tirto.id - Katib Syuriah PBNU, KH Nurul Yakin Ishaq, angkat suara terkait ultimatum Rais Aam Miftachul Akhyar kepada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, yang memintanya mundur atau akan dimundurkan.
Kiai Nurul mengatakan, di tengah kondisi yang semakin memanas, solusi yang paling maslahat bagi NU adalah islah antara Rais Aam dan Ketua Umum (Ketum) PBNU. Dia menilai, saat ini Ketum PBNU telah menyatakan kesediaannya untuk menjaga keutuhan organisasi.
“Ketua Umum telah menyatakan kesediaan untuk melakukan islah demi menjaga keutuhan organisasi. Jika Rais Aam menolak islah, berarti menghendaki perpecahan di NU,” ujar Kiai Nurul dalam keterangannya, Selasa (25/11/2025).
Menurut Kiai Nurul, posisi Rais Aam dan Ketua Umum merupakan dua pilar utama dalam struktur kepemimpinan organisasi. Sehingga, jalan islah dinilai sebagai langkah paling rasional untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas NU.
Lebih jauh, Kiai Nurul menyebut langkah ultimatum Rais Aam tidak memiliki dasar organisatoris maupun syar’i, sehingga tidak dapat dijadikan legitimasi untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU. Terlebih pemberhentian hanya dapat dilakukan melalui Muktamar dan bukan melalui mekanisme lainnya.
“Rapat Harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan memberhentikan Ketua Umum PBNU, bahkan untuk pemberhentian pengurus lembaga sekalipun rapat tersebut tidak berwenang,” katanya.
Kiai Nurul juga menyesalkan keputusan Rapat Harian Syuriyah yang tidak menghadirkan Ketua Umum sebagai pihak yang menjadi objek keputusan. Keputusan seperti itu, kata dia, cacat prosedur dan batil menurut syariat.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id

































