Menuju konten utama
Renungan di Momen Lebaran

Marah: Sebaiknya Ditahan dalam Diam atau Diluapkan Apa Adanya?

Amarah dalam kadar tertentu diperlukan untuk bertahan hidup. Ada yang suka marah dalam diam, ada pula yang memilih mengamuk. Kamu tim yang mana?

Marah: Sebaiknya Ditahan dalam Diam atau Diluapkan Apa Adanya?
diajeng Seri Mengelola Kemarahan. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Rara bingung.

Seorang kawan lama tiba-tiba memutus pertemanan mereka. Beberapa kali Rara mengirim teks via WhatsApp, akan tetapi kawannya tak kunjung membalas.

Puncaknya terjadi ketika kawan tersebut menikah. Semua teman satu komunitas mereka diundang—hanya Rara yang tidak.

Padahal, dulu mereka berdua cukup dekat dan sering pergi ke mana-mana bersama.

Sepanjang pertemanan mereka, tentu sesekali ada perbedaan pendapat. Namun Rara hanya bisa menduga-duga apa kesalahannya. Ia tak pernah melihat si kawan marah padanya.

Di tengah kekecewaannya, Rara menyimpulkan bahwa kawannya selama ini memendam amarah. Ketika amarahnya sudah memuncak, ia pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan.

Berbeda lagi dengan pengalaman Lily.

Suatu hari, ia dikagetkan dengan sahabatnya yang marah-marah padanya tentang sesuatu hal, yang bagi Lily, terkesan sepele.

Sudah tentu, saat itu Lily merasa tidak nyaman dirinya dimarahi. Di sisi lain, ia menjadi paham betul hal yang sudah mengusik pikiran sahabatnya itu.

Dalam amarahnya, sahabat Lily menjelaskan penyebab dan duduk perkara dengan jelas serta runtut. Terakhir, dia meminta Lily untuk tidak mengulangi perbuatan yang memancing letupan amarahnya itu.

Walaupun awalnya terasa tidak enak, pada akhirnya relasi Lily dengan sahabatnya kembali berjalan baik-baik saja seperti sedia kala. No hard feelings.

Terakhir, ada Abdul yang dijuluki si pemberang dan “jago kandang” oleh keluarganya.

Di luar rumah, tidak ada seorang pun yang pernah melihat Abdul marah. Namun, di dalam rumah, emosinya mudah sekali meledak-ledak karena hal sepele seperti tidak kebagian nasi atau kehilangan barang.

Jika sudah marah, suaranya menggelegar dan kata-katanya kasar.

Abdul tidak pernah memukul atau main fisik, akan tetapi tingkahnya ketika marah jadi menyebalkan. Misalnya, ia sengaja menumpahkan air dari teko ke meja atau menginjak-injak lantai rumah yang baru dipel dengan sandal kotor.

Oleh karena itulah, hubungan Abdul dengan ibu dan ketiga saudaranya tak harmonis.

Dari ketiga contoh di atas, terlihat jelas bahwa respons kita terhadap amarah bisa berbeda-beda.

Menurut American Psychological Association, ada beberapa respons utama saat kita dilanda amarah.

Dua yang utama adalah dipendam dan diekspresikan.

Perbedaan respons ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengasuhan orang tua, gender, usia, kepribadian, sampai kondisi kesehatan mental.

Sahabat Rara termasuk tipe orang yang cenderung memendam amarah. Sebagian orang memang terbiasa menahan marah, berusaha tidak memikirkan pemicunya, lalu mengalihkan fokus pada hal lain.

Ilustrasi istri marahi suami

Ilustrasi istri marahi suami. FOTO/iStockphoto

Ryan Martin, dosen, psikolog, dan penulis buku Why We Get Mad: How to Use Your Anger for Positive Change (2021), dalam tulisannya di Psyche menjelaskan, meskipun ada dorongan untuk bertindak agresif seperti berteriak atau memukul, banyak orang menahan diri untuk tidak melakukannya.

Paling pol, mereka mungkin hanya cemberut atau menangis.

Nah, masalahnya, amarah yang selalu dipendam dan tidak tersalurkan bisa merusak diri sendiri—seperti memicu depresi dan tekanan darah tinggi.

Selain itu, bukan tidak mungkin cara tersebut menimbulkan perilaku pasif-agresif yang tidak sehat.

Orang yang perilakunya pasif-agresif tidak menunjukkan amarah secara blak-blakan. Alih-alih membicarakan dan berusaha menyelesaikan pangkal masalah yang membuatnya marah, dia mengambil jalan lain.

Misalnya dengan menarik diri, mendiamkan orang yang membuatnya marah (silent treatment), berbicara dengan sarkastis, atau membalas dendam di kemudian hari.

Terkait dengan balas dendam, caranya bermacam-macam. Ada yang menyebarkan rumor, mengingkari janji, atau menyabotase proyek bersama dengan mengerjakannya secara asal-asalan.

Orang yang pasif-agresif cenderung mencari cara yang lebih “aman” untuk menyalurkan amarah.

Selain itu, kebiasaan memendam amarah berpotensi menciptakan tipe kepribadian yang sinis dan jutek. Ciri-cirinya antara lain suka merendahkan orang lain, mudah melontarkan kritik, sering melemparkan komentar sinis.

Mereka yang memiliki karakter pasif-agresif kemungkinan besar mencontoh perilaku tersebut dari orang tuanya. Bukan tidak mungkin, di masa lalu, begitulah cara kedua orang tua mereka menunjukkan kemarahan pada satu sama lain.

Atau, mungkin, mereka selalu mendapat silent treatment dari orang tuanya saat melakuan kesalahan.

Selain dipendam, respons amarah yang paling instingtif dan natural adalah diekspresikan secara agresif.

Amarah yang diluapkan secara agresif biasanya ditujukan untuk menyakiti orang lain secara fisik, emosional, atau psikis. Contoh paling nyata adalah dengan berteriak, merendahkan, dan memukul.

Sebagian orang bahkan lebih temperamental daripada orang lain. Kemarahan mereka lebih sering dan intens, baik diungkapkan maupun tidak. Faktor penyebabnya bisa genetik atau psikologis.

Mereka rata-rata punya toleransi lebih rendah terhadap frustasi dan perasaan tidak nyaman. Selain itu, orang yang gampang marah biasanya berasal dari keluarga yang kurang mahir dalam komunikasi emosional.

Di satu sisi, amarah adalah respons alamiah dan adaptif terhadap ancaman. Respons ini memancing perasaan dan tindakan agresif sehingga mendorong kita agar dapat “melawan” ketika “diserang”.

Maka dari itulah, amarah dalam kadar tertentu memang diperlukan untuk bertahan hidup. Namun tentu tidak bijaksana apabila kita mengamuk setiap kali dorongan amarah itu muncul.

Dalam suatu hubungan, amarah yang diluapkan berkali-kali atau bersifat agresif berpotensi menjadi perundungan, penindasan, bahkan kekerasan psikologis dan emosional.

Marah-marah di Kantor

Ilustrasi [Foto/Shutterstock]

Di balik itu semua, masih ada cara lain dalam mengekspresikan amarah yang dipandang lebih sehat—dikenal dengan istilah asertif.

Melansir Psych Central, orang yang marah secara asertif biasanya berperilaku jujur ketika menyampaikan perasaan marahnya, tanpa mendesak, tanpa menyalahkan orang lain.

Mereka juga tidak menunjukkan sikap mengancam, memilih fokus pada penyelesaian konflik secara bersama-sama, mendengarkan pendapat pihak lain, dan bersedia minta maaf atau bertanggung jawab apabila menyadari kesalahan yang dilakukan.

Agar dapat bersikap asertif, kita harus tahu terlebih dahulu apa yang kita inginkan dan bagaimana mendapatkannya tanpa menyakiti orang lain.

Meskipun asertif disebut-sebut sebagai respons amarah yang paling baik, kembali melansir pandangan Martin dalam artikelnya di Psyche, tidak ada satu pun tipe ekspresi kemarahan yang paling dianjurkan untuk diterapkan pada semua situasi.

Sudah pasti terdapat momen tertentu ketika menahan amarah menjadi pilihan yang lebih baik karena situasi yang tidak aman jika kita mengekspresikannya secara blak-blakan.

Di momen lain, bisa jadi meluapkan amarah secara terang-terangan menjadi opsi lebih baik.

Pada akhirnya, memendam atau meluapkan amarah sangat tergantung pada situasi dan konteksnya.

Bagaimana denganmu, apa kamu lebih suka memendam amarah, meluapkan secara blak-blakan, atau membicarakannya dengan tenang?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Eyi Puspita

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Sekar Kinasih