Kepulangan Rizieq Shihab Adalah Strategi Politik

Oleh: Andrian Pratama Taher - 19 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Muhammad Rizieq Shihab kembali dikabarkan pulang ke Indonesia. Menurut pengamat, hal ini memang disengaja untuk menjaga "momentum".
tirto.id - Untuk kesekian kalinya, Muhammad Rizieq Shihab dikabarkan hendak pulang ke Indonesia. Informasi terkini soal kepulangan Rizieq disampaikan oleh Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Ma'arif, 27 Januari lalu. Katanya, "hasil Musyawarah Nasional ke-1 ulama, tokoh dan aktivis 212, Habib Rizieq, akan pulang pada tanggal 21 bulan 2."

Setidaknya tujuh kali kabar pulangnya Rizieq muncul sejak pertama kali Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu minggat ke Arab Saudi pada akhir April tahun lalu. Pada 13 Mei misalnya, penasihat hukum Rizieq, Sugito Atmo Prawiro, mengatakan bahwa kliennya "dalam minggu ini sudah pulang". Namun selang beberapa hari pria yang dekat dengan Wiranto ini dikabarkan kembali ke Arab Saudi.

Muncul lagi kabar kalau mantan narapidana dua kali ini akan pulang ke Indonesia pada 12 Juni/17 Ramadan. Namun, Sugito Atmo Prawiro yang juga merupakan Ketua Bidang Hukum FPI, mengatakan bahwa rencana tersebut "batal." Pada 17 Agustus atau bertepatan dengan tanggal pendirian FPI, kabar itu kembali muncul. Sang imam besar dikabarkan akan hadir khusus menyambut ulang tahun FPI.

Sebelum ini, Rizieq juga kabarnya akan hadir dalam ulang tahun ke-1 gerakan alumni 212. Sejumlah pihak mengabarkan pentolan organisasi yang lahir dalam masa euforia demokrasi itu akan hadir dalam acara akbar yang berlangsung pada 2 Desember 2017. Namun, untuk kesekian kalinya, itu hanya pepesan kosong. Ia masih berada di Arab Saudi. Salah satu tempat yang pernah ia singgahi di sana adalah hotel mewah Al Safwah Royale Orchid Tower 1 yang harga termurahnya Rp2,5 juta/malam.

Jika melihat gelagat organisasinya, bisa jadi kali ini Rizieq benar-benar pulang. Tidak seperti kabar-kabar terdahulu, kepulangan Rizieq nanti dibarengi dengan dibentuknya "Penyambutan Imam Besar Habib Rizieq" oleh Persaudaraan Alumni 212—pecahan Presidium Alumni 212.

Upaya Menjaga Suara Rizieq?

Dosen ilmu politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, mengatakan bahwa timbul tenggelamnya kabar soal kepulangan Rizieq adalah hal yang disengaja.

"Kalau melihat polanya... ini kan gerakan sistemik. Ini didesain terutama oleh pendukungnya karena apa? Karena ingin menjaga stamina dan ritme figur Rizieq tetap diingat orang," kata pria yang terlibat dalam riset dengan tema "Denouncing Religion Violence In Indonesia: Institution, Ideology, and the Changing Strategy of Islamic Movements" ini kepada Tirto.

Berkat sejumlah aksi dalam medio 2016-2017, nama Rizieq memang melambung bukan hanya di Jakarta, tapi seantero Indonesia. Karena Rizieq, tidak sedikit pemuka agama mulai bicara hal-hal politis dalam ceramah. Namun sekali lagi, itu semua sudah berlalu.

Kata Adi, kelompok Rizieq ingin agar aksi dan jasa pentolan FPI seperti ini tetap diingat orang. Dengan memberitakan berkali-kali kepulangan Rizieq, hal tersebut bisa tercapai.

Usaha ini semakin signifikan sebab, kata Adi, sorotan publik dan media terhadap Rizieq semakin berkurang setelah Pilkada DKI—momentum yang membuat namanya melambung sebagai "pembela Islam". "Kalau ini tidak 'dimainkan', isu-isu Rizieq bakal cepat dilupakan orang," kata Adi.

Berdasarkan daftar Year in Search 2017 yang dilansir Desember tahun lalu, Rizieq Shihab—melalui kata kunci "Habib Rizieq"—menjadi tokoh dengan penelusuran terpopuler di Google sepanjang 2017. Pencarian dengan kata kunci "Habib Rizieq" paling tinggi terjadi pada rentang waktu 29 Januari – 4 Februari 2017, atau ketika demo-demo menolak Ahok karena dinilai menistakan Islam memang sedang gencar. Memang akan sulit mempertahankan tren ini ketika tidak ada momentum.

Sekretaris DPD FPI Jakarta Novel Bamukmin membantah anggapan Adi. Ia menegaskan, kepulangan Rizieq semata untuk "melawan pemimpin zolim".

"Banyaknya ulama yang diteror, dikriminalisasi, ditambah keinginan banyak orang membuat Rizieq memutuskan kembali ke Indonesia," kata Novel kepada Tirto.

Setelah Rizieq Pergi

Terlepas dari motif isu kepulangan Rizieq, apa yang terjadi dengan gerakan 212 sama sekali berbeda sejak Rizieq pergi. Alumni 212 misalnya, kini pecah menjadi Persaudaraan Alumni 212 dan Presidium 212.

Dalam konferensi pers Januari lalu, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Ma'arif mengatakan bahwa gerakan mereka cenderung ke gerakan politik praktis. Al Khaththath—yang sebelumnya pengurus Presidium Alumni 212 dan kini bergabung dalam Persaudaraan Alumni 212—mendirikan Garda Alumni 212 bagi siapa pun eksponen gerakan 212 yang ingin terjun di dunia politik. Sementara Presidium Alumni 212 menolak menggunakan umat Islam sebagai alat politik partai.

Adi melihat peta kelompok binaan Rizieq memang telah berubah pasca tujuan utama kelompok ini—menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama dari kursi Gubernur DKI—tercapai.

"Alumni 212 pecah. Sudah terpolarisasi ke banyak faksi. Itu menunjukkan bahwa memang setelah Pilkada DKI Jakarta umat Islam yang tergabung dalam gerakan 212 itu 'balik kandang', ke 'sarang' masing-masing karena tujuannya sudah selesai," kata Adi.

Partai politik yang sebelumnya dekat dengan Rizieq pun mulai mengambil jarak. Logikanya sama seperti pendukung gerakan 212: mereka bisa bersatu semata karena sama-sama punya visi menjatuhkan Ahok.

"Setelah itu tercapai mereka juga tidak mau diklaim sebagai orang yang melindungi Rizieq. Takut blunder," kata Adi. "Baik PKS, PPP, PAN, dan bahkan Gerindra sekali pun juga sepertinya tidak mau diklaim membekingi atau berkawan dengan Rizieq," tambahnya.

Baca juga artikel terkait KASUS RIZIEQ SHIHAB atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Rio Apinino
DarkLight