Menuju konten utama
Miroso

Memanjangkan Usia Persahabatan di Meja Makan

Makan bersama adalah tradisi yang paling penting bagi keluarga Tionghoa peranakan.

Memanjangkan Usia Persahabatan di Meja Makan
Header Miroso Persahabatan Meja Makan. tirto.id/Tino

tirto.id - Saya adalah saksi pertalian pertemanan erat Ibu dan sahabatnya yang sudah terjalin selama 40 tahun lebih. Ibu dan Ci Fong-fong, panggilan akrabnya, sudah bersama sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama, yaitu sekitar tahun 1980-an awal di Sumedang. Memori masa kecil saya pun banyak yang mengambil tempat di rumah Cici, yang letaknya tidak jauh dari rumah Ibu. Di sana adalah tempat pertama saya mengenal budaya pop awal tahun 2000-an; serial Friends, Meteor Garden, Westlife, hingga komik-komik serial cantik yang dimiliki keponakan Cici.

Ci Fong-fong adalah seorang perempuan peranakan Tionghoa yang berakar pada suku Hakka. Bapaknya adalah pendatang generasi kedua dari Tiongkok Selatan. Periode kedatangannya termasuk cukup anyar, yaitu di sekitar tahun 1930-1950an. Sedangkan ibunya adalah seorang peranakan Tionghoa dari Pontianak.

Mayoritas suku Hakka berasal dari Tiongkok Selatan (sebelumnya Tiongkok Utara, namun bermigrasi secara bertahap ke selatan), dengan warna kuliner yang yang sama sekali berbeda dari wilayah-wilayah lainnya. Bumbu yang dipakai cenderung lebih sederhana dari semisal masakan a la Szechuan maupun Kanton. Masakan Hakka banyak mengandalkan bawang putih sebagai basis utamanya. Penggunaan saus sari tapai atau ang ciu juga kerap dijumpai dalam masakan Hakka.

Bapak dari Ci Fong-fong adalah pemasak yang andal, kemampuannya inipun didapat dari bapaknya yang jago masak pula. Di masa produktifnya, Yé ye, panggilan dari cucu-cucunya, sering memasak untuk keluarga, terutama saat Imlek. Makanan yang paling sering dimasak adalah bakso goreng babi dan hoisom (teripang)—yang lazim dimasak orang Hakka.

Karena Yé ye tidak bisa selalu memasak dan mesti mengurusi bisnisnya, resep-resep masakannya banyak dipelajari oleh kiu-meh, bibi dari Cici yang juga tinggal bersama di satu rumah. Kiu-meh lah yang bertugas mengajari para pekerja rumah tangga yang bertugas memasak sehari-hari di rumah, yang tentu saja tetap dalam pengawasannya.

Sup ayam angkak, ayam kembang tahu, kaki babi masak kecap, sapi cah paprika, sapi minyak wijen, dan tumis sayuran hijau adalah menu favorit keluarga Cici. Untuk sahabatnya yang muslim, dapur Cici memiliki alat masak khusus agar tidak tercampur dengan yang dipakai untuk mengolah babi.

Di meja makannya yang besar dan berbentuk bundar, atau yang biasa disebut Lazy Susan, Ibu dan Cici biasa ngobrol hingga berjam-jam untuk saling update soal kehidupan. Saya yang sering diajak Ibu, turut memperhatikan sembari menyeruput kuah sup ayam angkak yang hangat. Meja makan ini pulalah yang menjadi saksi dinamika persahabatan mereka selama puluhan tahun.

Setiap ke rumah Cici, yang paling saya tunggu-tunggu adalah ditawari untuk makan siang di sana. Masakan-masakan minim bumbu tapi sangat sedap yang keluar dari dapurnya membuat saya memutuskan urat malu. Selain itu juga, saya memendam rasa iri terhadap kebiasaan keluarga mereka yang rajin berkumpul untuk makan bersama di meja makan.

Dalam buku Culinaria China - A Celebration of Food and Tradition karya Katrin Schlotter dan Elke Spielmanns-Rome, disebutkan bahwa “In China, you are expected to share the table, share the food, and share the pleasure”, kemudian, “A Chinese host would be very reluctant to relinquish the honor of hosting a meal”. Budaya komunal yang indah ini pulalah yang diresapi Cici, dan dibagi kepada sahabatnya: Ibu, dan juga anak-anaknya.

Astrid Reza, seorang peneliti dari RUAS (Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia), yang juga keturunan keluarga Hokkien peranakan, juga menjelaskan bahwa makan bersama adalah tradisi yang paling penting bagi keluarga Tionghoa peranakan.

“Sekali makan di meja yang bundar dan besar tersebut, biasanya bisa berkumpul beberapa generasi. Zaman dulu itu pasti riuh banget di meja makan. Saling berbagi berkah cerita. Zaman sekarang agak berkurang interaksinya ketika orang-orang lebih banyak pegang handphone”, jelasnya.

Sedikit banyak, apa yang saya lihat dan resapi dari budaya keluarga Cici semasa saya kecil, turut memengaruhi bagaimana cara saya mengelola pertemanan dan persahabatan di tanah rantau. Saya yang sejak kecil belum pernah memiliki meja makan, menjadikannya barang pertama yang dibeli setelah menikah. Meja makan adalah medium yang paling pas bagi saya yang hobi masak, dan teman-teman yang hobi makan, untuk saling merawat, unload beban hidup masing-masing dan menjadi ruang aman bagi kami untuk saling bercerita akan banyak hal.

Infografik Miroso Persahabatan Meja Makan

Infografik Miroso Persahabatan Meja Makan. tirto.id/Tino

Dari waktu ke waktu, saya dan teman-teman menjadwalkan untuk makan bersama di rumah. Menu yang paling banyak “dipesan” mereka adalah nasi liwet yang komplit dengan ikan peda merah goreng yang dikucuri jeruk sambal, nasi hainan dengan ayam rebus berkondimen sambal kecap asin dan cuka, nasi tutug oncom yang berpasangan serasi dengan tempe mendoan, bubur a la Kanton bertabur cakwe renyah, hingga sayap ayam bumbu Korea. Saya tidak merasa permintaan mereka (yang banyak) ini sebagai beban. Sebaliknya, saya malah terpacu untuk meracik dan menyuguhkan yang terbaik untuk mereka.

Ingatan akan tokoh Monica dalam serial Friends yang banyak saya tonton di rumah Cici pun, menginspirasi saya untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam menjamu chosen family, keluarga non-biologis saya di sini. Spirit Monica yang hobi masak, gila akan kebersihan dan cerewet perkara well being teman-temannya, adalah hal yang ingin saya duplikasi, kini hingga nanti.

Dinamika di meja makan saya juga hampir serupa dengan apa yang terjadi dalam serial Friends: ada Rachel yang membawa gosip-gosip dari kantornya untuk diceritakan di tengah makan siang, ada Joey dan Ross yang tidak suka makanan di piringnya dicomot yang lain, ada Chandler yang makan sambil bercerita tentang kegagalan hubungannya dengan Janice, juga sosok Phoebe yang cenderung pilih-pilih makanan sambil berkomentar ini dan itu. Semua membawa isu masing-masing, tapi pada akhirnya, makan bersamalah yang bisa menyelesaikan separuh dari segala permasalahan.

Bagi saya, meja makan juga adalah simbol perpanjangan kasih di antara sahabat; di sana banyak terjadi pertukaran energi cinta, penerimaan, penghargaan dan tempat tanpa penghakiman atas kerapuhan masing-masing.

Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Tetapi semoga kita semua diberkati oleh orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal, tetap mengerti, saling mengasihi dan menjalani kebersamaan hingga puluhan tahun ke depan.

“I’ll be there for you, cause you're there for me, too..” 🎶

Baca juga artikel terkait MIROSO atau tulisan lainnya dari Ismi Rinjani

tirto.id - Miroso
Kontributor: Ismi Rinjani
Penulis: Ismi Rinjani
Editor: Nuran Wibisono