Menuju konten utama
Slamet Iman Santoso

Mendirikan Cikal Fakultas Psikologi hingga Seleksi Masuk UI

Sebagai guru besar dan pendiri, Slamet dipercaya menjadi Dekan Fakultas Psikologi yang pertama. Turut membidani dan mengurus langsung seleksi masik UI.

Mendirikan Cikal Fakultas Psikologi hingga Seleksi Masuk UI
Header Slamet Iman Santoso. tirto.id/Fuad

tirto.id - Artikel ketiga dari empat seri tentang kiprah Slamet Iman Santoso. Artikel sebelumnya dapat dibaca di sini.

Dalam Dies Natalis pertama Universitas Indonesia pada Februari 1952, Slamet Iman Santoso menyampaikan pidato ilmiah berkepala “Pemeriksaan Psikologis Sebagai Dasar untuk Sekolah”. Pidato itu kemudian dianggap sebagai tonggak dalam sejarah lahirnya pendidikan ilmu psikologi di Indonesia sekaligus menjadi pidato pengukuhan Slamet sebagai Guru Besar Ilmu Psikologi.

Pidato sepanjang 20-an halaman itu merupakan argumentasi Slamet akan pentingnya melakukan pemeriksaan kecerdasan (ukuran IQ) dan pemeriksaan karakter pribadi secara simultan. Pidato itu dinilai sebagai terobosan sebab saat itu belum ada akademisi Indonesia yang membahas masalah pengukuran IQ manusia.

Aplikasinya, menurut Slamet, adalah ujian saringan peserta didik baru yang dapat menjadikan IQ sebagai dasar bagi penerimaan dan dengan psikotes yang teruji, prioritas alokasi tenaga kependidikan dapat tersusun lebih sistematis.

Tanggapan atas apa yang disampaikan Slamet beragam. Sebagian menganggap itu sebagai terobosan. Sebagian lain, termasuk Presiden Sukarno dan Ketua DPR, menganggap pidato Slamet itu sebagai coba-coba menciptakan aristokrasi intelektual. Mereka juga menegur Slamet di acara ramah-tamah usai pidato.

Sukarno menyigi agar pendidikan harus demokratis, serta tidak memaksa anak didik harus sempurna seperti anjuran Slamet.

“Tanpa pikir panjang, saya langsung menjawab, ‘Kalau saya mau mendidik mahasiswa secara perfect, apakah itu salah?’ Selain itu, apakah ciri ‘pendidikan yang demokratis’ dan ciri ‘aristokrasi intelektual?’ Ketiga pertanyaan tadi tidak dijawab, dan sepanjang masa juga tidak pernah diberikan jawabannya oleh kedua pejabat tertinggi itu!” kenang Slamet dalam Warna-Warni Pengalaman Hidup (1992, hlm. 208).

Sementara itu, Prof. Mr. Soepomo yang saat itu menjabat Presiden UI menanggapi pidato Slamet dengan memberi kesempatan Slamet untuk merintis pendidikan psikologi otonom di UI. Bibitnya ada di sebuah cabang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berkantor di belakang RSUP. Unit ini semula bertugas melaksanakan psikotes untuk seleksi siswa pendidikan teknik.

Cikal Fakultas Psikologi UI

Unit itu dipimpin Ir. Drs. Teutelink serta dikelola bersama empat orang staf, yakni Fuad Hassan, Koestoer, Noerhadi, dan Warsito. Dengan bekal itu, Soepomo mendorong Slamet mengaktualisasikan gagasannya mempersiapkan Fakultas Psikologi yang mampu mencetak ahli psikologi mumpuni berkebangsaan Indonesia.

Slamet mula-mula ragu dengan tawaran kesempatan emas ini.

“Pada masa tersebut, saya masih mempunyai takhayul, kalau sembarangan memakai nama ‘fakultas’, maka kalau gagal akan kualat!” Pikir Slamet.

Hal yang sama ditanyakan pula oleh seorang pejabat Departemen P&K yang menerima proposal Slamet untuk mendirikan “Lembaga Psikologi Universitas Indonesia”.

Kenapa tidak langsung diberi nama Fakultas Psikologi? Apakah tidak berani?

Slamet terheran-heran. Pasalnya, inilah pertama kali dia mendengar bahwa pembangunan suatu lembaga keilmuan diukur dengan keberanian!

Dengan keterbatasan sarana-prasarana dan tenaga pengajar, Slamet pun memulai Lembaga Psikologi UI pada 3 Maret 1953. Saat itu, dosennya hanya empat, yaitu Prof. dr. Slamet Iman Santoso, Ir. Drs. Teutelink, Prof. Beerling, dan Prof. Weinreb.

Baru belakangan, beberapa sarjana psikologi lulusan Belanda dan Jerman turut memperkuat formasi, antara lain Dr. Lie Pok Liem, Drs. Yap Kie Hien, Drs. Wattimena, dan suami istri Ashar Soenjoto Moenandar dan Oetami Moenandar.

“Saat mulai menjadi mahasiswa psikologi, yang paling mengesankan bagi saya tentang Pak Slamet yang mengajar Neurologi adalah tulisannya yang sangat rapi dan jelas dengan kapur putih di atas papan tulis hitam. Yang juga meninggalkan kesan bagi saya adalah bahwa saat ia mengajar, Pak Slamet selalu memulai kuliahnya dengan merangkum kuliah sebelumnya. Cara ini sangat membantu mahasiswa seperti saya untuk mengikuti kuliah berikutnya dengan mudah,” tulis Saparinah Sadli dalam Prof. Slamet Iman Santoso dalam Kenangan (2005, hlm. 42).

Tiga tahun kemudian, Lembaga Psikologi UI mengadakan ujian yang sukses meluluskan beberapa mahasiswa menjadi sarjana muda. Institusi pun kemudian berganti nama menjadi Pendidikan Psikologi tingkat Universitas.

Sesudah berhasil mewisuda Sarjana Psikologi pertama home made Indonesia, yakni Drs. Fuad Hassan, Slamet memantapkan diri menggenapkan cita-cita almarhum Prof. Mr. Soepomo, yakni mengembangkan lembaga itu menjadi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia terhitung 1 Juli 1960.

Sebagai guru besar dan pendiri, Slamet dipercaya menjadi Dekan Fakultas Psikologi yang pertama. Dia mengemban jabatan itu hingga 12 tahun lamanya, sebelum digantikan pada 1972.

Infografik Slamet Iman Santoso REV

Infografik Slamet Iman Santoso. tirto.id/Fuad

Seleksi Masuk Perguruan Tinggi

Jelas bukan Slamet Iman Santoso jika membiarkan gagasannya hanya menjadi abstraksi yang mengawang-awang. Tiga tahun sesudah inaugurasi sebagai guru besar dengan pidato dadakan dan dua tahun setelah merintis Lembaga Psikologi UI, Slamet pun coba mengimplementasikan gagasannya dengan menciptakan sistem seleksi masuk mahasiswa.

Ide ini sejatinya sudah diutarakan Slamet sejak 1950. Itu berangkat dari kegelisahannya atas rendahnya kualitas lulusan SMA saat itu. Sudah begitu, pihak Kementerian P&K kemudian justru menerbitkan “solusi” yang tak masuk akal.

Oleh karena itu, dikeluarkan keputusan Menteri P&K agar menambah tiap nilai yang diperoleh dengan dua angka. Artinya, bila nilai semula 4 (tidak lulus), menjadi 6 (lulus),” tukas Slamet gamblang dalam autobiografinya (1992, hlm. 229).

Gara-gara keputusan itu, sekira pertengahan 1955, jumlah lulusan SMA pun membludak hingga lima kali lipat. Maka makin bertambahlah masalah. Slamet mencoba mengajukan idenya, tapi ditolak karena dianggap “melanggar ketentuan hukum”.

Slamet tak patah arang dan jalan terus dengan idenya. Begitulah, sesudah berhadapan dengan para dekan yang khawatir dengan gagasan nekadnya, Slamet mengumumkan pemberlakuan seleksi mahasiswa baru Universitas Indonesia pada tahun akademik 1955–1956.

Slamet kemudian melancarkan siasat. Ke internal UI, dia meminta supaya tak satupun dosen atau staf kependidikan yang mengucapkan kata “ujian” di depan para calon mahasiswa baru. Ke publik, sesudah proses penerimaan mahasiswa baru selesai, dia mengumumkan adanya seleksi untuk mahasiswa yang telah mendaftar.

Kebijakan Slamet itu kemudian jadi sasaran protes. Hampir semua koran di ibu kota memuat pemberitaan yang bernada protes. Dia mencoba tenang menghadapinya, dengan tetap berpegang pada tanggung jawab sebagai seorang pegawai negeri dan seorang pendidik.

Materi tes seleksi yang disiapkan Slamet hanyalah tes psikologi yang disusunnya sendiri. Terlepas dari hiruk-pikuk reaksi publik, tes seleksi masuk UI itu mampu bertahan hingga tiga kali seleksi sampai 1957. Sesudah itu, tes masuk dilaksanakan oleh masing-masing fakultas dengan materi yang disesuaikan dengan keperluan rumpun dan spesifikasi keilmuan.

Pelaksanaan gagasan Slamet ini tentu bukan tanpa cacat. Karena fasilitas ujian terbatas, jadwal seleksi pun dibuat bergiliran. Akibatnya bisa ditebak, kalender akademik jadi semrawut. Fakultas yang mendapat jadwal tes lebih akhir jadi terlambat memulai perkuliahan.

Jadi, ketika fakultas yang mendapat giliran awal sudah menjalankan perkuliahan, fakultas yang mendapat giliran terakhir baru menyelesaikan masa perpeloncoan! Belum lagi jika ada calon mahasiswa yang mendaftar di dua fakultas. Dia jadi kerepotan karena mesti menjalani 2 ujian berbeda.

Persoalan ini memuncak pada 1962, ketika seluruh kegiatan akademik universitas macet selama satu semester karena fakultas-fakultas sibuk membuka penerimaan, ujian, pelonco, sekaligus membuka penerimaan susulan yang terlalu banyak makan waktu.

Baru di tahun 1963, setelah kesemrawutan mencapai puncaknya dan nyaris tidak teratasi, baru semua beralih ke autonomi universitas, meninggalkan autonomi fakultas,” kisah Slamet.

Sistem ujian masuk secara serempak pun diterapkan pada 1964. Saat itu, Slamet pun turut menyadari bahwa dua kampus UI, masing-masing di Salemba dan Rawamangun, tidak cukup untuk menampung seluruh peserta ujian. Satu-satunya tempat yang cukup menampung saat itu ialah Gelora Senayan.

Begitulah, Slamet kemudian menghubungi Direktur Gelora Senayan untuk meminta izin pemanfaatan stadion dan bangunan olahraga lain untuk ujian. Sang direktur antas berkonsultasi kepada Presiden Sukarno. Tak dinyana, Sukarno menyambutnya antusias.

Dit het eenig in de wereld (Ini adalah satu-satunya di dunia),” tukas Sang Pemimpin Besar Revolusi.

Dalam ujian masuk UI 1964 itu, Slamet tak ubahnya konduktor tunggal yang memimpin ribuan calon mahasiswa mengerjakan soal.

Seorang lelaki berpakaian putih-putih, berambut putih, memberi aba-aba mulai kepada para peserta untuk mengerjakan soal ujian,” kenang Dharmajati Utojo Lubis dalam bunga rampai Prof. Slamet Iman Santoso dalam Kenangan (2005, hlm. 30).

Slamet kemudian tetap dipercaya menjadi ketua penerimaan dan seleksi mahasiswa baru UI hingga 1981. Maka dia tak hanya sekadar pemrakarsa, tapi turun tangan langsung mengurus seleksi 27 angkatan mahasiswa UI.

Pada 1980-an, sistem ujian massal seperti itu dianggap membutuhkan perubahan. Slamet membenarkan anggapan itu dan karenanya juga menganjurkan regenerasi.

Saya sudah tua dan capek,” ungkap Slamet kepada awak TEMPO, seperti tercatat dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986 (1986, hlm. 783-784).

Dedikasi, komitmen, dan kerja keras Slamet tidak berkhianat. Kiprahnya yang cemerlang sejak UI masih berupa embrio, terobosan monumentalnya terkait tes psikologis sebagai dasar persekolahan, hingga gagasan seleksi masuk mahasiswa baru menjadikan sosoknya amat dipercaya di lingkungan kampus UI.

Bersambung...

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan lainnya dari Chris Wibisana

tirto.id - Humaniora
Kontributor: Chris Wibisana
Penulis: Chris Wibisana
Editor: Fadrik Aziz Firdausi