Menuju konten utama

Keunikan Fenomena Ribuan Gempa Susulan Usai Gempa NTT M7,7

Gempa susulan yang muncul usai gempa NTT 7,7 membawa pola unik dan terjadi sampai ribuan kali. Titik gempa susulan lebih tersebar. Simak penjelasannya.

Keunikan Fenomena Ribuan Gempa Susulan Usai Gempa NTT M7,7
Warga berjalan di dekat bangunan Masjid Al-Istiqomah Ronting yang rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). Sampai tulisan ini diturunkan, puluhan orang tewas dan hampir 100 ribu lainnya terpaksa mengungsi karenanya. Namun, bencana tersebut tak berhenti di sana. Gempa Flores rupanya merupakan fenomena kegempaan yang unik setelah diikuti lebih dari 4.000 gempa susulan selama berhari-hari.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena kegempaan di Flores bermula pada Sabtu dini hari. Kala itu, gempa besar berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores saat kebanyakan penduduk sedang beristirahat.

Gempa itu tercatat sebagai gempa tektonik dangkal. Episenter getaran berada di kedalaman 15 km dan terletak di sekitar 30 km arah timur laut Nagekeo, Flores.

BMKG menyebut gempa bersumber dari Flores Back-Arc Thrust, yakni sesar naik aktif di dasar laut yang membentang di sebelah utara kepulauan Nusa Tenggara hingga Wetar di Maluku. Gempa disebut terjadi akibat pergerakan naik sesar (thrust fault) akibat tekanan kompresi kerak Bumi.

Gempa utama (mainshock) itu kemudian merusak dan merobohkan ratusan rumah, memaksa ribuan warga Kabupaten Nagekeo mengungsi. Pada hari pertama terjadinya gempa, lebih dari 50 orang tewas dan angkanya meningkat seiring waktu.

Akan tetapi, gempa utama tak datang sendiri. Setelah getaran berkekuatan magnitudo 7,7 melanda, ratusan gempa susulan (aftershock) terjadi pada hari yang sama. Ratusan gempa lalu terus terjadi dalam kurun waktu hampir sepekan dan beberapa di antaranya tergolong memiliki kekuatan lebih dari magnitudo 5,0.

Berdasarkan data per Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB, jumlah gempa susulan di NTT telah mencapai angka 4.258 kali. Dari ribuan gempa itu, 118 di antaranya tergolong getaran yang bisa dirasakan orang banyak dan 31 di antaranya memiliki kekuatan lebih dari magnitudo 5,0.

Pola kegempaan yang terjadi di Flores terbaru ini tergolong unik. Jika ditilik lebih dalam, ribuan gempa susulan yang terjadi di NTT sejak Sabtu lalu menunjukkan pola tak umum.

Pola Unik Gempa Susulan di Peristiwa Gempa Flores NTT M7,7

Artikel ilmiah BMKG berjudul “Dinamika Gempa Flores M7,7: Sebaran dan Klaster Gempa Susulan di Zona Flores Back-arc Thrust” yang disusun Pepen Supendi dkk (2026), disebutkan terdapat pola tidak umum dari rentetan peristiwa gempa susulan yang terjadi usai gempa Flores M7,7.

Hal pertama yang disorot adalah aktivitas kegempaan yang berlangsung. Pola gempa susulan di Flores tergolong unik karena jumlah kejadiannya tak menurun signifikan seiring waktu.

Pada hari pertama setelah gempa utama terjadi, terdapat total 704 gempa yang melanda berbagai titik di Flores. Jumlah itu lalu meningkat jadi 746 peristiwa gempa pada hari kedua.

Aktivitas gempa baru menurun pada hari ketiga, namun jumlahnya tak signifikan. Pada hari ketiga, jumlah peristiwa gempa berkisar pada angka 668 kali. Kemudian menjadi 649 kejadian di hari keempat, dan kembali menurun jadi 627 kejadian saat hari kelima.

Jumlah Gempa dalam 24 Jam

Jumlah gempa pada setiap interval 24 jam sejak terjadinya gempa utama Mw 7,7. foto/Dok. BMKG

Pola ini terbilang unik lantaran tak tampak sesuai dengan hukum Omori-Utsu yang dikenal luas dalam bidang ilmu seismologi.

Hukum Omori-Utsu menyebutkan, gempa besar cenderung akan diikuti dengan rangkaian gempa susulan yang membentuk pola tertentu. Gempa susulan akan berlangsung dengan grafik yang melandai seiring waktu. Jumlahnya cenderung meningkat tepat setelah gempa utama, lantas melandai seiring waktu berikutnya.

Akan tetapi, dalam fenomena kegempaan di Flores terbaru, jumlah gempa susulan terbanyak justru terjadi pada periode hari kedua setelah gempa utama terjadi. Selain itu, penurunan aktivitas kegempaan juga tak melandai mengikuti pola yang umum.

Selain pola aktivitas gempa susulan yang tak umum, intensitas getaran pada gempa susulan juga menunjukkan keunikan. Sebagaimana data BMKG per Jumat (21/8) pagi, telah terjadi 31 gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5,0 sejak gempa utama pada Sabtu.

“Pola magnitudo terhadap waktu juga masih menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo relatif besar masih terjadi beberapa hari setelah gempa utama,” tulis Pepen dkk.

Pola intensitas getaran gempa susulan pada fenomena kegempaan di Flores ini menunjukkan fase awal peluruhan aktivitas pascagempa yang tidak berlangsung secara sederhana.

Fenomena kegempaan memiliki indikasi yang mirip dengan fenomena earthquake swarm, yakni serangkaian gempa yang terjadi tanpa adanya satu gempa utama. Dengan kata lain, fenomena yang terjadi di Flores tampak seperti rentetan peristiwa gempa yang terjadi di suatu wilayah.

Akan tetapi, kendati terdapat indikasi pola earthquake swarm, fenomena di Flores tetap tergolong sebagai fenomena gempa susulan (aftershock). Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu disebut masih terlalu dominan untuk dilepaskan dengan gempa-gempa yang mengiringi.

“Keberadaan gempa utama M7,7 yang sangat dominan membuat keseluruhan aktivitas pascagempa secara umum lebih tepat dipandang sebagai rangkaian gempa susulan,” tulis Pepen dkk.

Peta Gempa 15 Agustus

eta episenter gempa utama Mw 7.7 (15 Agustus 2026) dan gempa-gempa susulannya hingga tanggal 20 Agustus2026 pukul 05:00 WIB. Foto/Dok. BMKG

Fenomena gempa Flores juga menampilkan pola yang unik dalam konteks sebaran gempa yang terjadi. Titik hiposenter gempa-gempa susulan yang terjadi sejak Sabtu lalu tidak homogen.

Alih-alih terpusat di satu titik yang sama dengan gempa utama, ribuan gempa susulan di Flores terjadi dalam kelompok-kelompok titik lokasi yang berbeda. Hal ini disebut membuat ribuan gempa susulan di Flores terjadi dalam karakteristik yang cenderung berbeda dengan gempa utama.

“Klaster tersebut secara spasial dan kedalaman menunjukkan karakter yang berbeda dari konsentrasi utama di sekitar sumber gempa M7,7,” tulis Pepen dkk.

Tak dapat dimungkiri bahwa fenomena kegempaan yang unik ini telah menyebabkan duka kehilangan dan kerugian yang meluas. Banyak dari masyarakat Flores telah kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal yang selama ini mereka diami.

Akan tetapi, bencana tersebut telah memperlihatkan arti penting sebagai bekal di kemudian hari. Pola unik fenomena kegempaan di Flores menunjukkan cara untuk memahami potensi bencana yang bersemayam di balik bentang alam Indonesia.

Hal tersebut, setidaknya dapat digunakan untuk memahami mekanisme aktivitas seismik pada Flores Back-arc Thrust. Pemahaman ini penting sebagai bekal menghadapi bencana serupa di masa depan.

“Karena Flores Back-arc Thrust merupakan sistem yang memanjang dan memiliki segmentasi, distribusi gempa susulan menjadi penting untuk memahami apakah aktivitas pascagempa hanya terkonsentrasi di sekitar zona sumber utama atau juga melibatkan bagian struktur lainnya,” tulis Pepen dkk.

Profil Kegempaan di Sekitar Nusa Tenggara

Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara selama ini memang tergolong sebagai wilayah rawan gempa. Daerah tersebut dikenal sebagai salah satu zona tektonik dengan struktur yang kompleks di tanah air.

Seturut artikel "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024" yang dirilis Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU) (2025), kawasan Nusa Tenggara dan sekitarnya tergolong wilayah seismik yang kompleks karena terapit oleh dua kerak berbeda.

Pada bagian barat, wilayah ini berbatasan dengan kerak Samudera Indo-Australia. Sementara di sisi timur, wilayah ini berbatasan dengan kerak daratan Benua Australia. Hal ini membuat Nusa Tenggara tampak seperti zona transisi dari dua kerak Bumi tersebut.

Letak tersebut kemudian membuat aktivitas kegempaan di wilayah ini tergolong sangat tinggi dengan karakter yang bervariasi.

Hal tersebut tampak pada peristiwa gempa di masa lalu. Gempa laut Flores pada 2021, misalnya. Kala itu gempa melanda laut Flores dengan kekuatan mencapai magnitudo 7,3.

Gempa terjadi karena aktivitas Sesar Kalaotoa, yakni sebuah sesar yang sebelumnya belum ditemukan hingga peristiwa gempa 2021. Gempa tersebut menghasilkan intensitas getaran antara III hingga VI pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI).

Getaran yang terjadi pada 2021 tersebut membuat lebih dari 346 rumah rusak. Sebanyak 11 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat dampak gempa tersebut.

Gempa pada 2021 itu disebut terjadi dalam tiga segmen sesar yang diduga saling berkaitan. Segmen utama merupakan gempa M7,3, sementara dua yang lainnya terjadi di barat dan timur dari gempa tersebut.

Hal inilah yang membuat kawasan di Nusa Tenggara cukup rawan dengan gempa. Gempa terbaru terjadi pada Sabtu (15/8) dengan membawa kekuatan magnitudo 7,7.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - News Plus
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar