Piala Dunia 2018

Kultus Para Pemenang dan Watak Juara dalam Diri Deschamps

Oleh: Eddward S Kennedy - 19 Juli 2018
Dibaca Normal 6 menit
Melihat keberhasilan Deschamp yang berhasil memenangi segala trofi di lapangan hijau
tirto.id - “Ada sebuah lelucon. Kira-kira begini: ‘Bagaimana Anda dapat memasukkan 20 orang Basque ke dalam sebuah minivan? Katakan kepada mereka hal itu tidak dapat dilakukan’. Well, itulah saya, seorang Basque. Saya memutuskan untuk melakukan sesuatu dan berusaha mewujudkannya. Di Pays Basque, kami menyebut hal itu valeur.”

Lelucon tersebut dilontarkan Didier Deschamps dan dimuat dalam laporan The Independent berjudul "Didier Basques in `Water-Carrier' Role" yang tayang pada 16 Juli 1999. Jika disarikan, lelucon itu kurang lebih mengungkapkan sikap pantang menyerah orang-orang Basque tiap menghadapi situasi sulit. Itulah yang kelak menjadi karakter Deschamps sebagai seorang pesepakbola.

Deschamps lahir di Bayonne, sebuah kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Kota ini unik karena mayoritas penduduknya merupakan orang-orang Basque. Ketika kecil, Deschamps sempat masuk klub rugby bernama Biarritz Olympique. Sementara karier sepakbolanya dimulai lewat sebuah klub amatir, Aviron Bayonnais. Kedua klub olahraga ini sama-sama didirikan orang-orang Basque yang berada di Prancis.

Sebagai pesepakbola, Deschamps tidak diberkahi teknik memukau seperti Zinedine Zidane atau insting mencetak gol setajam Thierry Henry. Namun, di lapangan ia melakukan segala hal yang mampu demi melindungi pertahanan dan memutus serangan lawan: menjegal, menekel, menabrak, adu kaki. Atas berbagai tindakan “kotor” yang tidak semua pemain bersedia melakukannya tersebut, Eric Cantona memberinya julukan: porteur d`eau, "si pengangkut air".

Dalam konotasi yang negatif, julukan "si pengangkut air" itu tampak seperti olok-olok. Padahal, "si pengangkut air" bisa dibaca sebagai pujian terhadap tindakan pengorbanan yang vital.


Ia mengakuinya tanpa tedeng aling-aling: "Aku si pengangkut air. Aku mengangkut air untuk Cantona selama lima tahun. Itu adalah tugas saya karena saya memang tidak memiliki keterampilan seperti (Gianfranco) Zola atau (Gustavo) Poyet. Saya melakukan tugas lain.” Dengan sikap seperti itulah Deschamps kelak menjadi satu dari sedikit pesepakbola dunia yang mampu meraih seluruh trofi bergengsi.

Di Marseille, ketika usianya masih 24 tahun, ia sudah membukukan rekor sebagai kapten termuda yang berhasil meraih gelar Liga Champions. Di Juventus, ia meraih segalanya, termasuk gelar Liga Champions lagi pada musim 1995/1996. Sementara di level tim nasional, ia menjadi kapten pertama Perancis yang mengangkat trofi agung Piala Dunia. Ia juga pernah mengangkat trofi Piala Eropa sebagai kapten Perancis di Euro 2000.

Keberhasilan tersebut berlanjut ketika ia berkarier sebagai pelatih. Kendati nyaris hanya akan dijuluki sebagai mister runner up (membawa Monaco sebagai runner up di Liga Champions musim 2003/2004 dan juga juara kedua bersama Perancis di Euro 2016), Deschamps akhirnya sukses membuat negaranya merengkuh Piala Dunia untuk kedua kalinya.

Dengan segala pencapaiannya tersebut, Deschamps seolah mewakili apa yang disebut Aime Jacquet sebagai culte de la gagne alias "kultus pemenang”.

Filosofi Deschamps dalam Sosok Olivier Girourd

Sebelum Piala Dunia 2018 digelar, Cantona sempat menyindir karakter kepelatihan Deschamps yang dianggap konservatif dan menjemukan: “Seorang pelatih hebat dinilai berdasar kemampuannya menemukan taktik yang dapat membuat para pemain hebat mengekspresikan bakat mereka. Itu tak akan terjadi jika Anda dilatih oleh seorang akuntan ketimbang visioner.”

Deschamps, sebagaimana sosoknya ketika aktif bermain, memang seorang pragmatis. Itulah kenapa dia akan melakukan segala cara demi meraih kemenangan. Baginya, permainan indah hanyalah omong kosong jika tak dapat menghasilkan (gelar) apapun. Maka tak perlu diherankan jika filosofi kepelatihannya memang bak seorang akuntan: akurat dan tidak bertele-tele.

“Bagi saya, kesenangan hanya muncul dalam kesuksesan. Dengan kata lain, skor akhir menjelaskan semuanya, kemenangan adalah yang terpenting, dan seterusnya,” ujar Deschamps kepada Independent.

Dalam diskusinya dengan Jean-Claude Suaudeau, legenda di kepelatihan Nantes FC, yang dihamparkan utuh dalam salah satu edisi The Blizzard, Deschamps menjelaskan moralitasnya tersebut dengan merujuk konteks sepakbola di Italia.

Deschamps: Barcelona bermain dengan filosofi mereka. Tapi kadang mereka juga salah, seperti ketika mereka membawa Ibrahimovic. Mungkin ia didatangkan untuk memberi sesuatu yang berbeda, tapi itu tidak terjadi.

Suaudeau: Kenapa tidak berhasil? Terlalu individualistis? Tidak sama sekali! Dia terlalu kaku! Dia seperti patung. Dan menempatkan para pemain dengan mobilitas tinggi di sekelilingnya membuat ia tampak makin buruk. Dia tidak ambil bagian dalam pergerakan kolektif tim.

Deschamps: Di Italia, dia tidak diminta untuk bermain kolektif dan tidak diminta untuk menekan lawan.

Suaudeau: Italia adalah contoh dari apa yang Anda katakan tadi (mengenai kebutuhan tim agar dapat menjadi juara): seorang kiper hebat dan penyerang yang mencetak gol.

Deschamps: Selama dia mencetak gol, siapa yang peduli jika ia hanya dua kali menyentuh bola? Pemain seperti David Trezeguet mirip ikan di dalam air jika di Serie A. Seperti Ibrahimovic. Mereka adalah pemain yang tidak memerlukan pemain lainnya. Di Barca, semua pemain terkoneksi satu sama lain.

Dengan menggeser konteksnya sedikit, perdebatan di atas dapat menjadi jembatan untuk memahami mengapa Deschamps tetap ngotot memainkan Olivier Giroud sebagai penyerang tengah Prancis di Piala Dunia 2018, kendati banyak orang meragukan kapasitasnya.

Lima kali secara beruntun dipasang Deschamps, 11 kali melepaskan tembakan, tapi tidak ada sebiji gol pun yang berhasil dicetak oleh pemain Chelsea tersebut. Jawabannya: karena peran Giroud tidak hanya untuk mencetak gol, melainkan juga demi bertahan dan membuka ruang bagi rekannya yang lain. Secara teknis, Giroud diposisikan sebagai defensive forward oleh Deschamps.


Prinsip sepakbola saat ini kerap ditandai dengan transisi cepat dari menyerang ke bertahan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan high pressing atau kembali ke daerah pertahanan secepat mungkin setelah kehilangan bola. Namun situasi tersebut jelas tidak dapat melulu dilakukan dengan sempurna. Untuk itu, solusi yang biasa dipilih adalah melakukan pelanggaran. Semakin jauh jarak pelanggaran dari area pertahanan, maka semakin bagus bagi tim yang melanggar.

Peran defensive forward menjadi krusial dalam hal ini. Selain harus lihai dalam melakukan pressing maupun melakukan man-to-man marking terhadap salah satu pemain tengah atau pemain belakang lawan, seorang defensive forward juga harus berani (dan mampu) melakukan pelanggaran ketika memang diperlukan. Tentu saja tidak semua pemain depan cocok untuk berperan sebagai seorang defensive forward. Filipo Inzaghi atau Ruud van Nistelrooy, misalnya, tampaknya tidak mungkin dapat melakoni peran ini karena karakter permainan mereka.

Bagi Guillem Balague, salah satu pengamat sepakbola Spanyol ternama, Raul Garcia adalah tipikal defensive forward yang ideal, justru karena ia tidak cukup baik bermain sebagai penyerang tengah maupun gelandang serang nomor 10. Balague mengatakan:

“Dia adalah pemain sempurna di posisi 9½. Dia bukan pemain nomor sembilan, tapi dia juga bukan seorang gelandang yang sering terlibat dalam build-up serangan. Tetapi dia bisa sangat berbahaya saat muncul dari lini kedua. Dia adalah seorang pekerja keras saat kehilangan bola dan penuntas serangan yang brilian.”

Peran defensive forward sejatinya tidak baru-baru amat. Jika diamati, ketika Belanda mulai memainkan Total Football pada 1974, peran defensive forward sesungguhnya sudah dilakoni oleh semua pemain depan. Sementara dalam final pertandingan Piala Winners 1991 antara Manchester United versus Barcelona, Alex Ferguson menempatkan Brian McClair dengan posisi sedikit lebih ke dalam.


Dalam pertandingan tersebut, United bermain dengan formasi 4-4-1-1, dan McClair mempunyai satu tugas khusus: mengganggu Ronald Koeman, pengatur serangan Barcelona di lini belakang. Tugas yang kelak dikerjakan dengan apik oleh McClair. Dengan ritme serangan yang kerap berantakan, permainan Barca pun menjadi tak berkembang hingga akhirnya kalah 1-2 dari United. Fergie pun berhasil meraih gelar Eropa pertamanya bersama Red Devils.

Di timnas Perancis, Giroud juga diminta selalu sigap untuk menjadi blok pertama dalam menahan gempuran lawan. Sementara ketika Les Bleus melakukan serangan balik, ia diwajibkan untuk menarik konsentrasi bek lawan demi terciptanya ruang bagi rekan-rekannya.

Tentu saja tugas utamanya sebagai striker adalah mencetak gol. Namun dengan taktik sepakbola yang terus berevolusi, Giroud justru dapat memiliki kemampuan yang lebih lengkap dari “sekadar” striker kebanyakan. Melihat Giroud di Piala Dunia 2018, nyaris sama seperti menyaksikan penampilan Stephan Guivarc’h di Piala Dunia 1998.

"Memang benar Olivier belum mencetak gol,” ujar Deschamps beberapa hari sebelum final digelar. “Dia penting dalam gaya permainan kami dan kami membutuhkan dukungan dari caranya bermain. Tentu bagus jika dia mencetak gol, tapi Olivier selalu murah hati dan tidak mengeluh untuk bekerja lebih keras. Dia mungkin tidak memiliki gaya permainan yang flamboyan, tapi tim membutuhkannya kendati ia tidak mencetak gol.”

Infografik Karier Didier Deschamps

Watak Sepakbola Pemenang

Ada banyak perdebatan abadi dalam sepakbola: Garrincha atau Pele? Franz Beckenbauer atau Johan Cruyff? Hungaria era Magical Magyars atau Barcelona era Guardiola? Apakah bola sepakan Geoff Hurst sudah melewati gawang Hans Tilkowski atau belum? Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi? Dari sekian topik tersebut, ada satu yang kerap diperdebatkan hingga berdarah-darah: sepakbola indah atau pragmatis?

Tak pernah jelas kapan perdebatan mengenai dua karakter sepakbola tersebut dimulai. Namun pemicunya bisa jadi sejak Hungaria dikalahkan Jerman Barat dalam final Piala Dunia 1954 yang dikenang dengan sebutan Miracle of Bern. Perdebatan ini kembali memuncak kala Belanda takluk (lagi-lagi) dari Jerman Barat di final Piala Dunia 1974. Empat tahun berikutnya, tanpa kehadiran Johan Cruyff, Belanda kembali gagal di final usai dikalahkan tuan rumah Argentina.

Usai kekalahan dua kali beruntun tersebut, Belanda dianggap banyak orang sebagai tim terbaik yang tak pernah memenangkan sesuatu yang besar. Sementara Jerman, yang kerap merusak keindahan permainan tim lawan justru karena sering menang, acapkali diposisikan layaknya party poopers, si perusak pesta. Atau meminjam istilah Scott Murray dalam esainya di The Guardian yang berjudul "On Second Thoughts: The 1974 World Cup Final": The roundheads who routed the cavaliers.


Tentu tidak adil jika tim yang bermain bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik dilabeli negatif atau secara ekstrim dituduh “anti football”—sebagaimana sindiran Thibaut Courtois kepada Perancis usai laga semifinal. Tiap bangsa, suka atau tidak, punya watak sepakbolanya masing-masing. Dan jika semua diminta memainkan sepakbola indah, maka siapa yang indah sebetulnya?

Kick n’ Rush di Inggris menciptakan Stuart Pearce atau Kevin Keegan dan kerap diidentifikasi lewat potret wajah bersimbah darah Terry Butcher. Garrincha atau Ronaldinho mewakili keindahan Jogo Bonito lewat kemampuan meloloskan bola di sela-sela kaki lawan sembari tersenyum girang. Italia memahami sepakbola lewat diving, taktik yang dibedah hingga ke lapisan mikroskopis, lalu sekoper uang untuk wasit dan pemain lawan.

Sepakbola Jerman adalah melulu soal konsistensi, disiplin, dan baru panas ketika benar-benar dibutuhkan. Olah tubuh orang Argentina mungkin tidak seelastis manusia Brazil, tapi sepakbola mereka melahirkan pemain yang mampu menimang-nimang jeruk dengan tumit: dari Alferdo Di Stefano, Maradona hingga Lionel Messi. Sementara bagi Belanda, wabilkhusus penganut mahzab Cruyffian, sepakbola adalah tentang operan demi operan serta kejelian mencipta dan memanfaatkan ruang.

Jika kemenangan Perancis dalam Piala Dunia 1998 berhasil menggemakan kembali slogan “liberté, égalité, fraternité” (kebebasan, keadilan dan persaudaraan) dan mengenyahkan segregasi rasial yang kala itu kerap mencuat, keberhasilan Perancis 2018 di bawah Deschamps sulit diidentifikasi dengan watak sosiologis apapun selain sebagai pertunjukan sepakbola in-between: cukup terbuka untuk dituduh memainkan parking bus, namun terlalu tertutup untuk dianggap ofensif, mudah dianggap negatif football, tetapi toh dapat mencetak 4 gol.

Sepintas, Deschamps mungkin mirip Jose Mourinho. Sama-sama mengontrol lawan dengan cara memaksa mereka menguasai bola dan mengumpan sebanyak mungkin, bersikap seolah anti-geometri dengan menyusutkan ruang agar lawan kebingungan mencari posisi, sengaja melambatkan tempo pertandingan lalu menyerang secepat kilat saat mendapat peluang. Namun, dengan catatan 14 gol dalam tujuh pertandingan (empat gol di final): tim defensif mana yang melakukan hal tersebut di Piala Dunia?


Terlepas dari segala tudingan yang ada, nama Deschamps sudah resmi tercatat dalam lembar sejarah emas sepakbola. Keyakinannya untuk terus menjadi pemenang adalah watak sepakbolanya. Sebagaimana yang juga sempat ia jelaskan dalam potongan lain diskusinya dengan Suaudeau di The Blizzard.

Suaudeau: Ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan Anda. "Kultur pemenang" Anda yang terkenal itu, apakah Anda pikir itu tidak bermasalah?

Deschamps: Itu adalah santapan harian Serie A. Itu adalah sistem sepakbola yang telah memenangkan banyak piala dan saya mendapatkan banyak inspirasi dari sana. Anda tahu itu.

Suaudeau: Saya berbeda dari Anda dalam hal itu. Saya seorang pendidik.

Deschamps: Saya tidak! Saya seorang kompetitor.

Suaudeau: Ada ungkapan "menang dengan segala cara". Itu tidak pernah terlintas dalam pikiran saya.

Deschamps: Bagi saya, kesenangan hanya muncul dalam kesuksesan.

Suaudeau: Tchah! Kesuksesan yang Anda bicarakan itu tidak bertahan lama. Memang hebat, tapi hanya dalam waktu singkat.

Deschamps: Saya memilih senang dengan cara ini. Bermain bagus tanpa kemenangan bagi saya adalah “tidak”.

Suaudeau: Dan saya sebaliknya. Saya dapat menemukan banyak elemen (dalam kekalahan) yang memungkinkan saya untuk menang keesokannya. Anda hidup untuk saat ini. Saya berusaha melampaui itu semua.

Deschamps: Saya memahami perspektif Anda, karena saya tahu, keberhasilan hanya akan didapat setelah melewati kegagalan terlebih dahulu. Tetapi, hari ini, sepakbola tingkat tinggi adalah tentang kemenangan.
Apa boleh bikin, Deschamps memang seorang pemenang. Bahkan hingga di level terburuk pun ia tetap ingin menang. Tahukah Anda jika Deschamps juga memenangi gelar Serie B saat melatih Juventus?

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS