6 November 1975

Anarchy in the St. Martins: Gigs Pertama Sex Pistols

Oleh: Nuran Wibisono - 6 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Penampilan perdana Sex Pistols ini berakhir dengan perkelahian.
tirto.id - Poster gigs itu memasang tiga warna mencolok: merah, putih, biru. Bukan bendera Belanda, melainkan semacam warna kultural mods, sama seperti hijau, kuning, dan merah bagi reggae. Terpampang jelas di sana nama band yang akan tampil: Bazooka Joe + Support Band. Tempatnya ada di lantai lima St. Martins Art School yang terletak di kawasan Charing Cross Road, yang dikenal sebagai titik nol-nya London. Tanggalnya, 6 November 1975, tepat hari ini 46 tahun silam.

Orang datang tanpa tahu apa siapa yang akan membuka Bazooka Joe. Tak banyak juga yang peduli, sepertinya. Sama seperti sekolah seni pada umumnya, St. Martins juga selalu gegap gempita dengan kegiatan seni. Musik, seni rupa, seni pertunjukan, adalah hal biasa.

Malam itu hanya sekitar 20 hingga 40 orang yang hadir di aula. Di panggung, empat orang berandalan dari band pembuka itu naik ke atas panggung. Mereka tak membawa alat musik. Agar bisa main, mereka harus meminjam peralatan Bazooka Joe.

“Mereka meminta kami untuk meminjami ampli dan drum. Mereka cuma punya gitar,” ujar gitaris Bazooka Joe, Robin Chapekar. “Karena kami pernah ada di posisi itu, kami paham rasanya, dan kami meminjami mereka alat-alat kami.”

Empat orang ini pun main selama 20 menit. Waktu yang lebih dari cukup untuk menunjukkan sisi brutal mereka. Dalam daftar lagu, ada “Substitute” dari The Who, juga (I’m Not Your) Stepping Stone” dari The Monkees. Semua dimainkan dalam volume yang lebih kencang, dan tempo yang lebih ngebut. Tak ada rem, nyaris kosong estetika, nihil tatanan. A pure anarchy in the St. Martins.

“Itu kacau banget. Kami semua gak tahu mereka itu ngapain,” kenang Robin.

Memandang dengan tatapan sinis adalah Danny Kleinman, gitaris Bazooka Joe. Nanti, setelah Bazooka Joe tak lagi aktif dan perlahan dilupakan orang, Danny menjadi sutradara dan title designer untuk banyak film, termasuk beberapa judul film James Bond.

Awalnya Danny menganggap penampilan band pembuka ini normal-normal saja, hanya lebih keras, berisik, dan cepat. Semua berubah ketika empat anak muda di atas panggung itu mulai merusak alat-alat milik Bazooka Joe.

“Awalnya semua baik-baik saja, hingga mereka mulai merusak alat kami,” kata Danny.

Maka meluncurlah satu pukulan ke vokalis band pembuka ini. Akhirnya dua vokalis ini saling tumbuk di tengah dan melahirkan banyak versi cerita. Danny mengingat perkelahian itu hanya singkat, sebelum berhenti karena dipisah. Lainnya mengingat ada kericuhan lebih besar dan lama gara-gara perselisihan dua vokalis ini.

Malam itu, kenang si vokalis band pembuka itu, penampilan mereka tidak mendapatkan tepuk tangan satupun. Meski, bassist Bazooka Joe, Stuart Goddard, mengaku sebagai satu-satunya orang di aula itu yang menyukai band pembuka ini. Karena penerimaan yang baik itu, hubungan Stuart, yang kemudian berganti nama jadi Adam Ant, dan kawan-kawannya di Bazooka Joe memburuk, dan berujung dia keluar dari band.

Bazooka Joe kemudian bubar pada 1977, dan anggotanya berpencar di jalan masing-masing.

Di tahun yang sama, band tanpa nama di poster, yang membuka sekaligus merusak alat musik milik Bazooka Joe itu, merilis album perdananya: Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols.

Infografik Mozaik Sex Pistols
Infografik Mozaik Gebrakan Pertama Sex Pistols. tirto.id/Tino


Karena Kesan Pertama Begitu Brutal


Jika kesan pertama menentukan segalanya, maka jalan hidup Sex Pistols sudah dicanangkan sejak gigs pertama: keras, liar, brutal, enggan mengikuti norma, sering destruktif, dan segala sifat buruk lain yang dilemparkan oleh masyarakat.

Para personel Sex Pistols, dan banyak remaja Britania Raya saat itu, punya semacam pembenaran kenapa mereka bertingkah seperti itu. Ada ancaman perang nuklir, krisis ekonomi, inflasi merangsek, hingga berbagai tekanan terhadap serikat buruh. Maka tak heran kalau para sejarawan dan akademisi, semisal Kenneth O. Morgan, menyebut dekade 1970-an sebagai masa kegelapan bagi Britania Raya.

Di masa seperti itu, wajar belaka kalau Glen Matlock, Paul Cook, Steve Jones, dan Johnny Rotten tumbuh dengan rasa marah terhadap banyak hal. Musik jadi pelampiasan. Namun mereka tak ingin seperti pendahulunya. Mereka membenci Pink Floyd, mencibir Rolling Stones, dan mengabaikan The Beatles.

Kuartet ini ditangani oleh orang yang tepat: Malcolm McLaren. Mantan manajer The New York Dolls ini hadir memberikan pengaruh besar , baik dari segi musik maupun gaya berbusana lewat butiknya, SEX, yang dia jalankan bareng pacarnya kala itu, Vivienne Westwood. Malcolm, yang cukup lama malang melintang di kancah protes kampus, merasa bahwa musik zaman itu, bahkan musik protes sekalipun, terdengar terlalu sopan dan cupu. Perlu ada gebrakan, sengatan baru nan kontroversial untuk menunjukkan sikap.

Sebagai gambaran: di panggung pertamanya, Steve Jones yang merasa grogi menenggak Mandrax —obat penenang. Bukannya tenang, dia malah makin bersemangat. Volume ampli diputar hingga mentok ke kanan. Bising dalam titik tertinggi.

“Itu ampli 100 watt, yang dimainkan lesehan tanpa panggung, dan rasanya dahsyat betul. Semua orang menengok ke penampilan kami. Rasanya seperti manggung ditonton oleh jutaan orang,” kata Jones.

Panggung pertama itu yang kemudian jadi penanda penting kehadiran Sex Pistols. Mereka jadi simbol keberanian (yang seringkali beda tipis dengan kekurangajaran dan kecerobohan), anti kemapanan, ketidakpedulian, juga melahirkan keyakinan: bahwa ada lho musik yang kiblatnya jauh dari para pendahulu, gerombolan old fart yang sudah tidak relevan. Gelombang baru ini kemudian membuat musik yang dengan gagah berani mengolok tatanan sosial dan monarki dengan tajam, tanpa kehilangan selera humor kering ala orang Britania.


Oh when there's no future, how can there be sin

We're the flowers, in the dustbin

We're the poison in your human machine

We're the future, your future


Sex Pistols, diakui atau tidak, termasuk dalam rombongan yang membuka jalan bagi menyebarnya punk di Britania Raya, lalu dunia. Apalagi sejak Glen Matlock keluar, dan digantikan oleh Sid Vicious —bassist yang personanya jauh lebih besar ketimbang kemampuan musikalnya. Mereka jadi simbol punk dan melahirkan dikotomi amat lebar. Mereka diidolakan sekaligus dibenci. Dicaci sekaligus dipuji.

Ada banyak kejadian yang melintas usai Sex Pistols manggung sebagai pembuka Bazooka Joe. Album perdana dan satu-satunya dirilis. Perseteruan sengit antara Sex Pistols dan McLaren. Johnny Rotten menyebut McLaren sebagai kapitalis paling kejam. Sid Vicious meninggal overdosis. Sex Pistols bubar. Reuni bareng Matlock. Johnny Rotten bilang dia tidak benci Pink Floyd, plus mendukung Donald Trump. Punk makin populer, dan pada beberapa momen, mereka yang bergerak di dalamnya perlahan jadi apa yang mereka lawan.

Sex Pistols boleh bubar. Di Indonesia, punk boleh saja bersalaman dan bersekutu dengan militer. Namun hingga sekarang, gigs pertama Sex Pistols terus diingat. Entah sebagai momen manis di mana segalanya masih terasa murni serta jauh dari embel-embel popularitas dan uang; atau sebagai momen kultural penting yang memicu gerakan protes dan anti establishment di seluruh dunia, dan karenanya harus dirayakan setiap tahun.

Seperti yang dilakukan oleh tulisan ini. []

Baca juga artikel terkait SEX PISTOLS atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh
DarkLight