Menuju konten utama

Kasus Warga Dianiaya TNI di Flores Timur Berakhir Damai

Perdamaian dilakukan secara kekeluargaan yang difasilitasi Dandim 1624/Flores Timur bersama dengan pemerintah desa setempat.

Kasus Warga Dianiaya TNI di Flores Timur Berakhir Damai
Penyelesaian damai korban dan oknum TNI yang melakukan penganiayaan. Foto/Mario Sina

tirto.id - Kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang penyintas erupsi Gunung Lewotobi yang juga warga Desa Pululera oleh empat anggota TNI Koramil 1624-06/Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, akhirnya diselesaikan secara damai melalui mediasi pada Jumat (2/5/2025) malam.

Penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan melalui mediasi yang difasilitasi pihak TNI yang di pimpin oleh Dandim 1624/Flores Timur, Letkol Inf M. Nasir Simanjuntak, bersama dengan pemerintah desa setempat.

Nasir mengatakan korban, Damianus G. Werang (32), warga Desa Pululera, bersama keluarganya sepakat untuk mengakhiri permasalahan dengan Serda Maklon Baunu dan kawan-kawannya.

Lanjutnya, dalam mediasi yang dilakukan di Aula Koramil 1624-06/Boru, juga dihadiri oleh Danramil 1624 - 06/Wulanggitang, Kapten Inf Paulus Pehan Kedang, Kepala Desa Pululera, Paulus Sony Sang Tukan, serta keluarga korban.

"Sebelumnya, proses mediasi dimulai pada Kamis malam, 1 Mei 2025, saat Kapten Paulus Kedang mengunjungi rumah korban yang mengeluhkan sesak napas sehingga Kapten Paulus kemudian langsung mengantar korban ke Puskesmas Lewolaga untuk mendapatkan penanganan medis. Keesokan harinya, korban dipulangkan ke rumahnya dan komunikasi intensif terus dijalin sebagai bentuk pendekatan kekeluargaan," ungkap Nasir kepada awak media, Senin (5/5/2025).

Nasir mengimbau agar masalah demikian dijadikan pengalaman dan tidak terulang kembali.

Sementara itu, Kepala Desa Pululera, Paulus Sony Sang Tukan, mengapresiasi jalur damai yang ditempuh kedua belah pihak.

"Kami selalu pemerintah desa mengucapkan terimakasih untuk Dandim yang sudah mengumpulkan kami di tempat ini untuk menyelesaikan permasalahan ini. Semoga permasalahan ini tidak terulang lagi," ungkapnya.

Acara damai secara resmi dilakukan dengan kedua belah pihak menandatangani surat pernyataan damai di atas meterai, yang disaksikan oleh jajaran TNI, Pemerintah Desa Pululera dan keluarga korban.

Sebelumnya, Damianus Gatong Werang (32), warga Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, diduga dianiaya empat anggota TNI yang bertugas di Koramil 1624/06 Boru, Kamis (2/05)2025) pagi.

Kekerasan fisik anggota TNI ini membuat punggung Damianus mengalami luka lebam usai dianiaya dengan kabel berulang kali.

Menurut Damianus, kejadian bermula saat dia membonceng istri dan anaknya pergi berobat ke Puskesmas Boru. Damianus mengendarai sepeda motornya melewati jalanan berdebu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki.

Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan M, anggota TNI yang memuat rumput untuk pakan ternak dengan sepeda motor. Makanan ternak itu menyapu jalanan yang penuh debu Gunung Lewotobi Laki-laki sehabis erupsi.

Damianus menegur M agar menurunkan kecepatan sehingga tidak menyulitkan pandangan sesama pengguna jalan. M rupanya tak terima ditegur turun dari sepeda motor lantas menghampirinya. Korban mengaku diintimidasi.

"Dia (M) berhenti lalu datang ke saya. Tanya alasan saya kenapa tegur dia. Tidak pak, saya tadi bilang bawa motor pelan-pelan karena abu buat kami setengah mati," kata Damianus.

"Beliau tidak terima. Dia omong saya bilang tinggal di rumah saja kalau tidak mau kena debu. Saya bilang ke dia kalau saya antar istri dan anak ke puskesmas," sambungnya.

Damianus sempat mengeluarkan ponselnya untuk merekam video. Dia mengaku takut jika M melakukan kekerasan fisik. Video itu sebagai bukti apa bila terjadi hal-hal tak terduga.

M meminta Damianus menghapus video yang sempat terekam. Keduanya pun beradu mulut cukup alot, sebelum dilerai pengguna jalan lainnya.

"Video saya sudah hapus, saya lalu antar istri dan anak ke puskesmas," ungkapnya.

Damianus mengira masalah sepeleh itu sudah selesai. Padahal, Kamis (1/05)2025) pagi kemarin rumahnya didatangi dua anggota TNI. Dia diminta datang ke Koramil Boru untuk mediasi.

Bukannya mediasi yang ia dapat, Damianus malah dianiaya empat anggota TNI. Ironisnya, kekerasan itu disaksikan istrinya dari halaman luar Koramil 1624 Boru.

"Pak M juga ikut pukul saya. Ada empat orang yang aniaya saya di koramil," cerita Damianus.

Sementara itu, M, personel TNI yang bersiteru dengan korban, mengaku kesal dengan cara tegur Damianus yang dinilai menyinggung.

"Dia teriak denga kata "woe" itu. Kita kalau lewat di jalan, kena debu atau apapun itu kan resikonya kita sama-sama pengguna jalan," ujar M.

M menilai korban seperti menantangnya yang saat itu baru pulang mengambil rumput untuk makan ternak sapi.

Baca juga artikel terkait KASUS PEMUKULAN TNI atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - Flash News
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Bayu Septianto