tirto.id - Pertengahan Januari 1964, The Beatles tampil di Olympia Theatre. Tur di Paris itu berlangsung dari 16 Januari sampai 4 Februari 1964.
Mereka menginap di Hotel Four Seasons yang saat itu bernama Hotel George V, salah satu hotel mewah paling bergengsi di Paris. Pada penampilan perdana malam itu, menurut Peter Lennon, beberapa fotografer asal Prancis dan Inggris saling berebut memotret Paul McCartney dan kawan-kawan, bahkan sampai terjadi perkelahian fisik.
"Mereka merusak kamera saya," kata seorang fotografer Prancis saat terjadi keributan besar di koridor belakang panggung.
Penampilan perdana The Beatles bersama penyanyi pop Prancis, Sylvie Vartan, jauh dari histeria yang biasa mereka terima di Inggris. Media Prancis menyebut anggota mereka tidak lebih dari sekadar pemuda urakan. Sementara The Beatles merasa sepanjang tur itu kurang begitu bersemangat karena penonton Paris yang kaku.
Namun pada malam 18 Januari, tiba-tiba emosi mereka berubah saat sang manajer, Brian Epstein, membawa kabar telegram ke tempat mereka menginap. Pesan itu mengabarkan bahwa lagu "I Want to Hold Your Hand" baru saja menempati posisi nomor satu di Amerika Serikat, sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan bagi band asal Inggris.
"Kami tidak bisa memercayainya. Kami semua baru saja mulai bertingkah seperti orang-orang dari Texas, berteriak dan berteriak, 'Yah-hoo!'," tutur drumer, Ringo Starr, menggambarkan suasana malam itu.
Paul McCartney yang sedang minum brendi merasa seolah melayang seminggu penuh. Sementara George Harrison menilai betapa pentingnya memasuki AS dengan status juara tangga lagu.
Fotografer Harry Benson, yang ditugaskan mengikuti The Beatles selama konser mereka di Paris, kebetulan berada di suite yang sama. Ia lalu mengabadikan momen perayaan mereka lewat foto "Pillow Fight" alias perang bantal.
Perayaan itu berlangsung hingga dini hari, menjadi titik balik sambutan dingin Paris dan membuka jalan untuk fenomena British Invasion (band Inggris mendominasi musik AS).
Lagu yang Menaklukkan AS
Kesuksesan "I Want to Hold Your Hand" lahir dari proses kreatif yang sederhana. Pada September 1963, Lennon dan McCartney menulis lagu itu di ruang bawah tanah rumah keluarga Asher di London.
Duduk berdampingan pada piano, mereka berbagi ide mengikuti arahan Brian Epstein yang ingin sebuah lagu khusus untuk pasar AS. Dari sesi itu muncul akor tak terduga yang segera dikenali Lennon sebagai inti lagu. Lingkungan sekitar, termasuk paparan musik jazz dari fotografer Robert Freeman, ikut menyusup ke dalam struktur melodi.
Liriknya polos, hanya tentang keinginan memegang tangan orang tercinta. Ini yang membuatnya mudah diterima lintas usia. Pada 17 Oktober 1963, lagu ini menjadi rekaman pertama The Beatles dengan teknologi empat trek di Abbey Road, memberi George Martin keleluasaan memisahkan vokal dan instrumen. Butuh tujuh belas kali pengambilan agar harmoninya sesuai.
Lagu itu kemudian mendarat di AS lewat seorang remaja, Marsha Albert, di Washington, yang menulis surat ke radio lokal usai melihat liputan CBS tentang The Beatles. Penyiar Carroll James lalu memutar salinan lagu yang dibawa pramugari dari Inggris.
Saat mengudara pada 17 Desember 1963, telepon radio langsung banjir permintaan berulang. Antusiasme publik memaksa Capitol Records mempercepat rilis resmi menjadi 26 Desember. Penjualan melesat, di New York mencapai sepuluh ribu kopi per jam.
Di tengah duka nasional pasca pembunuhan Kennedy, musik The Beatles hadir sebagai pelipur, memicu gelombang budaya pop baru. Lagu ini terjual lebih dari 1 juta kopi pada 10 Januari 1964, dan total mencapai 5 juta kopi di AS saja.
Ketenarannya membawa mereka tampil di The Ed Sullivan Show pada 9 Februari 1964 yang ditonton puluhan juta orang dan menandai awal ledakan budaya pop global.

Kemewahan Hotel George V Paris
Awal 1964, Brian Epstein membawa The Beatles ke Paris sebagai strategi mengubah citra mereka. Ia ingin menghapus bayangan masa lalu di klub Hamburg yang penuh jaket kulit dan perilaku liar.
"Brian memulai pekerjaan pembersihan total pada keempat anak laki-laki itu. Potongan rambut menyusul setelan jas dan seluruh pakaian baru, termasuk kemeja, dasi, sepatu, semuanya, pun menyusul," tulis Alistair Taylor dalam With the Beatles: A Stunning Insight by The Man who was with the Band Every Step of the Way (2011).
Dengan menempatkan mereka di Hotel George V, hotel art deco mewah di kawasan Golden Triangle, Epstein memproyeksikan The Beatles sebagai entertainer kelas dunia. Suite mereka bahkan dilengkapi grand piano yang kelak jadi tempat lahirnya lagu "I Feel Fine".
Hotel ini dinamakan Hotel George V sesuai dengan Raja George V dari Inggris. Dibuka pada tahun 1928, proyeknya dibiayai oleh pengusaha AS Joel Hillman dengan biaya sekitar 60 juta Franc atau setara 31 juta dolar saat itu. Arsitek utamanya adalah Georges Wybo bersama Lefranc, yang juga merancang kasino mewah De Deauville di Normandia.
Pada masa itu, hampir setiap suite memiliki dua kamar mandi, telepon dengan sambungan luar, dan dumbwaiter untuk mengantarkan makanan langsung ke kamar. Bahkan pada 1930, tamu bisa menyewa pesawat kecil Farman untuk penerbangan ke London, Madrid, atau Berlin.
Pada 1 November 1997, ditandatangani kontrak manajemen dengan perusahaan asal Kanada, Four Seasons Hotels and Resorts. Hotel ditutup untuk renovasi dan dibuka kembali pada 18 Desember 1999 sebagai Four Seasons Hotel George V, Paris.
Meski tinggal di hotel bintang lima, rutinitas di Olympia Theatre menguras tenaga. Hampir tiga minggu penuh mereka tampil berkali-kali setiap hari. Salah satu momen paling berkesan terjadi saat EMI Jerman memaksa mereka merekam ulang lagu dalam bahasa Jerman, seperti "Komm Gib Mir Deine Hand (I Want to Hold Your Hand)" dan "Sie Liebt Dich (She Loves You)."
The Beatles menolak bangun dari ranjang, membuat George Martin murka. Ia mendatangi suite dan mendapati mereka sedang bercanda. Begitu Martin masuk, keempatnya berhamburan bersembunyi di balik sofa dan lampu.
"Maaf George, maaf George, maaf George...," kata mereka serempak.
Di balik momen-momen itu hadir Harry Benson, fotografer asal Skotlandia yang awalnya enggan meliput. Lahir di Glasgow, Skotlandia, pada tahun 1929 di tengah bayang-bayang Perang Dunia II, Benson memulai perjalanannya dari bawah.
Ia meninggalkan bangku sekolah pada usia tiga belas tahun demi bekerja di surat kabar lokal Hamilton Advertiser, mengasah instingnya sebelum akhirnya bertarung menembus kerasnya persaingan jurnalistik Fleet Street di London, berawal dari Daily Sketch hingga berlabuh di The Daily Express yang membawanya bersinggungan dengan sejarah pop dunia.
Awalnya, Benson dijadwalkan terbang meliput ke Kenya. Namun, Frank Spooner, redaktur fotonya, membelokkannya ke Paris untuk mendokumentasikan tur The Beatles di Paris. 15 Januari 1964, Benson mendapat akses penuh ke ruang pribadi The Beatles, memungkinkan dunia melihat sisi manusiawi mereka.
Satu Jepretan Bantal Ikonik
Kedekatan Harry Benson dengan The Beatles mencapai puncaknya pada malam telegram kemenangan dari AS tiba. Sekitar pukul tiga dini hari, suasana suite Hotel George V masih dipenuhi sisa euforia.
Benson memancing mereka untuk difoto bertarung bantal, yang awalnya ditolak John Lennon.
"Kita akan kelihatan konyol dan kekanak-kanakan," kata John.
Tapi John diam-diam menyelinap dari belakang, memukul kepala Paul McCartney dengan bantal. Seketika keempatnya terlibat perkelahian spontan, bulu-bulu beterbangan, dan tawa pecah.
Benson yang menggunakan kamera Rolleiflex 120, sigap mengabadikan semuanya tanpa arahan, hanya mengikuti naluri.
"Saya terus memotretnya, bang bang boom boom dengan Rolleiflex dan mereka tertawa. Anda lihat, mereka tertawa sepanjang waktu. Saya tidak punya asisten atau apa pun dan saya hanya menggunakan satu flash," ujar Benson dalam wawancara dengan Time.
Foto hitam putih itu menangkap momen sebelum ketenaran menelan mereka. Benson lalu mencuci gulungan filmnya di wastafel kamar hotel. Ada 23 frame yang berhasil dicetak dan satu foto gagal. Ketika foto dirilis, gambar itu menjadi katarsis visual di tengah ketegangan Perang Dingin, sekaligus mahakarya yang Benson anggap sebagai puncak kariernya.
"Dan ironi: pria dewasa mengenakan piyama, bertingkah seperti anak-anak," tulis Benson dalam kolomnya "When the Beatles Stormed America, I Was With Them".
Bagi Benson, foto perang bantal adalah satu-satunya karya yang ia anggap sempurna, tanpa cacat teknis, sebuah persimpangan waktu yang mustahil diulang. Ia melihatnya sebagai saksi kebahagiaan murni sebelum sinisme industri dan tragedi akhir dekade 1960-an.
"Beatles tidak akan pernah lagi bermain perang bantal, dan saya tidak bisa mengulangi foto itu lagi," sambungnya.
Lebih dari lima puluh tahun kemudian, pada Juni 2014, Hotel George V menggelar pameran "I Feel Fine" untuk merayakan 50 tahun Beatlemania, menampilkan karya Benson dalam cetakan besar di lobi dan Le Bar.
Selain The Beatles, kamera Benson juga menangkap figur-figur berpengaruh seperti John F. Kennedy, Winston Churchill, hingga Donald Trump di ranah politik. Ia juga mengabadikan ikon budaya pop seperti Michael Jackson, Madonna, Elizabeth Taylor, hingga tokoh berpengaruh Martin Luther King Jr dan Muhammad Ali.
Kiwari, Harry Benson menikmati masa tuanya di Florida, ditemani dua anak perempuan dan tiga cucu.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































