tirto.id - Jemaah haji Indonesia gelombang kedua mulai diberangkatkan dari Bandara Madinah menuju Tanah Air pada Selasa (16/6/2026) dini hari. Jemaah kloter pertama telah tiba di bandara pada Senin (15/6/2026) pukul 20.00 waktu Arab Saudi.
"Kami telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dengan Daker Madinah maupun berbagai otoritas di bandara. Kami telah menyiapkan petugas yang akan memberi pelayanan," kata Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, kepada tim Media Center Haji.
Basir mengatakan, jemaah yang akan diberangkatkan dari Bandara Madinah pada hari pertama fase pemulangan gelombang kedua ini sebanyak 8.500 jemaah. Ada 22 kloter yang dijadwalkan terbang mulai Selasa (16/6/2026) pukul 00.20 hingga 23.59 WAS.
"5 jam sebelum take off, jemaah sudah bisa masuk ke bandara, dan estimasi 4 jam atau 3 jam sebelum take off, jemaah didorong masuk ke gate imigrasi," kata Basir.
Kepulangan diwarnai suasana haru yang menyelimuti perasaan para jemaah.
Di satu sisi, mereka merasakan kerinduan untuk segera berkumpul kembali bersama keluarga di kampung halaman, namun di sisi lain, ada kesedihan karena harus melangkah pergi meninggalkan Tanah Suci.
Jalal, salah satu jemaah dari Kloter KJT 21 rombongan 4, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada seluruh jajaran petugas haji. Menurutnya, keberadaan petugas di setiap sudut tempat ibadah memberikan rasa tenang dan aman, sehingga jemaah tidak perlu merasa khawatir tersesat atau telantar.
“Awalnya saya khawatir makanan di sini tidak cocok di lidah, ternyata rasanya sama seperti di rumah. Mau ke Masjidil Haram ada bus gratis, dan hotel di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Bahkan saat saya lupa menaruh sandal, sepulang salat Dhuhur saya bertemu petugas dan langsung diberi sandal jepit. Saya sangat berterima kasih karena lantai di sini sangat panas," ujar Jalal dengan penuh haru.
Senada dengan Jalal, Ishak yang merupakan jemaah haji yang sudah dua kali menunaikan rukun Islam kelima ini, merasakan adanya perubahan dan peningkatan kualitas pelayanan yang sangat mendasar jika dibandingkan dengan pengalamannya saat pertama kali berhaji pada 2012 lalu.
Saat ini, kehadiran petugas yang sigap di berbagai titik krusial sangat membantu jemaah, khususnya dalam mengarahkan rute, mengurus barang bawaan, hingga memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia.
“Dulu pelayanan tidak seperti ini. Sekarang petugas ada di mana-mana untuk mengarahkan kita, bahkan mau naik bus saja koper dibawakan, dan jemaah lansia banyak yang digendong. Kami menjadi tidak khawatir dan bisa lebih fokus ibadah. Namun, rasanya sedih harus meninggalkan Madinah dan Makkah sekarang. Rasanya masih ingin berlama-lama ibadah di sini, tapi hati juga rindu rumah. Semoga kami masih diberikan kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci,” tutur Ishak.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































