Menuju konten utama

Kemensos Resmikan Graduasi 1.000 Penerima Bansos di UGM

Selain 'mewisuda' 1.000 KPM yang telah tergraduasi, Kemensos juga meresmikan kerja sama dalam program pemberdayaan dengan 16 kampus di DI Yogyakarta.

Kemensos Resmikan Graduasi 1.000 Penerima Bansos di UGM
Kementerian Sosial menggraduasi 1.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (17/7/2025). Selain itu, Kemensos juga melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan 16 perguruan di wilayah DIY terkait kerja sama dalam menangani melalui kemiskinan sosial. (FOTO/dok. Kemensos)

tirto.id - Kementerian Sosial (Kemensos) meresmikan graduasi 1.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bansos Program Keluarga Harapan (PKH) di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Kamis (17/7/2025).

Graduasi tersebut menandai keberhasilan 1.000 KPM tersebut naik status menjadi keluarga sejahtera, berdaya, dan mandiri berkat program pemberdayaan dan pelatihan keterampilan.

Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengatakan 1.000 KPM tersebut tidak akan lagi menerima bantuan sosial dari pemerintah.

"Sekarang mereka sudah dinyatakan lulus untuk tidak lagi perlu mendapatkan bantuan sosial, tetapi akan beralih ke program-program pemberdayaan, seperti bantuan modal, bantuan usaha, bantuan bahan baku dan pelatihan-pelatihan yang mungkin bisa meningkatkan kemampuan usaha dari bapak-ibu sekalian," kata Gus Ipul di UGM.

Gus Ipul menerangkan bahwa bansos bersifat sementara, sedangkan pemberdayaan dapat memberikan manfaat jangka panjang. Bansos, lanjut dia, seharusnya menjadi awal proses pemberdayaan dan bukan akhir dari perjalanan.

"Bansos adalah tangan yang menangkap, bukan tali yang mengikat. Ini [penerima bansos] adalah hak sementara, bukan identitas tetap," ujar dia menegaskan.

Kunci Sukses Graduasi dari Bansos

Menurut Gus Ipul, terdapat lima kunci untuk bertransformasi dari ketergantungan terhadap bansos menuju kemandirian.

Pertama adalah keberanian para KPM untuk memulai hidup mandiri tanpa bergantung pada bansos. Ia menegaskan bahwa proses graduasi ini bukanlah akhir, melainkan langkah awal keluar dari kungkungan penerima bantuan.

"Jadi ibu-bapak sekalian yang sekarang graduasi ini sebenarnya sedang menegakkan kepala bahwa kami mampu, kami bisa, kami tolak bansos, kami berdaya," ujar Gus Ipul.

Kunci kedua, adalah kemampuan untuk melangkah di atas kaki sendiri. Setelah memiliki keberanian, bakal tumbuh kemandirian. Dengan begitu, menurut Gus Ipul, hidup tidak lagi tergantung pada bantuan. "Siap berdiri di atas kaki sendiri dan membuat keputusan penting bagi keluarga," jelasnya.

Kemudian, kunci ketiga adalah terbukanya peluang baru. Graduasi bukan hanya memberi ruang bagi KPM untuk berkembang, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain yang masih menunggu bantuan.

"Dengan Anda mandiri, ruang bantuan tersedia untuk mereka yang lebih membutuhkan. Jadi yang lulus ini pada dasarnya sedekah, pada dasarnya juga amal ibadah untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih membutuhkan," katanya.

Kunci graduasi keempat adalah menjadi sumber inspirasi. Gus Ipul menegaskan, graduasi bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan menjadi kisah yang bisa memotivasi sesama. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah, tapi fase hidup yang mampu dilampaui.

Adapun kunci terakhir, graduasi menjadi titik balik atas ketergantungan bansos menuju kemandirian. "Anda adalah bukti nyata bahwa nasib bisa diubah. Saat ini bapak-ibu adalah harapan bagi banyak orang," paparnya pada peserta graduasi.

Kemensos Ajak 16 Kampus Dukung Pemberdayaan

Bersamaan dengan momen graduasi 1.000 KPM di kampus UGM, Kemensos meresmikan kerja sama dengan 16 perguruan tinggi di DI Yogyakarta untuk penanganan kemiskinan lewat program pemberdayaan sosial. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman.

Keenambelas kampus tersebut adalah UGM, UNY, UIN Sunan Kalijaga, UPN Veteran Yogya, UMY, UII, Universitas Gunung Kidul, Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Selain itu, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Kristen Duta Wacana, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta, Politeknik Multimedia Yogyakarta, Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta, serta Akademi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta.

"Kolaborasi ini dalam rangka percepatan penanganan kemiskinan melalui pemberdayaan sosial," kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial (Dirjen Dayasos) Kemensos, Mira Riyati.

Pada kesempatan itu, Rektor UGM, Prof dr Ova Emilia, menyambut baik kerja sama antara 16 kampus di DIY dan Kemensos.

Dia berharap kolaborasi ini bisa memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap program-program sosial, khususnya dalam mengatasi kemiskinan lewat pendekatan ilmiah dan partisipatif.

Ia menegaskan bahwa UGM siap menindaklanjuti inisiatif itu bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Direktorat Pengabdian Pada Masyarakat untuk merealisasikan program percepatan penanganan kemiskinan di wilayah DI Yogyakarta bersama universitas lain.

"Semoga dengan sinergi yang telah dibangun dapat semakin memperkuat pengembangan kapasitas sumber daya manusia di negeri yang kita cintai," ujar Ova.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis