menjajal aneka wahana di Universal Studios Singapore.

Body artikel Feature BLU

Garuda x bluDebit Card beri keuntungan akses check in di jalur bisnis. FOTO/dok.BCA Digital

Dan di sinilah saya terkantuk-kantuk sampai di bandara Soekarno Hatta pada pukul tiga dini hari. Beruntung saya sudah melakukan persiapan beberapa waktu sebelumnya. Kartu Garuda x bluDebit Card saya memberi keuntungan berupa akses check in di jalur bisnis, sebuah hal “sederhana” yang terasa seperti kemewahan. Apalagi di pagi yang kurang tidur seperti ini. Tak perlu antre lama, tiba-tiba petugas sudah meminta kamu menunjukkan paspor dan tiket elektronik. Tahu-tahu bagasimu sudah masuk conveyor belt.

Layanan ini memang baru tersedia di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Ngurah Rai, tapi semoga saja layanan sepraktis dan semembantu ini bisa diperluas jangkauannya sehingga bisa tersedia di bandara-bandara lain. Tak ketinggalan, kartu debit Mastercard contactless ini memberi keuntungan berupa GarudaMiles yang bisa didapat tiap kita bertransaksi minimal Rp50 ribu.

Body artikel Feature BLU

Menabung sekaligus buat pos keuangan dengan bluSaving. FOTO/dok.BCA Digital

Sebagai pengguna blu sejak dua tahun lalu, aplikasi dari BCA Digital ini memang bikin hidup jadi lebih praktis. Salah satu yang paling berkesan adalah fitur bluSaving, yang saya pakai untuk menabung setiap bulan guna menonton salah satu festival musik terbesar di dunia. Mungkin kalau tak ada fitur ini, menabung akan terasa fana belaka, dan saya tak akan bisa menonton festival itu beberapa bulan silam.

Body artikel Feature BLU

Pembayaran sat set menggunakan blu. FOTO/dok.BCA Digital

Sampai di Singapura, blu menunjukkan tajinya sebagai alat pembayaran yang sat set. Setelah mendarat di Changi, saya langsung ke hotel untuk menaruh barang. Rasa lapar tak bisa menunggu. Maxwell Hawker Center jadi tujuan pertama. Dari hotel kami di kawasan Orchard, tinggal naik bus sekali. Dengan Garuda x bluDebit Card, naik bus jadi praktis. Tap. Bunyi. Lampu hijau. Selesai. Begitu pula ketika saya pergi menuju VivoCity Mall, pusat perbelanjaan yang jadi titik untuk naik monorel Sentosa Express menuju USS. Saya cukup melakukan tap di mesin tiket, beres.

Tulang Punggung Pariwisata Singapura

Jika bicara atraksi wisata, tak salah kalau beranggapan mercusuar pariwisata kelas dunia di Singapura berada di pesisir selatan Pulau Sentosa: Resorts World Sentosa (RWS). Sejak dibuka pada 2010, kompleks yang berada di lahan seluas 49 hektare ini telah berkembang menjadi tujuan wisata terintegrasi yang menghadirkan banyak kebahagiaan bagi semua usia.

Menariknya, sebagai raksasa wisata dunia, RWS tidak pernah merasa berpuas diri. Mereka ingin selalu berkembang dan terus membesar. Hal ini terbukti dari proyek senilai SGD6,8 miliar untuk dua atraksi andalan mereka: perluasan Universal Studios Singapore (USS), dan pembukaan kembali Singapore Oceanarium (sebelumnya S.E.A Aquarium).

Liburan di Singapura dan juga dua atraksi ini bisa kamu nikmati dengan lebih hemat berkat berbagai macam promo blu. Ada promo paket eksklusif SGD83 dari USS. Ada juga penawaran spesial ketika membeli paket Eksklusif VIP USS dengan menggunakan bluCard. Jangan lupa, ada pula voucher ritel senilai SGD15 yang bisa didapat dengan menunjukkan kartu debit fisik blu di Jewel Changi Airport, sampai diskon pemesanan hotel di Agoda hingga 8 persen.

Baik USS maupun Singapore Oceanarium, masuk dalam peta jalan pariwisata Singapura 2040 yang dicanangkan oleh Singapore Tourism Board. Mereka memperkirakan sektor ini bisa meraup hingga SGD50 miliar pada 2040 mendatang.

Nah, tahun 2025 jadi momentum penting bagi USS dengan dibukanya Minion Land, area baru hasil kolaborasi dengan Illumination, studio yang menciptakan Despicable Me dan Minions. Zona ini membawa pengunjung ke dunia penuh warna dan humor khas karakter kuning itu, dengan wahana utama Despicable Me Minion Mayhem yang menggunakan teknologi motion-simulator 3D.

“Pembukaan Minion Land di Universal Studios Singapore adalah momen membanggakan bagi Resort World Sentosa. Hal ini menunjukkan evolusi berkesinambungan kami sebagai tujuan wisata yang menarik di kancah global,” ujar Tan Hee Teck, Chief Executive Officer, RWS.

Menurut Tan, Minion Land akan menjadi salah satu atraksi wisata kunci di Singapura dan akan menjadi salah satu bagian dari berbagai atraksi dan wahana lebih apik bagi para pengunjung yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.

“Ini termasuk tempat makan signature yang baru, hotel butik mewah yang mengalami perombakan baru, peluncuran Singapore Oceanarium dan Research Learning Center, dan juga pengembangan pusat gaya hidup di tepi laut,” tambah Tan.

Tapi tenang saja. Meski USS selalu melakukan peningkatan di semua aspek, mereka tak lantas melupakan apa-apa yang membuat mereka besar dan dicintai. Wahana klasik seperti Revenge of the Mummy, Jurassic Park Rapids Adventure, hingga Transformers: The Ride - The Ultimate 3D Battle masih tetap jadi unggulan.

Saya sempat mencoba wahana Transformers: The Ride. Kereta yang saya naiki melaju cepat, meliuk-liuk menghindari alien dan robot antagonis ke balik gedung yang perlahan hancur. Kacamata yang saya pakai menghadirkan Decepticon yang mengejar dari balik gedung. Lengkap dengan pengalaman imersif yang menakjubkan: suara menggelegar yang mengelilingi kepala, hingga getaran yang mengguncang tubuh.

Beberapa langkah dari pintu keluar USS dan wahana horor tahunan Halloween Horror Nights, dunia berubah warna dan suasana begitu memasuki Singapore Oceanarium (SGO). Atmosfer berganti: dari sorak dan tawa di wahana USS, dan jerit ketakutan di Halloween Horror Night, menjadi bisikan lembut ombak dan cahaya biru yang menenangkan.

Diresmikan kembali pada 12 Juli 2025, SGO kini menjadi tiga kali lebih luas dari pendahulunya, dan menawarkan 22 zona imersif dengan lebih dari 100.000 spesies laut.

Namun daya tariknya bukan sekadar ukuran atau jumlah koleksi, melainkan kurasinya. Ia menghadirkan sebuah perjalanan tematik yang menelusuri hubungan manusia dengan laut, dari mitologi hingga sains. Itu semua dipadukan dengan pengalaman imersif hingga pengalaman digital interaktif. Lebih jauh, SGO juga akan menjadi pusat edukasi dan riset kelautan.

Body artikel Feature BLU

Singapore Oceanarium. FOTO/dok.BCA Digital

Di SGO, kita bisa menyaksikan bagaimana kehidupan di laut bermula beratus juta tahun silam, aneka spesies ikan hiu dan pari, belajar tentang ikan dan biota laut dalam, hingga merasakan tangan “dipijat” udang pelet (Lysmata amboinensis), spesies udang berukuran kecil yang dikenal sebagai pemakan parasit dan jaringan sel mati.

“Singapore Oceanarium menandai tapal penting dalam peta jalan pariwisata 2040 Singapura. Atraksi kelas dunia yang dihadirkan oleh Resort World Sentosa ini menegaskan komitmen kami untuk menciptakan pengalaman beragam dan unik, yang akan cocok bagi para pejalan yang mencari pengalaman inspiratif dan bermakna,” ujar Melissa Ow, Chief Executive, Singapore Tourism Board.

Apa yang dibilang oleh Melissa ini cukup bikin saya termenung.

Dulu saya beranggapan bahwa wisata di Singapura rasanya kurang menantang. Apalagi ketika masih muda dan pongah, saya dan banyak teman meyakini bahwa perjalanan yang inspiratif dan bermakna itu hendaknya dilakukan di the road not taken. Singapura yang modern jauh melampaui saudara-saudaranya di Asia Tenggara jelas bukan tujuan yang seperti itu.

Namun dewasa memang berarti harus mengakui: Singapura adalah negara yang komplit bagi wisatawan. Semua yang kamu cari, (nyaris) semua ada di sini. Yang diperlukan cuma keberanian untuk mengakui itu. Bahwa di negara yang seringkali dicemooh sebagai tempat membosankan, tersimpan banyak kisah yang menanti untuk ditemui.

Dan kalau kamu ingin menjelajahi Singapura dengan cara berbeda, sekarang adalah waktu yang tepat karena ada blu Travel Week hadir pada 20 hingga 31 Oktober 2025. Program andalan blu ini menghadirkan beragam promo menarik untuk para pelancong yang ingin menjelajahi Singapura dengan cara baru, berkenalan ulang dengan Singapura seperti yang saya alami.

Body artikel Feature BLU

blu Travel Week. FOTO/dok.BCA Digital

Di blu Travel Week, nikmati diskon tiket pesawat hingga Rp3 juta plus cashback Blibli Tiket Points hingga Rp2 juta di tiket.com, promo tiket Garuda Indonesia beserta promo miles, promo spesial di aneka merchant di Singapura, penawaran roaming dari provider pilihan, juga promo kebutuhan traveling dari marketplace pilihan. Nikmati juga berbagai promo dari ikon kuliner Negeri Singa seperti Garrett Popcorn, IRVINS, dan Godiva.

Pada akhirnya, Singapura, ternyata, bukan soal besar atau kecil, membosankan atau tidak. Ia tentang bagaimana kamu mau dan berani membuka diri, bahkan bagi tempat yang kamu kira sudah kamu kenal baik. Karena memang: yang biasa jadi luar biasa di Singapura.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis