Menuju konten utama

Menebar Harapan di Pulau Obi: Sinergi Multipihak Atasi Stunting

Hingga akhir tahun 2025, program Soligi Zero Stunting telah mencatatkan dampak yang signifikan bagi masyarakat.

Menebar Harapan di Pulau Obi: Sinergi Multipihak Atasi Stunting
Posyandu desa Kawasi. foto/Dok. Harita Nikel

tirto.id - Stunting bukan masalah baru di Indonesia, tetapi percepatan penanganannya tak boleh ditunda. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting nasional pada 2024 mencapai 19,8%. Angka tersebut turun dari 21,5% pada 2023, dan untuk pertama kalinya di bawah ambang batas Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 20%. Namun, upaya bersama untuk menangani stunting perlu terus dipacu mengingat capaian saat ini masih jauh dari target pemerintah: 14,2% pada 2029 dan 5% di 2045.

Secara jangka panjang, maraknya kasus stunting berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu wilayah. Masalah kesehatan masyarakat ini pun menjadi tantangan serius bagi Indonesia yang sedang menyongsong periode bonus demografi. Tak hanya menghambat pertumbuhan fisik, stunting berdampak buruk pada perkembangan kognitif anak dan memengaruhi rendahnya kecerdasan.

Kondisi akibat kekurangan gizi kronis, khususnya di 1.000 hari pertama kehidupan, ini juga meningkatkan kerentanan pada sejumlah penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, hingga stroke saat dewasa.

Karena itu, tidak hanya di level nasional, banyak pemerintah daerah menjadikan penanganan stunting sebagai prioritas utama. Pemerintah Provinsi Maluku Utara adalah salah satunya mengingat prevalensi stunting daerah ini masih mencapai 23,2% pada 2024.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara di era kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda berupaya menempatkan peningkatan layanan kesehatan dan pemenuhan gizi anak sebagai prioritas utama. Selain memastikan anggaran penanganan stunting menyentuh langsung warga lewat posyandu, Sherly aktif mendorong kesadaran mencegah masalah kesehatan anak ini sejak level rumah tangga.

"Penanganan stunting harus menyentuh masyarakat secara langsung. Intervensi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak agar kita benar-benar menghasilkan generasi yang sehat," kata Sherly Tjoanda beberapa waktu lalu.

Upaya mempercepat penanganan stunting juga menjadi perhatian Harita Nickel, salah satu perusahaan yang beroperasi di Maluku Utara. Harita Nickel menjalankan program Soligi Zero Stunting di Pulau Obi sejak 2022. Program ini dirancang sebagai inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mengintegrasikan intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan pemantauan tumbuh kembang anak secara intensif melalui kolaborasi multipihak.

Perbaikan Infrastruktur dan Akses Kesehatan Dasar

Mengawali program Soligi Zero Stunting, Harita Nickel melakukan identifikasi terhadap sejumlah kendala akses layanan kesehatan di Pulau Obi. Dari kajian awal, diketahui perlu ada penyediaan fasilitas kesehatan level desa seperti Puskesmas Pembantu (Pustu) atau Polindes, alat medis maupun obat-obatan dan tenaga kesehatan, hingga akses masyarakat terhadap air bersih.

Fokus program kemudian diarahkan ke salah satu wilayah terpencil yaitu Desa Soligi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Untuk memperkuat program, Harita Nickel membangun kolaborasi strategis bersama Pemerintah Desa Soligi, Dinas Kesehatan Halmahera Selatan, dan berbagai pihak lainnya.

Salah satu wujud pelaksanaan program ini berupa pembangunan gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) di atas lahan hibah dari warga lokal. Pustu itu berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan dan obat-obatan sekaligus pusat penanganan stunting di Desa Soligi.

Infrastruktur sanitasi turut diperkuat guna memastikan perbaikan gizi anak didukung dengan lingkungan yang higienis. Penyediaan air bersih menjadi krusial untuk mencegah infeksi berulang pada balita yang dapat memicu kondisi stunting.

Harita Nickel pun menerjunkan tim untuk mengidentifikasi sumber air tanah dan membangun sumur air bersih bagi warga Desa Soligi. Langkah ini melibatkan kolaborasi dengan TNI AD, BKKBN Maluku Utara, Dinas Kesehatan Halsel, dan DP3AKB Kabupaten Halsel.

Intervensi ini lantas dilengkapi dengan berbagai dukungan guna menunjang penanganan stunting. Di antaranya meliputi imunisasi dasar untuk bayi dan lansia, vaksinasi tetanus toksoid bagi ibu hamil, distribusi susu ke ibu-ibu hamil, dan pemberian Makan Tambahan (PMT) kepada anak dengan kondisi gizi kurang maupun stunting.

Penguatan Kapasitas Lokal dan Pendampingan Intensif

Keberhasilan penanganan stunting di wilayah terpencil membutuhkan kesiapan sumber daya manusia pada level akar rumput. Harita Nickel merespons hal ini dengan memberikan pelatihan teknis kepada 57 peserta yang terdiri dari bidan desa, kader posyandu, dan anggota PKK se-kecamatan Obi Selatan.

Peserta pelatihan dibekali pemahaman tentang penyebab stunting beserta upaya pencegahannya. Mereka juga dilatih memantau tumbuh kembang anak lewat Kartu Menuju Sehat (KMS) dan memakai alat antropometri standar untuk memastikan akurasi pengukuran tubuh balita. Dengan keahlian menggunakan alat antropometri dan mengisi KMS secara akurat, deteksi dini kasus gizi kurang maupun stunting dapat dilakukan secara mandiri oleh warga.

Body Artikel Harita Nickel 2 232

Posyandu desa Kawasi. foto/DOk. harita Nickel

Program Soligi Zero Stunting diperkuat pula dengan berbagai kegiatan yang langsung melibatkan warga. Sejumlah kegiatan itu seperti kunjungan ke rumah balita gizi kurang dan stunting hingga pemantauan rutin terhadap kondisi, berat badan, serta lingkar kepala anak.

Para kader posyandu dan warga pun dilatih membuat makanan tambahan untuk anak berbasis bahan pangan lokal. Selain dilatih, mereka juga memperoleh pendampingan dari tenaga ahli gizi.Dampak Program dan Upaya Berkelanjutan.

Hingga akhir tahun 2025, program Soligi Zero Stunting telah mencatatkan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Melalui pendampingan terhadap 354 anak dan pembagian 300 paket PMT, terjadi perbaikan nyata di Desa Soligi. Tercatat ada 21 dari 25 anak di Desa Soligi berhasil keluar dari status stunting dan menunjukkan perbaikan status gizi pada akhir 2025.

Program yang sama sekaligus memperkuat upaya jangka panjang dalam penanganan stunting. Kini ada banyak kader desa yang mampu secara aktif melakukan deteksi dini terhadap kasus stunting di Soligi.

Murni, salah satu kader posyandu di Desa Soligi, mengatakan ia dan rekan-rekannya secara berkala aktif mendatangi rumah-rumah balita berisiko stunting. Tak hanya memantau kondisi para balita, mereka juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu agar memperhatikan gizi anak-anak serta rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas saat hamil.

Terkait dampak program Soligi Zero Stunting, menurut Murni, penurunan kasus stunting dan gizi kurang dari semula 25 menjadi 4 anak merupakan perubahan positif yang nyata. "Harapan kami, tahun depan bisa benar-benar nol, dan anak-anak Soligi tumbuh lebih sehat," ujar dia.

Secara kualitatif, sinergi multipihak dalam program ini bisa menjadi model percontohan untuk penanganan stunting secara intensif, integratif, komprehensif, dan berkelanjutan. Model ini dapat mendukung percepatan penanganan stunting di Pulau Obi maupun Maluku Utara secara umum.

Menurut Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso, program Soligi Zero Stunting yang berjalan sejak 2022 memadukan intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan penguatan pelayanan kesehatan masyarakat. Program ini pun didukung oleh kemitraan berkelanjutan antara swasta, pemerintah, dan masyarakat.

"Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami percaya, kesehatan anak adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih kuat dan sejahtera," kata dia.

Apresiasi untuk Harita Nickel

Peran Harita Nickel dalam mendukung penanganan stunting di Maluku Utara mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Berkat Soligi Zero Stunting, Harita Nickel berhasil meraih Penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian ESDM untuk kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Terinovatif Komoditas Mineral di bidang Kesehatan.

Tidak hanya itu, terobosan Harita Nickel dalam memperkuat pencegahan stunting berbasis komunitas di Pulau Obi mendapatkan apresiasi tinggi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.

Harita Nickel memperoleh predikat Gold di ajang GENTING Collaboration Summit 2025 yang digelar BKKBN pada 10 Desember 2025. Penghargaan ini dianugerahkan kepada mitra pentahelix yang dinilai aktif mendukung program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) lewat kolaborasi lintas sektor.

Vice President of Occupational Health and Safety (OHS) & Management System Harita Nickel, Supriyanto Suwarno, mengatakan penghargaan dari BKKBN merupakan pengakuan atas keberhasilan perusahaan dalam menyelenggarakan program PPM yang berkelanjutan.

"Bagi Harita Nickel, pencapaian ini tidak berdiri sendiri. Predikat Gold merupakan hasil dari pendekatan PPM yang dirancang secara sistematis dan berbasis kebutuhan masyarakat di wilayah operasional, melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat," kata dia.

Capaian ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk terus mewujudkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di wilayah operasional melalui perbaikan layanan kesehatan secara komprehensif dan berkelanjutan.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis