Lebaran Terakhir Diponegoro di Tanah Jawa

Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau Pangeran Diponegoro. Foto/istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 27 Juni 2017
Dibaca Normal 3 menit
Diponegoro ditangkap waktu berlebaran bersama De Kock. Penangkapan yang menjadi akhir perlawanan sang pangeran di Tanah Jawa.
tirto.id - Militer Belanda di bawah Letnan Gubernur Jenderal de Kock yang bersahabat, membiarkan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya berpuasa dengan damai di sekitar pegunungan Menoreh. Namun ini malah membuat Diponegoro dan pengikutnya jadi lengah, sampai akhirnya Diponegoro ditangkap dengan mudah saat hari lebaran.

Ini berawal saat Diponegoro sedang tak ingin menangani persoalan serius dalam menjalani puasa-puasanya di 1830—yang bertepatan dengan 1245 hijriah. Merespons hal itu, lawan sang Pangeran, yakni Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus baron de Kock setuju. “Diponegoro sudah mengatakan, dalam bulan puasa yang akan berakhir 27 Maret 1830, ia tidak mau mengadakan pembicaraan apa pun,” tulis P Swantoro dalam Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (2002).

Di masa-masa keterpurukan, Diponegoro menyempatkan diri beramah-tamah dengan lawannya. “Hanya selepas bulan puasa pembicaraan yang lebih serius dapat dilakukan,” tulis Peter Carey, dalam bukunya Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (2014). Hari pertama puasa 1830 Masehi, atau 1 Ramadhan 1245 hijriah itu, jatuh pada 25 Februari 1830. Masa-masa di bulan puasa, juga digunakan sang Pangeran untuk beristirahat. Sang Pangeran bahkan sempat dirawat gejala malarianya oleh dokter militer di garnisun militer Belanda yang cukup kuat di sekitar pegunungan Menoreh.

Pada tengah hari 8 Maret 1830, di hari ke-12 Ramadhan itu, Diponegoro dan pasukan bertombaknya memasuki kota Magelang. Untuk sebentar bertemu de Kock dan pejabat lain di kantor Residen Kedu. Menurut Carey, dia masuk bersama “para panglimanya yang masih muda-muda, serta anggota rombongan yang jumlahnya sudah membengkak menjadi 800 orang.” Dalam pertemuan itu, de Kock dan Diponegoro “saling cerita bertukar lelucon dan menemukan mata saat bertemu,” tulis Carey.

Jika hari itu, Diponegoro diringkus saat itu juga, menurut Carey, “Belanda takut mereka akan menghadapi pertempuran baru lagi jika pemimpin Perang Jawa itu ditangkap secara paksa dengan kekuatan militer.”

Meringkus Diponegoro saat itu juga bisa dilakukan Jenderal de Kock. Dia merasa, Diponegoro bisa saja kabur dan terus melawan lagi lain waktu bila dibiarkan. Namun de Kock sadar hal itu “tidak terpuji, tidak ksatria dan curang karena Diponegoro telah datang ke Magelang dengan niat baik bertemu saya,” aku de Kock seperti dikutip Carey.

Bagaimana pun “Diponegoro masih memiliki banyak pendukung, di mana orang menghormati dan mengelu-elukan dia,” lapor Gubernur Jenderal van den Bosch ke petinggi kerajaan Belanda—seperti ditulis Carey juga dalam bukunya. Itulah kenapa armada Belanda di bawah de Kock memilih tak segera menindak.

Setelah pertemuan itu, Diponegoro dan pengikutnya berkemah di Matesih, tepi Kali Progo. Di mana perwira bernama Mayor Francois Victor Henri Antoine Ridder de Steur, yang tak lain mantu de Kock, melukis perkemahan tersebut.

Carey mencatat, seorang mata-mata yang dipasang Residen Frans Gerhardus Valck, yakni Tumenggung Mangunkusumo yang ditempatkan ke rombongan Diponegoro, akhirnya memasok laporan yang membuat de Kock jadi makin menganggap Diponegoro bahaya besar. Berdasar laporan, Diponegoro tetap berkeras agar diakui sebagai Sultan di bagian selatan Jawa.

Pada 25 Maret 1830—29 Ramadhan 1830—jelang lebaran, de Kock sudah memilih untuk “tidak terpuji, tidak ksatria dan curang” kepada Diponegoro. Letnan Kolonel du Perron dan Mayor AV Michels diperintahkannya mempersiapkan pasukan di sekitar kantor Residen Kedu. Untuk mengamankan penangkapan sang Pangeran jika datang nanti. Penjagaan pun meningkat dua kali lipat.




Lebaran (1 Syawal 1245) tahun itu, menurut www.habibur.com/hijri/1245, jatuh pada 26 Maret 1830. Sementara menurut sumber lain, termasuk Carey, lebaran hari pertama (1 Syawal 1245) jatuh pada 27 Maret 1830. Namun di luar persoalan tanggal persis kapan hari pertama lebaran di 1830, saat itu adalah hari-hari terakhir sang Pangeran menikmati lebaran terakhirnya di Tanah Jawa.

Di hari kemenangan umat Islam itu, Diponegoro mengadakan pertemuan dengan pihak Belanda, ia mendatangi de Kock. Residen Valck menyambut Diponegoro dan mempertemukannya dengan de Kock. Pertemuan itu digadang-gadang jadi momentum tawar menawar soal mengakhiri Perang Jawa dan keinginan adanya kesultanan di selatan Jawa.

Menurut catatan Peter Carey, ketika Diponegoro masuk ke tempat perundingan, ia didampingi ketiga putranya, dua punakawan dan penasihat agama. Perwira-perwira menengah Belanda seperti Letnan Kolonel Roest, Mayor de Steur, Kaptep JJ Roeps sang penerjemah juga ada di dalam gedung.

Komandan Artileri Letnan Kolonel Aart de Kock van Leeuwen dan komandan kaveleri Mayor Johan Jacob Perie di luar mengawasi pengikut Diponegoro sambil berbaur. Tak ada rasa curiga dari pihak Diponegoro yang terlanjur percaya pada pihak Belanda dengan bebas berpuasa sebulan tanpa perang. Lagipula hari itu masih suasana lebaran, yang membuat siapa saja yang merayakan tak terpikir untuk melakukan kekerasan. Namun, Diponegoro dan pengikutnya lupa, Belanda adalah musuh mereka.

De Kock mau Pangeran tak perlu kembali ke Metesih dan tinggal di Keresidenan saja. Diponegoro bingung dengan ucapan jenderal Belanda itu. “Saya hanya sebentar menemuimu untuk kunjungan ramah-tamah, sebagai mana adat Jawa setelah bulan puasa. Mereka yang muda pergi mendatangi rumah mereka yang lebih sepuh untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan tahun yang lewat. Dalam hal ini engkau, Jenderal, adalah pihak yang lebih tua,” jelas Diponegoro--ucapan ini tentu tak akan memengaruhi de Kock.

“Alasan saya (ingin) menahan(mu) ialah karena karena saya ingin membuat semua persoalan di antara kita menjadi jelas hari ini,” kata de Kock.

Diponegoro makin heran dengan orang-orang Belanda yang dia datangi untuk lebaran justru bicara masalah politik yang agak berat. Dia belum siap untuk bicara masalah politiknya. Diponegoro melihat de Kock begitu ingin menangkapnya dan meyakinkan jika dia tak ingin apapun kecuali jadi kepala agama Islam di Jawa dan gelar Sultan. Namun, banyak narasi menyebut kala itu Diponegoro sedang mulai berunding dengan Belanda di hari lebaran itu dan perundingan itu buntu.

Apa yang terjadi setelahnya adalah, Diponegoro ditangkap dan dipisahkan dari pengikutnya. Pada Mei-Juni tahun itu, ia diasingkan ke Sulawesi oleh Belanda. Hingga tahun-tahun berikutnya, puasa dan lebaran Diponegoro harus dihabiskan di Makassar dan Manado. Tahun itu jadi lebaran terakhir sang pangeran di tanah Jawa.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
DarkLight