Pandemi COVID-19

Mengapa Pernyataan Lois Owien soal COVID Membahayakan & Dicap Hoax?

Oleh: Mohammad Bernie - 13 Juli 2021
Dibaca Normal 4 menit
Ketua MKEK IDI Pukovisa menilai pernyataan Lois Owien membahayakan penanggulangan COVID & diduga langgar kode etik kedokteran.
tirto.id - Nama Lois Owien, seorang dokter yang surat tanda registrasi (STR) nya sudah tak berlaku sejak 2017, mendadak jadi perbincangan publik. Pemantiknya, ia menyangkal adanya pandemi COVID-19. Menurut dia, 66 ribu kematian dalam 1,5 tahun terakhir terjadi karena interaksi obat dalam penanganan COVID, alih-alih disebabkan virus itu sendiri.

Klaim-klaim tanpa dasar itu ia sampaikan melalui akun Twitternya @LsOwien dan disebarkan pengikutnya. Lois bahkan diundang untuk bicara oleh sejumlah kanal YouTube, dan juga mengisi acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi swasta.

“Interaksi antar obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari enam macam,” kata Lois dalam acara bincang-bincang tersebut kala menjawab penyebab kematian akibat COVID-19.

Pernyataan Lois Owien menyebar dan dipercayai banyak orang. Namun, rupanya semua ocehan itu hanya omong kosong belaka.

Berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sejak Januari 2020 hingga Maret 2021, terdapat 2.697 konten hoaks soal COVID-19 bertebaran di media sosial. Paling banyak beredar di Facebook dan Twitter.

Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pukovisa Prawiroharjo menilai twit-twit Lois membahayakan program penanggulangan pandemi sehingga diduga melanggar kode etik kedokteran. Karena itu, MKEK berencana memanggil Lois untuk meminta penjelasan soal cuitannya sekaligus mendalami dugaan pelanggaran etik itu.

“[Pernyataan dan klaim Louis Owien] berpotensi membahayakan program penanggulangan pandemi, patut diduga melanggar etik kedokteran," kata Pukovisa kepada reporter Tirto, Senin (12/7/2021).



Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menaruh perhatian pada infodemik, yakni lonjakan jumlah informasi mengenai COVID-19, termasuk informasi inakurat atau misinformasi --informasi inakurat yang diniatkan untuk menipu--. Masifnya informasi yang tidak akurat, termasuk teori konspirasi menyebabkan masyarakat kebingungan bahkan mengambil tindakan nekat yang dapat membahayakan kesehatan.

Selain itu, infodemik dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat kepada otoritas kesehatan dan merusak langkah-langkah penanggulangan pandemi. Akibatnya, penyebaran wabah bisa menjadi lebih intensif dan lebih panjang.

“Dengan peningkatan digitalisasi --meluasnya penggunaan internet dan media sosial-- informasi menyebar dengan lebih cepat. Ini bisa membantu menambal lubang informasi dengan lebih cepat, tapi juga bisa menyebarluaskan pesan berbahaya,” demikian WHO.

Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan banyaknya hoaks terkait pandemi COVID-19 bukan lagi membahayakan nyawa, tetapi telah jelas-jelas membunuh.

Sebab, kata dia, akibat hoaks banyak warga yang enggan mendatangi fasilitas layanan kesehatan atau melakukan pengetesan, mereka baru dilarikan ke rumah sakit kala situasinya sudah parah dan tidak tertolong lagi.

“Sudah ada beberapa laporan orang meninggal karena takut di-COVID-kan rumah sakit padahal ia sangat butuh bantuan ditangani IGD rumah sakit. Jadi hoaks ini sudah bisa menimbulkan malapetaka, hilangnya nyawa orang-orang," kata Septiaji kepada reporter Tirto, Senin (12/7/2021).



Kini pertanyaannya, kenapa setelah 1,5 tahun melanda, rumah sakit jelas-jelas penuh, dan saban hari muncul berita duka, tapi hoaks terkait pandemi COVID-19 masih bertebaran?

Septiaji mengatakan sejak awal pandemi sudah mengakibatkan polarisasi di tengah masyarakat. Kubu rasional mempercayai sains dan kaidah ilmiah, mereka menganggap pandemi COVID-19 harus dihadapi dengan serius. Di sisi lain, ada kubu denial yakni orang-orang yang menganggap COVID hanyalah peristiwa biasa saja yang tak perlu direspons berlebihan.

Seiring waktu, polarisasi semakin menguat. Kubu denial sudah mempunyai dunia sendiri dan mereka menganggap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), industri farmasi, asosiasi dokter, dan rumah sakit merupakan pangkal dari masalah ini. Upaya negara dan ilmuwan untuk mengedukasi membentur tembok tebal. Mereka hanya mendengar pendapat yang mendukung sikap mereka. Karena itu, orang-orang macam Lois Owien, Jerinx, Mardigu Wowiek, Siti Fadilah Supari mendapatkan panggung.

“Media sosial juga berperan memberikan ruang bagi fenomena dunning kruger effect ini, sehingga orang yang disebut waham seperti Dr. Lois, tetapi suaranya bisa terdengar luas, dan bagi beberapa orang yang masih denial, mereka menilainya sebagai tokoh yang menyuarakan aspirasi mereka. Semakin menguatlah ekosistem kelompok denial ini,” kata Septiaji.


Ngawurnya Pernyataan Lois Owien

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Zullies Ikawati menjelaskan interaksi obat adalah adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain ketika digunakan secara bersama-sama kepada seorang pasien. Efeknya bisa meningkatkan efek farmakologi suatu obat yang itu bisa berdampak sinergis atau aditif; mengurangi efek obat lain; dan meningkatkan efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan.

Zullies menegaskan, tidak semua kombinasi obat-obatan akan menimbulkan efek interaksi obat yang signifikan. Selain itu, efek interaksi obat pun tidak serta merta menyebabkan kematian, seringkali justru berdampak baik bagi terapi pasien.

“Jadi, jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien COVID adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Zullies lewat keterangan tertulisnya pada Minggu (11/7/2021).

Memang interaksi obat juga bisa berdampak negatif, misalnya menyebabkan berkurangnya efek obat lain yang digunakan secara bersama. Interaksi obat juga bisa meningkatkan efek terapi dari satu obat yang itu justru bisa berdampak negatif, misal penggunaan insulin dan obat diabetes oral bisa jadi berbahaya karena menyebabkan penurunan kadar gula darah yang berlebihan.

Interaksi obat juga bisa meningkatkan risiko efek samping. Misal penggunaan kombinasi obat azitromisin dan hidroksiklorokuin yang dulu digunakan untuk terapi COVID atau azitromisin dengan levofloksasin, mereka sama-sama memiliki efek samping mengganggu irama jantung. Jika digunakan bersama, maka bisa terjadi efek total yang membahayakan.

Namun, kata dia, interaksi obat yang tidak diinginkan itu juga bisa dihindari dengan cara memahami mekanisme interaksinya. Misalnya dengan memberi jeda waktu yang lebar antarmasing-masing obat, atau mengganti obat dengan obat lain yang memiliki khasiat sama, tetapi tidak menimbulkan efek interaksi.

“Sekali lagi, dampak interaksi obat tidak bisa digeneralisir dan harus dilihat kasus demi kasus secara individual, sehingga pengatasannya pun berbeda-beda pada setiap kasus,” kata Zullies.


Pernyataan Lois Berujung Penangkapan

Di Twitter, Lois kerap sesumbar pandangannya mendapat dukungan dari sejumlah pejabat seperti Wakil Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun atau Sekretaris Utama (Sestama) BIN Komjen Pol Bambang Sunar Wibowo. Namun, melalui Direktur Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Purwanto, Bambang membantah pernah menyatakan dukungan terhadap Lois, bahkan menurutnya pandangan Lois soal COVID sangat aneh.

“Komjen Pol Bambang Sunar Wibowo, beliau menyatakan belum pernah bertemu dengan dr Lois. Yang bersangkutan pernah berkirim pesan WhatsApps ke Bapak Sestama sekitar akhir Mei, Juni, Juli 2020," kata Wawan kepada reporter Tirto, Senin (12/7/2021).

Wawan mengatakan, “Menurut Bapak Sestama, pandangan yang bersangkutan sangat aneh tentang COVID-19, sehingga Bapak Sestama tidak pernah mendukung pernyataan yang bersangkutan.”

Klarifikasi belum dilakukan, Lois keburu diciduk oleh Unit V Tindak Pidana Siber, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Minggu (11/7/2021) pukul 16.00 WIB. Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menduga Lois telah dengan sengaja menyebarkan berita bohong yang mengakibatkan keonaran di masyarakat dan menghalangi penanggulangan penyakit menular.

“Dokter L telah menyebarkan berita bohong dan/atau menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja, yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan rakyat dan/atau menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular,” kata Ahmad Ramadhan, di Mabes Polri, Senin (12/7/2021).


Baca juga artikel terkait PERNYATAAN LOIS OWIEN atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Abdul Aziz
DarkLight