Menimbang Musik Digital di Indonesia

Oleh: Nuran Wibisono - 23 Juli 2016
Dibaca Normal 5 menit
Potensi bisnis musik streaming sejatinya sangat menjanjikan. Namun, tidak banyak penyedia layanan musik digital yang bisa bertahan. Salah satunya Musikator yang akhirnya tutup karena pemasukan tak sebanding pengeluarannya.
tirto.id - Kabar duka itu datang pada 11 Maret 2016.

Musikator, sebuah lembaga music think tank, resmi menutup layanan digitalnya. Robin Malau, pendiri Musikator, menuliskan kabar lelayu itu di web resminya. Music aggregator adalah salah satu kanal bisnis musikator. Secara sederhana, music aggregator di sini dapat diartikan sebagai jembatan antara musisi yang ingin memasarkan karya digitalnya dengan penyedia jasa music streaming.

Dengan adanya layanan seperti ini, musisi tidak perlu lagi bingung ke mana harus memasarkan musik mereka secara digital. Nanti content aggregator ini yang akan mencari partner untuk memasarkan karya musiknya. Mereka pula yang akan mengatur kerja sama, tetek bengek administrasi, hingga royalti. Musikator bukan satu-satunya music aggregator di Indonesia. Ada IM:Port yang didirikan oleh Indra Lesmana, Anang Hermansyah, Abdee Negara, dan Triawan Munaf. Ada juga Gotong Royong Musik, maupun Mistral Musics.

Kenapa Musikator bisa tutup padahal ketika awal beroperasi amat menjanjikan? Sekitar 3 tahun sejak didirikan pada 2012, sudah ada 500 band yang menandatangani kontrak. Ada nama-nama besar di dunia musik independen. Seperti Pure Saturday, Burgerkill, Seringai, Mocca, The S.I.G.I.T, Puppen, Roxx, hingga Wonderbra. Musikator juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan streaming musik, seperti Nokia Music, Deezer, hingga Spotify.

Robin juga bukan tipikal petualang yang memulai perjalanan dengan ransel kosong. Sebagai gitaris band legendaris Puppen, dia sudah pasti makan banyak asam garam soal industri musik. Robin juga dikenal serius belajar soal manajemen. Bahkan dia mendapat gelar master di bidang manajemen dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Pengalamannya bekerja di beberapa perusahaan digital juga membuatnya sudah paham seluk beluk medan pertempuran. Tapi toh dia takluk juga dengan alasan klasik.

"Sebulan, saya bisa mengeluarkan uang 10 hingga 15 juta untuk operasi aggregator. Sementara penghasilan tidak pernah bisa lebih dari 500 ribu," tulis Robin dalam situs Musikator.

Di laman Facebook pribadinya, Robin sempat mengunggah gambar laporan keuangan dari sebuah perusahaan streaming musik yang memakai layanan Musikator. Dari gambar itu terlihat kalau pendengar lagu-lagu yang disediakan Musikator berasal dari banyak negara. Mulai Uni Emirat Arab, Argentina, Bolivia, Guatemala, bahkan Honduras. Tapi royalti dari semua artisnya hanya berkisar 8 Euro, atau sekitar Rp112 ribu per bulan. Itu pun masih harus dibagi: 60-70 persen untuk musisi, dan 30-40 persen untuk Musikator.

Robin mengakui bahwa bisnis ini akan merugi. Sebagai orang yang memang mencintai musik, dia menaruh harap. Prediksinya, Musikator akan bisa menjaring laba ketika konsumsi musik digital di Indonesia sudah mulai mapan.

"Sayang nafasnya sudah habis. Habis sebelum waktunya," tulisnya.

Digital di Dunia dan Indonesia

Kisah duka dari Musikator ini tentu kalah kencang dengan hingar bingar Indonesia dalam menyambut era musik digital. Setelah era musik fisik kerap disebut sudah berakhir, maka harapan disandingkan pada penjualan digital, entah itu unduh berbayar atau streaming.

Harapan itu seperti didukung data dari International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), sebuah lembaga yang bergerak di bidang industri rekaman dunia. Dari data terbaru yang mereka rilis, penjualan musik digital mencapai 45 persen dari seluruh pendapatan industri musik. Mengalahkan penjualan fisik yang hanya 39 persen.

"Pasar musik global mencapai tonggak bersejarah pada 2015 ketika digital menjadi sumber utama pendapatan musik, mengalahkan penjualan format fisik untuk pertama kalinya," tulis IFPI dalam situs resmi mereka.

Pendapatan dari musik digital di 2015 meningkat 10,2 persen menjadi 6,7 miliar dolar, dengan peningkatan 45,2 persen dari layanan streaming, mengalahkan pendapatan dari unduh berbayar dan format fisik. Jumlahnya mencapai 2,9 miliar dolar. Layanan streaming juga terbantu dengan maraknya ponsel pintar. Sekarang, pendapatan dari streaming mencapai 43 persen dari industri musik digital, hampir mengalahkan unduh berbayar (45 persen) sebagai sumber utama pemasukan dari musik digital.

Pengguna layanan streaming juga tidak enggan untuk membayar. Pada 2010, IFPI mencatat hanya 8 juta pengguna layanan streaming berbayar. Jumlah itu meningkat menjadi 41 juta pelanggan pada 2014, dan melonjak drastis menjadi 68 juta orang di 2015.

Pasar Indonesia juga dilirik. Apalagi banyak penduduk Indonesia yang merupakan pengguna ponsel pinter dan internet. Hingga sekarang sudah ada beberapa layanan streaming musik di Indonesia. Mulai Apple Music, Guvera, Joox, MelOn, Langit Musik, Deezer, hingga yang terbaru adalah Spotify.

Nama yang disebut terakhir memang sedang giat melakukan penetrasi ke kawasan Asia. Kawasan ini dipandang sebagai pasar potensial, terutama karena keterikatan terhadap ponsel pintar dan internet.

Spotify pertama kali memasuki Asia pada 2013. Saat itu Spotify diluncurkan di tiga negara: Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. Tiga bulan kemudian, Spotify merambah pasar Taiwan. Pada April 2014, giliran Filipina yang dimasuki Spotify. Pasar Filipina ternyata besar. Tahun lalu layanan musik yang kini ada di 59 negara ini merilis berita pers, kalau di Filipina saja, ada 2,5 miliar pemutaran lagu via Spotify.

"Pasar Filipina yang tercepat berkembang kedua di perusahaan, dan yang terbesar di Asia Pasifik," ujar Spotify dalam rilis persnya.

Sunita Kaur didaulat menjadi direktur Spotify di Asia. Perempuan yang pernah bekerja untuk Forbes, Microsoft, juga Facebook, ini pernah menerangkan tentang keunggulan Spotify di Asia. Cara kerja secara umum sama saja dengan di seluruh dunia. Pengguna bisa memutar lagu streaming secara gratis, dengan diselingi iklan --hal yang menghasilkan uang untuk perusahaan. Pengguna juga bisa mendapat layanan premium dengan membayar biaya langganan per bulan. Harganya cukup terjangkau, Rp49.990 per bulan. Dengan harga itu, pelanggan bisa mendengarkan sekitar 30 juta lagu.

Selain bebas iklan, pengguna juga bisa memilih lagu yang diinginkan. Dan, bisa dibilang ini keunggulan utama: pengguna bisa mengunduh lagu dan mendengarkannya tanpa perlu akses internet.

"Sistem offline ini penting di Asia Tenggara, karena kadang-kadang jaringan WiFi di sini agak bapuk," katanya pada situs Sea-Globe.

Tentu ada tantangan besar di Asia Tenggara, yakni pembayaran. Pembayaran Spotify umumnya menggunakan kartu kredit. Padahal di Asia Tenggara, penetrasi kartu kredit termasuk rendah. Karena itu Spotify menambahkan opsi pembayaran. Untuk kasus di Indonesia, pembayaran bisa dilakukan via ATM, via beberapa minimarket, juga Mandiri Clickpay.

Selain Spotify, pemain besar industri musik streaming adalah Guvera asal Australia. Ia masuk ke Indonesia lebih dulu ketimbang Spotify, yakni pada Februari 2014. Mereka bekerja sama dengan label-label lokal seperti Aquarius, Musica, Nagaswara, juga Trinity. Total, ada sekitar 10 juta lagu yang dipunyai Guvera.

Tahun lalu mereka merilis laporan bisnisnya di Indonesia. Hingga Desember 2015, pengguna Guvera lebih dari 1.150.000. Sekitar 57 persen penggunanya adalah mereka yang berusia di bawah 24 tahun. Seperti yang sudah diduga, pengguna terbesar adalah mereka yang memakai ponsel pintar dengan sistem operasi Android, sekitar 77 persen.



Masa Depan? Tunggu Dulu

Dengan segala puja puji tentang perkembangan musik digital di dunia, juga di Indonesia, wajar kalau orang menaruh harap pada layanan streaming musik. Moda ini dianggap sebagai masa depan industri. Apa benar? Belum tentu.

Mari ambil contoh Spotify, sang raksasa dalam dunia streaming ini. Pendapatan perusahaan asal Swedia ini memang besar. Pada 2013, mereka menangguk pemasukan sebesar 746 juta euro, atau sekitar 828 juta dolar. Meningkat jadi 1,08 miliar euro atau sekitar 1,1 miliar dolar pada 2014. Dari laporan 2015, pendapatan mereka naik sekitar 80 persen jadi 1,95 miliar euro alias sekitar 2,1 miliar dolar.

Tapi ternyata Spotify juga masih merugi, dan kerugian itu terus meningkat. Jika pada 2013 kerugian bersihnya adalah 55 juta euro atau 61 juta dolar, maka pada 2014 kerugian bersihnya adalah 162 juta Euro, atau sekitar 179 juta dolar. Seperti bisa ditebak, pada 2015 kerugian bersih Spotify kembali naik jadi 194 juta Euro.

Begitu pula dengan yang dialami oleh Guvera. Meski tahun lalu mendapat investasi baru sebesar 72,2 juta dolar, mereka mencatatkan kerugian sekitar 81 juta dolar. Padahal pada 2014, kerugian mereka masih berada di angka 29 juta dolar.

Pengeluaran terbesar tampaknya masih ada pada ranah royalti dan juga distribusi. Hingga sekarang tampaknya para penyedia layanan streaming musik masih mencari langkah yang tepat untuk mencari pemasukan.

"Model langganan saja belum terbukti menguntungkan, dan model gratis juga belum terbukti menguntungkan. Spotify sekarang mencoba menggabungkan keduanya," tulis dua direktur Spotify, Martin Lorentzon and Pär-Jorgen Pärson dalam laporan keuangan.

"Kami percaya akan semakin dapat pemasukan besar seiring meluasnya jangkauan kami. Karenanya, kami akan terus berinvestasi tanpa lelah untuk produk kami dan juga untuk akselerasi pasar."

Royalti yang diterima artis pun tergantung kepopulerannya. Pembagiannya juga tergantung ketentuan perusahaan. Untuk Spotify, misalkan, pembagiannya adalah 70 persen untuk pemegang hak cipta, dan 30 persen untuk Spotify. Meski dalam situs resminya mereka bilang bahwa Spotify tidak menghitung royalti berdasar tiap play, tapi banyak memang kebanyakan hitungannya memang demikian.

Sekarang, rata-rata royalti yang dibayarkan per stream per lagu adalah 0,006 dolar dan 0,0084 dolar. Dalam laporan Spotify, ada sekitar 5 kategori penjualan dan jumlah royalti yang dibayar.

Jumlah terbesar tentu didapat oleh 'Global Hit Album', yakni album-album yang sedang hits. Sebut saja nama Adele, Taylor Swift, Justin Bieber, atau siapa saja yang sedang ramai wara wiri di televisi. Rata-rata pendapatan mereka dari Spotify adalah 425 ribu dollar per bulan. Di bawahnya ada nama-nama yang menghuni 'Spotify Top 10 Album' yang royaltinya berkisar 145 ribu dolar per bulan. Paling kecil adalah 'Niche Indie Album' alias album indie yang penggemarnya terbatas. Jumlah royaltinya hanya sekitar 3.300 dolar saja.

"Untuk Spotify, secara nominal keuntungan finansialnya bisa dibilang cukup kecil," kata Kharis Junandharu, personel band Silampukau, tanpa menyebut jumlah nominal.

Band asal Surabaya ini baru melepas album penuh pertama mereka: Dosa, Kota, dan Kenangan pada tahun lalu. Album ini mendapat respons yang meriah. CD-nya laris terjual. Mereka manggung di mana-mana. Mulai dari keliling Jawa, Makassar, hingga Bali. Mereka juga menjual musik mereka di kanal digital. Mulai dari iTunes hingga Spotify.

"Spotify memang dihitung per stream. Hanya 0 koma sekian dolar per stream," kata Kharis lagi.

Hingga sekarang belum ada musisi Indonesia yang secara terbuka memberi tahu jumlah royalti yang didapat dari layanan musik digital. Tapi mengingat musik Indonesia tidak seramai didengarkan seperti para musisi seperti Adele atau Justin Bieber, rasa-rasanya royalti dari musik digital belum begitu bisa diandalkan.

Baca juga artikel terkait MUSIK DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight