Menuju konten utama

Kemdikbud Siap 263 Buku Cerita Dukung Literasi

Kemdikbud telah mengirimkan 263 buku cerita khususnya bagi siswa sekolah dasar sebagai bahan bacaan, untuk mendukung penumbuhan budi pekerti bagi peserta didik lewat budaya literasi.

Kemdikbud Siap 263 Buku Cerita Dukung Literasi
(Ilustrasi) sejumlah anak membaca buku-buku cerita di perpustakaan daerah pemprov banten di serang, Kamis (19/5). Antara Foto/Asep Fathulrahman.

tirto.id - Tahun ini Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengirimkan 263 buku cerita yang dinilai oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan sebagai bahan bacaan, untuk mendukung penumbuhan budi pekerti bagi peserta didik lewat budaya literasi.

"Tahun ini Badan Bahasa ditugasi dalam pengayaan bahan literasi terkait dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui gerakan literasi. Kami telah menyiapkan ratusan judul cerita rakyat untuk mendukung hal itu," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud Dadang Sunendar pada Musyawarah Sastrawan Nasional di Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Buku cerita tersebut ditujukan khususnya bagi siswa sekolah dasar agar sejak dini mereka gemar membaca karena gerakan literasi tersebut tidak mengharuskan siswa membaca nonfiksi tetapi buku fiksi, baik buku cerita maupun karya sastra lainnya, katanya.

"Gerakan Literasi Sekolah dilaksanakan melalui kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar," kata Dadang.

Menurutnya, gerakan ini perlu digaungkan karena fungsi bahasa yang paling dasar selalu terlupakan, yakni untuk membentuk akal budi penuturnya acapkali terlupakan. Gerakan itu akan diterapkan dengan cara membagikan buku paket bacaan berupa cerita rakyat karena bacaan tersebut tidak hanya menghibur, tapi mendidik juga.

Kegiatan ini juga mempunyai fungsi untuk meningkatkan tingkat budaya literasi karena dalam beberapa survei lembaga internasional, Indonesia berada dalam posisi yang tidak menggembirakan. Pada tahun 2016 posisi Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di atas Botswana. "Ini artinya kecepatan membaca sangat rendah dan menyimak bacaan sangat rendah," ujar Dadang.

Dadang lebih lanjut mengatakan, pihaknya telah meminta beberapa balai bahasa di setiap provinsi untuk menguatkan perpusatakaan. Bila perlu, balai bahasa lebih baik dibanding perpustakaan lainnya di daerah tersebut. "Jika orang ingin mencari buku sastra dan bahasa maka balai bahasalah tempatnya," katanya.

Baca juga artikel terkait BUKU CERITA atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Pendidikan
Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Yantina Debora