tirto.id - Eks pelatih timnas Indonesia, Shin Tae Yong (STY) mendapatkan sanksi berat dari Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Lisensi kepelatihan STY resmi ditangguhkan selama 10 tahun. Bagaimana kronologinya?
Dinukil dari media Korea Selatan, News1, seorang pejabat KFA telah menyatakan bahwa sanksi berat untuk STY itu telah diputuskan Komite Disiplin KFA pada awal bulan Juli ini. Hal ini juga disebutnya telah diinformasikan kepada pihak STY.
“Pertemuan Komite Disiplin [KFA] mengenai pelatih Shin Tae Yong diadakan awal bulan ini, dan tindakan disiplin tersebut baru-baru ini diberitahukan,” tutur pejabat tersebut pada Jumat (24/7/2026).
Meski sanksi telah diberikan secara resmi, namun pejabat KFA itu mengaku tak bisa merinci detail spesifik dari proses penjatuhan sanksi. Menurutnya, ada informasi pribadi yang tak bisa diungkap ke publik.
“Kami hanya diberi tahu bahwa detail tindakan disiplin tersebut tidak dapat diungkapkan karena melibatkan informasi pribadi yang sensitif,” tuturnya.
STY sendiri baru Juni lalu diperkenalkan sebagai pelatih baru Persija Jakarta. Ia kini tengah mempersiapkan skuad Macan Kemayoran untuk mengarungi Piala Presiden 2026.
Akan tetapi, meskipun kini menerima sanksi berat berupa penangguhan lisensi kepelatihan selama 10 tahun, laporan News1 menyebut bahwa sanksi ini hanya berlaku secara lokal di Korea. Oleh karenanya, sanksi ini tidak berdampak langsung pada aktivitas kepelatihan Shin Tae Yong di Indonesia.
Kronologi Sanksi 10 Tahun Shin Tae-yong
Seturut media Korea Selatan, Yonhap, sanksi penangguhan selama 10 tahun bagi STY itu berkisar pada beberapa jenis hukuman. Kini, STY menerima penangguhan lisensi kepelatihan, larangan ikut pertandingan, hingga pengusiran dari lapangan.
Sanksi tersebut disinyalir merupakan dampak dari kontroversi STY selama memimpin skuad klub Ulsan HD pada musim lalu. Dalam kontroversi ini STY diduga telah melakukan tindak kekerasan kepada pemain Ulsan HD.
Kontroversi ini bermula pada Agustus 2025 lalu. Saat itu, Shin Tae Yong secara resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala Ulsan HD.
Ulsan HD saat itu tengah menghadapi rentetan tren buruk. Usai berhasil menjuarai K-League selama tiga musim berturut-turut, klub yang berbasis di Kota Ulsan itu mencatatkan tren negatif dan terancam terdegradasi.
Menanggapi hal tersebut, pihak manajemen Ulsan HD kemudian melakukan perombakan staf kepelatihan. Shin Tae Yong kemudian ditunjuk untuk menggantikan pelatih sebelumnya, Kim Pan-gon.
Akan tetapi, selama dua bulan menukangi Ulsan HD, STY justru diterpa kontroversi. Kehadiran STY justru disebut telah memperkeruh konflik internal klub tersebut.
Shin dikabarkan telah berkonflik dengan para pemain Ulsan HD, termasuk dengan pemain senior Jung Seung-hyun. Pelatih Shin diduga telah menampar Jung Seung-hyun dalam sebuah kesempatan dan sejak itu hubungan Shin dengan skuad yang ia latih merenggang.
Konflik antara Shin Tae Yong dengan para pemain itu kemudian berdampak pada performa Ulsan HD yang makin memburuk. Mereka betulan terancam terdegradasi dan akhirnya pihak manajemen merespons dengan memecat Shin Tae Yong pada Oktober 2025 lalu, sekitar tiga bulan setelah ditunjuk.
Konflik itu juga rupanya berbuntut panjang. Jung Seung-hyun membuat pernyataan khusus dalam sebuah wawancara di penghujung musim 2025 terkait hubungannya dengan STY.
"Itu adalah perilaku yang tidak sesuai dengan zaman. Mengenai penyerangan atau kekerasan seksual, bahkan jika pelaku tidak menganggapnya demikian, jika korban menganggapnya sebagai penyerangan, maka begitulah adanya. Saya yakin pemain lain merasakan hal yang sama," kata Jung pada Desember 2025.
Kasus itu kemudian terus bergulir dan tak berhenti pada pemecatan STY dari kursi pelatih kepala Ulsan HD. FKA rupanya menggelar sidang disiplin terhadap STY karena kasus ini.
Sidang itu tampaknya berjalan lambat karena keputusannya baru diresmikan pada Juli 2026, sembilan bulan pasca pemecatan STY oleh Ulsan HD. Keluarnya putusan juga beriringan dengan penunjukkan STY sebagai pelatih kepala Persija Jakarta pada Juni lalu.
Yonhap melaporkan bahwa STY telah menyatakan bahwa keputusan sanksi dari FKA itu ia rasa tidak adil. Menurutnya, ada hal-hal yang telah dilaporkan secara keliru. Namun, ia enggan mengungkap kebenarannya demi para pemain yang pernah ia latih di Korea.
“Ada banyak aspek [sanksi FKA] yang menurut saya tidak adil dan saya ingin mengungkapkan kebenarannya, tetapi anak asuh saya bisa terluka dan situasi di Korea sedang tidak baik [untuk mengungkapkannya],” tutur Shin Tae Yong.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































