25 Maret 1918

Kisah Claude Debussy dan Pertemuannya dengan Gamelan Sari Oneng

Oleh: Tyson Tirta - 25 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
“Jika Anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal [...] musik kita tak lebih dari sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.”
tirto.id - Claude Debussy adalah komponis Prancis yang dikenal luas sebagai salah satu pembawa aliran impresionis dalam musik Barat. Sejak muda, dunia musik yang dikenal Debussy lebih dekat dengan berbagai fenomena akulturasi budaya daripada murni musik Barat. Akulturasi budaya ini diterjemahkannya dalam sejumlah karya komposisi yang memadukan musik Barat dengan musik etnik. Salah satunya adalah mengeksplorasi harmoni, nuansa, dan ritme gamelan Jawa.

Ceritanya bermula pada 1872. Debussy, yang kala itu baru berumur sepuluh tahun masuk ke Conservatoire de Paris. Sekolah itu adalah salah satu tempat terbaik untuk mendalami ilmu musik di Eropa. Bakat dan minatnya yang tinggi membuatnya bertahan hingga 11 tahun di sekolah tersebut.

Ia belajar piano di bawah asuhan Antoine François Marmontel. Debussy juga mengikuti kelas Albert Lavignac. Minatnya pada bidang komposisi musik mendapat wadah terbaik di kelas komposisi Ernest Guiraud. Selain itu, sebagai tambahan, ia juga belajar harmonisasi kepada Émile Durand dan belajar organ dengan César Franck. Debussy juga mendalami sejarah dan teori musik.

Di awal studinya, Debussy memperlihatkan perkembangan pesat. Marmontel, gurunya, sempat dibuat kagum. Edward Lockspeiser dalam Debussy: His Life and Mind (1978:26) menulis kesan Marmontel:

“[Debussy] seorang anak yang menawan, temperamen yang benar-benar artistik; banyak yang bisa diharapkan darinya."

Namun, kekaguman Marmontel tidak menular kepada guru yang lain. Émile Durand misalnya, justru melihat Debussy sebagai murid yang angkuh. Setelah mengenalnya lebih jauh, Durand bahkan memandang Debussy sebagai musisi muda yang ceroboh. Kesan Durand ini mungkin benar. Setelah beberapa kali lulus dari ujian piano di konservatori, Debussy gagal pada tahun 1878 dan 1879. Secara administratif, kegagalan itu membuatnya tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan kelas piano.

Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti latihan piano. Pada liburan musim panas 1879, Marmontel membantunya mendapatkan pekerjaan sebagai pianis tetap di Château de Chenonceau: tempat tinggal anggota keluarga kerajaan Prancis. Kemewahan itu menginspirasi Debussy untuk menulis komposisi pertamanya yang merupakan interpretasi puisi karya Alfred de Musset yaitu "Ballade à la lune" dan "Madrid, princesse des Espagnes".

Pada tahun berikutnya, seorang pebisnis Rusia bernama Nadezhda von Meck datang mengunjungi konservatori dan menemui Marmontel. Ia menyampaikan keinginannya untuk menyewa seorang pianis. Nadezhda von Meck juga merupakan patron bagi komponis terkenal Tchaikovsky. Atas rekomendasi Marmontel, Debussy akhirnya berangkat ke rumah orang Rusia itu. Setelah bersepakat, Debussy menjadi pianis untuk von Meck dan selama musim panas 1880 hingga 1882 ia bepergian bersama keluarga von Meck ke berbagai negara seperti Swiss, Italia, dan Rusia.

Kesan yang didapatkan von Meck dari Debussy sangat positif. Bahkan, Debussy dianggap sangat istimewa. Ia lalu menulis surat kepada Maestro Tchaikovsky yang isinya menceritakan Debussy.

“Seorang pianis yang memenangkan penghargaan tertinggi dalam kelas piano Marmontel telah mendatangi kami dari Paris. Pemuda ini bermain dengan sangat baik, tekniknya brilian, meski sentuhan personalnya agak kurang,” tulis Nadezhda von Meck, seperti yang dikutip Francois Lesure dalam Claude Debussy: A Critical Biography (2019:30).

Debussy mendapat kesempatan menyusun komposisi untuk tiga piano dalam G Mayor untuk kelompok ensemble milik keluarga von Meck. Di tengah kesibukannya, ia sempat membuat transkripsi karya monumental Tchaikovsky yaitu tiga tarian Swan Lake untuk duet piano.

Perjumpaan dengan Sari Oneng

Para musikolog menganggap titik tolak Debussy dalam bermusik terjadi pada tahun 1889. Kala itu, perayaan 100 tahun Revolusi Prancis diadakan di seluruh penjuru negeri. Tak jauh dari kompleks menara Eiffel, perayaan besar-besaran digelar sekaligus peresmian menara yang kemudian menjadi ikon kota Paris. Dalam rangkaian acara yang bertajuk Exposition Universelle itu berkumpul bermacam tradisi budaya dari wilayah-wilayah koloni Eropa termasuk Jawa.

Debussy hadir di pelataran koloni milik kerajaan Belanda yang diberi nama le village Javanais. Ia penasaran dengan penampilan para musisi memainkan seperangkat alat musik yang sama sekali belum pernah ia bayangkan. Kala itu, rombongan kelompok musik Sari Oneng dari Jawa Barat tampil membawakan komposisi asli Sunda.

Setelah menghampiri dari dekat sekali, ia menemukan bahwa alat musik itu terdiri dari gending dan alat-alat perkusi untuk menabuh dengan lembut dan menghasilkan bunyi-bunyian yang sangat asing dalam kultur musik Barat. Berbeda dengan sistematika interval ala musik Barat pada umumnya, alat musik ini dimainkan berdasarkan nada pada dua irama yang disebut laras. Laras slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf, sementara laras pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama. Masing-masing laras ini menghasilkan bunyi yang berlainan namun harmonis.

Infografik Mozaik Claude Debussy
Infografik Mozaik Claude Debussy. tirto.id/Sabit


Itulah awal pertemuan Debussy dengan gamelan Jawa. Tidak hanya terpesona, Debussy seperti dicatat Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia & Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX (2006:521) juga berkomentar, “Jika Anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih dari sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.”

Lebih jauh, Debussy menemukan bahwa dalam tradisi musik Jawa, bakat artistik individu dan teknik bermusik menjadi elemen sekunder. Inti dari gamelan adalah keseluruhan nuansa dan harmonisasi musik, bukan keahlian individu para musisinya. Hal itu terlihat dari fakta bahwa para musisi kelompok musik Sari Oneng yang dilihat Debussy di Paris sebetulnya adalah para pekerja di perkebunan teh Parakan Salak di Sukabumi, Jawa Barat. Di Paris, mereka memainkan gamelan bersama empat penari wanita remaja dari keraton Mangkoenegara. Konon, kolaborasi orang Sunda dengan penari Jawa dari keraton itu hampir tidak mungkin terjadi bila pertunjukkan digelar di Pulau Jawa.

Kesadaran ini kemudian memengaruhi proses kreatif Debussy di masa-masa setelahnya. Beberapa karyanya, seperti komposisi untuk solo piano "La fille aux cheveux de lin" dan solo piano "d’Estampes", serta komposisi "La Mer" yang merupakan karya monumentalnya, dibuat dengan karakteristik alunan pentatonik yang kental, persis musik gamelan Jawa.

Pengaruh gamelan juga terasa dalam karya Debussy yang kerap mengeksplorasi suara-suara hasil resonansi yang muncul dari teknik tabuhan perkusifnya. Harmonisasi suara yang menghasilkan nuansa tertentu dalam sebuah komposisi adalah nilai penting dalam hampir setiap karyanya.

Claude Debussy meninggal di Paris pada 25 Maret 1918, tepat hari ini 103 tahun silam, setelah menjalani sekitar tiga puluh tahun yang gemilang sebagai komponis dan maestro musik.

Baca juga artikel terkait KOMPONIS atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Musik)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight