Syaldie Sahude:

"Kami Ingin Pria jadi Solusi Menghapus Relasi Patriarki"

Oleh: Arman Dhani - 8 Maret 2017
Dibaca Normal 8 menit
Syaldie Sahude dan Aquarini Priyatna memaparkan bagaimana laki-laki berperan penting dalam mendorong keadilan gender dan bagian dari solusi mengikis stereotip dan menghapus kekerasan terhadap perempuan.
tirto.id - Redaksi Tirto melakukan eksperimen sederhana dengan bertanya mengenai stereotip apa yang pernah dialami oleh perempuan. Beberapa yang banyak dijawab: Perempuan berpendidikan tinggi susah dapat suami; Perempuan merokok itu cewek nakal; Perempuan enggak usah sekolah tinggi, nanti juga jadi istri; Perempuan pulang malam itu murahan; Ibu rumah tangga lebih baik daripada mengejar karier; Perempuan berjilbab direpresi agama.

Dalam wawancara ini, untuk menyambut hari perempuan internasional 8 Maret hari ini, kami mewawancarai dua narasumber. Bagian pertama, kami bertanya kepada Syaldie Sahude, salah satu penggiat Aliansi Laki-laki Baru. Bagian berikutnya adalah wawancara dengan Aquarini Priyatna, feminis dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Bandung, yang menjelaskan bagaimana akar stigma dan stereotip muncul terhadap perempuan.

Aliansi Laki-laki Baru
adalah organisasi yang berupaya mendorong peran serta laki-laki untuk peduli terhadap isu perempuan. Aliansi mempromosikan kesetaraan gender dan berusaha mengubah paradigma patriarki dalam masyarakat. Salah satu isu perempuan yang kerap didorong dan dibicarakan untuk dikawal adalah kekerasan seksual dan pentingnya pemahaman tentang isu gender.

Mereka yang ada di balik Aliansi dari beragam latar belakang pekerjaan: Aditya Putra Kurniawan, penggiat di Rifka Annisa, Eko Bambang Subiyantoro, penggiat isu gender, Mariana Amiruddin, komisioner Komnas Perempuan, Nur Hasyim, pengajar di UIN Walisongo, dan Syafirah Hardani, program officer Yayasan TIFA.

Apa sebenarnya Aliansi Laki-laki Baru (ALB) itu? Bisa jelaskan latar belakangnya?

ALB adalah aliansi yang lahir dari organisasi perempuan (mayoritas adalah women's crisis centre) dan individu yang bertujuan untuk mempromosikan dan memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan gender dan membangun paradigma baru tentang menjadi laki-laki. Aliansi ini dibentuk berawal dari melihat kenyataan bahwa banyak perempuan korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang kembali pada pasangannnya yang merupakan pelaku. Jika selama ini perempuan diberdayakan tapi laki-laki tidak diedukasi, maka rantai kekerasan akan terus terjadi.

Kami menyadari bahwa sumber masalah dari pelbagai kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh perempuan berawal dari laki-laki yang lahir dan dibesarkan dengan konstruksi patriarki, paham yang melihat bahwa perempuan adalah subordinat dalam kehidupan manusia. Mulai dari kebijakan yang sangat diskriminatif kepada perempuan hingga kekerasan dalam rumah tangga, mayoritas pelakunya adalah laki-laki.

Menurut kami, laki-laki wajib untuk ikut menjadi bagian dari solusi untuk mengakhiri persoalan tersebut. Salah satu caranya adalah mengedukasi sesama laki-laki mengenai persoalan ketidakadilan gender sehingga bisa ikut terlibat dalam kapasitasnya untuk menghapus diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Salah satu isu yang paling banyak dibahas dan dibicarakan oleh ALB adalah isu tentang kesetaraan. Mengapa ALB memandang laki-laki dan perempuan mesti setara?

Kami tidak berpikir bahwa laki-laki dan perempuan mesti setara, tapi kami MEYAKININYA. Alasannya sangat sederhana; bukankan kita semua adalah manusia? Mengapa kemudian atribut seperti jenis kelamin memberikan kekuasaan kepada salah satu jenis kelamin. Bukankah di pelbagai agama dan kepercayaan juga selalu menekankan bahwa manusia dilahirkan sama?

Kami juga menyadari bahwa keistimewaan yang diberikan kepada laki-laki harus "dibayar" dengan mahal. Sedemikian banyak tuntutan yang dibebankan kepada kami agar diakui sebagai seorang laki-laki akhirnya menjadi beban yang harus dipenuhi di dalam hidup. Jika melihat daftar bebannya, tidak semua laki-laki bisa memenuhi daftar "ideal" tersebut. Akibatnya, seringkali laki-laki harus melakukan tindak kekerasan dan/atau diskriminasi terhadap orang lain demi menunjukkan kelaki-lakiannya. Karena perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua, maka dialah yang menjadi sasaran.

Kenyataan ini sering kami temui saat berhadapan dengan pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Sebagai laki-laki, ketidakmampuannya menjadi pencari nafkah utama jadi ejekan dari lingkungan sehingga dia melakukan kekerasan untuk menunjukkan bahwa sebagai laki-laki dialah penguasa di rumah.

Kami percaya juga bahwa jika kesetaraan itu tercapai, akan memberikan kebahagiaan kepada laki-laki dan perempuan.

Apa upaya ALB untuk menjelaskan tentang pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki?

Aktifitas kami lebih banyak di wilayah kampanye dan pengembangan kapasitas bagi organisasi perempuan yang bekerja di isu pelibatan laki-laki. Kampanye mengangkat pelbagai tema terkait ketidakadilan gender hingga maskulinitas.

Sementara pengembangan kapasitas kami lakukan untuk memberikan perspektif kepada organisasi atau komunitas yang ingin bekerja melibatkan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Yang harus dipahami bahwa karakteristik setiap komunitas itu berbeda dan unik. Maka kami menggunakan pelbagai pendekatan. Namun, secara umum, kami bersama dengan komunitas tersebut berusaha mencari nilai-nilai apa saja yang negatif dan positif untuk perempuan. Dari situ kami mendiskusikan bagaimana menggunakan nilai-nilai yang positif dapat didorong, sementara yang negatif perlahan diubah atau dihilangkan. Model diskusi kampung/komunitas merupakan salah satu pendekatan yang selama ini cukup efektif.

Metode yang kami gunakan adalah metode reflektif. Kami sadar bahwa apa yang terjadi saat ini tidak terlepas dari pengalaman hidup kami. Kami yakin bahwa seorang laki-laki (atau perempuan) tidak ada yang dilahirkan untuk menjadi pelaku kekerasan. Kita dibesarkan dan dibentuk dengan nilai-nilai yang patriarkis sehingga memberikan (bahkan membenarkan) ruang untuk melakukan kekerasan.

ALB pernah menulis tentang bagaimana peran laki-laki dalam isu feminisme, mengapa feminisme penting bagi laki-laki?

Sejak awal kami menyadari bahwa persoalan ketidakadilan gender hanya bisa dianalisis dengan teori-teori feminis. Sebagai laki-laki yang selama ini menikmati keistimewaan, teori tersebut menjadi alat kami untuk merefleksikan dampaknya ke dalam kehidupan. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kami kemudian juga menyadari bahwa keistimewaan tersebut haru ditebus dengan menghilangkan pelbagai aspek kemanusiaan. Hanya demi untuk diakui sebagai laki-laki, emosi yang boleh kami tampilkan terbatas pada marah yang cenderung pada kekerasan.

ALB dapat dikatakan lahir dari rahim gerakan feminisme. Para pendiri dan penggiatnya merupakan produk dari gerakan perempuan yang sangat kental dengan feminisme. Tanpa feminisme, kami mungkin masih menjadi bagian dari masyarakat yang percaya bahwa perempuan adalah manusia kelas dunia. Kami mungkin masih menyalahkan pakaian dari korban kekerasan seksual.

Feminisme yang memberikan kami kesadaran bahwa salah satu persoalan yang harus segera diselesaikan adalah relasi kuasa yang timpang di masyarakat. Feminisme menjadi tempat dimana kami mengingat bahwa laki-laki adalah bagian dari masalah ketidakadilan terhadap perempuan. Namun feminisme juga yang memberikan jawaban bahwa laki-laki bisa menjadi bagian dari solusi atas persoalan ketidakadilan gender.

Feminisme kerap disalahpahami bahwa ia adalah paham yang ingin membuat perempuan berkuasa, atau anti laki-laki, bagaimana ALB melihat ini?

Jika ada sebuah paham dari gerakan yang ingin mengganggu status quo, maka sudah pasti akan muncul resistensi. Begitu juga dengan feminisme sebagai paham yang ingin melawan budaya patriarki akan mendapat perlawanan. Kami percaya bahwa banyak sekali orang takut dengan feminisme tanpa memahami lebih jauh tentang esensi dari paham tersebut. Mereka hanya mendengar tentang feminisme dari para patriakh yang ketakutan akan kehilangan kekuasaannya.

Jika seseorang mempelajarinya dengan baik, dia akan paham bahwa feminisme menekankan pada keadilan, bukan merebut kekuasaan atau membalikkan keadaan. Feminisme adalah sebuah gagasan yang terus hidup dan berkembang dari masa ke masa karena ketidakadilan terus terjadi terhadap perempuan dan juga kelompok marjinal lain seperti anak, masyarakat adat, pengungsi, LGBT, dan lainnya.

Gagasan tentang kepedulian dan membangun solidaritas antara mereka yang tertindas, baik laki-laki dan perempuan, membuat aparatus status quo menjadi terancam. Gelombang baru feminisme justru mengingatkan pentingnya agar laki-laki ikut terlibat, sekaligus mengingatkan ketidakadilan gender ini bukan hanya masalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tapi ada dimensi yang lebih luas.

Bagaimana sebenarnya laki-laki bisa berperan dalam isu kesetaraan gender?

Sebelum berpikir untuk berperan dalam isu kesetaraan gender, yang paling pertama harus dilakukan laki-laki adalah belajar tentang feminisme. Tidak perlu membaca puluhan atau ratusan buku tentang teori-teori feminis, tetapi siaplah untuk membuka otak anda dengan wawasan yang baru.

Selalu mulai dengan diri sendiri sebelum membuat perubahan di lingkungan anda. Bisa dimulai untuk belajar membangun komunikasi yang sehat dengan orang lain, terutama dengan pasangan anda. Mulai hindari penggunaan kata-kata yang seksis dan bias dalam komunikasi sehari-hari. Saat melihat tindak pelecehan atau kekerasan terjadi, anda sebaiknya mengambil sikap. Misalnya, jika ada kawan yang bercanda seksis, anda bisa menegurnya atau mengingatkannya.

Cari informasi tentang persoalan ketidakadilan gender dan pelajari dengan saksama. Jangan lupa untuk berkontribusi dalam bentuk apa pun, baik itu pikiran, waktu, bahkan donasi untuk mendukung gerakan ini.

Tidak perlu menjadi aktivis! Kamu bisa berkontribusi dengan kemampuan yang kamu miliki.

Anda pribadi pernah membuat aksi berjalan menggunakan high heel, apakah itu sekedar gimmick? Mengapa anda pikir itu penting?

Yang anda maksud mungkin aksi rok mini pada tahun 2013. Aksi tersebut berawal saat aku dan beberapa kawan membahas soal pernyataan dari beberapa pejabat publik terkait dengan meningkatnya kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta. Rata-rata dari pejabat publik tersebut menyalahkan perempuan karena pakaiannya, lebih spesifik lagi rok mini sebagai penyebabnya. Menurut mereka, perempuan yang memakai rok mini sengaja mengundang laki-laki untuk dilecehkan. Buat kami pernyataan tersebut sangat tidak sensitif dan menyalahkan korban.

Kami kemudian sepakat untuk membuat aksi tersebut untuk merespons pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa rok mini bukanlah penyebab terjadi kekerasan seksual tapi karena jenis kelaminnya. Dalam aksi tersebut, kami ingin menyatakan apakah saat laki-laki menggunakan rok mini akan mengalami pelecehan seperti perempuan. Buat kami, apa pun pakaian yang digunakan, seorang perempuan rentan menjadi korban kekerasan seksual.

Beberapa waktu lalu Indonesia ambil bagian dalam gerakan Global Women's March, tapi tak semua memandang ini dengan baik. Ada postingan yang menyebut bahwa aksi ini tak punya akar di Indonesia. Menurut anda?

Yang harus dipahami, hampir persoalan yang dihadapi oleh perempuan di seluruh dunia adalah kekerasan dan diskriminasi. Women's March yang juga berdekatan dengan International Womens Day merupakan momentum yang tepat untuk menunjukkan solidaritas perjuangan hak-hak perempuan yang masih terancam di pelbagai negara.

Jika di Amerika melihat kenaikan Donald Trump telah mengancam pemenuhan hak perempuan dan kelompok marjinal lain, maka di Indonesia masih terus berjuang untuk pemenuhan hak-hak perempuan. Yang paling mendesak misalnya, Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual sampai saat ini masih mandek dibahas di DPR sementara angka kekerasan seksual terus meningkat. Jadi kalau mau cari akar persoalannya: ketidakadilan yang dialami oleh perempuan di seluruh dunia.

Kami hadir dalam Women's March sebagai bentuk dukungan dan solidaritas untuk setiap upaya mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang masih alpa untuk dikerjakan.

Masih banyak laki-laki di Indonesia yang menganggap bahwa tak ada masalah serius dengan perempuan di Indonesia. Bahwa perempuan sudah setara, pernah jadi presiden, jadi kalau dianggap ada masalah sebenarnya mengada-ada saja. Menurut anda?

Anggapan seperti ini lahir karena banyak orang gagal melihat persoalan sebenarnya. Makanya sedari awal aku menekankan untuk belajar sedikitlah soal teori feminis sehingga bisa menganalisis persoalan kekerasan terhadap perempuan lebih jernih.

Kalau dilihat hanya dari perempuan sudah pernah jadi ini dan itu, sekarang coba lihat berapa banyak perwakilan perempuan yang ada di legislatif? Berapa banyak perempuan dan anak yang mengalami kekerasan seksual dan berapa banyak pelaku yang dibawa ke pengadilan? Atau, mengapa lebih banyak perempuan menjadi buruh migran jika peran tradisional mengatakan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama?

Daripada menghabiskan waktu nyinyir soal isu perempuan dan Pilkada Jakarta di media sosial, ada baiknya mereka membaca lebih referensi di webiste kami. Jika masih kurang, kami dengan senang hati akan berdiskusi dengan kamu di sebuah warung kopi yang nyaman.*


Aquarini Priyatna Prabasmoro


Aquarini Priyatna memaparkan bagaimana akar penyosokan (stereotiping) dan pelabelan muncul terhadap kaum perempuan. Baginya, hakikat dari feminisme adalah sebuah gerakan atau ideologi yang melihat bahwa ada ketidakadilan atau ketimpangan dalam struktur budaya sosial manusia.

Dalam hal ini, para feminis melihat ketimpangan itu sebagai ketidakadilan dari suatu sistem dan mengambil posisi sebagai penentang. Dengan kata lain, feminisme adalah posisi ideologis terhadap ketimpangan yang secara umum merugikan perempuan, tetapi pada prinsipnya merugikan laki-laki pula.

Apa asal pelabelan dan penyosokan terhadap perempuan ini?

Sebelum ada “stereotype”, kita bicara “tipe”, kita belajar memahami cara berelasi dengan memahami pengategorian/ pengelompokan orang dengan atribusi tertentu. Menurut Stuart Hall, ini adalah proses yang wajar. Stereotip, di lain pihak, adalah cara pengategorian orang berdasarkan “tipe” tertentu tetapi dengan cara yang simplistik dan seringkali berada pada level yang superfisial dan berlebihan. Stereotip dapat juga dikatakan sebagai bentuk pengelompokan orang dengan cara yang berpotensi menyuburkan saling kecurigaan, merendahkan dan negatif.

Stereotip tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang diusung masyarakatnya. Konsekuensi dari ideologi patriarki yang masih kuat di Indonesia adalah stereotip negatif terhadap perempuan.

Stereotip dalam ideologi patriarki mengelompokkan perempuan dalam kategori/tipe tertentu yang tentu mendukung ideologi tersebut. Dalam konteks ideologi itu, perempuan dikategorikan dalam pengelompokan yang biner dan simplistik, perempuan baik-baik vs perempuan jalang, ibu rumah tangga [yang baik] vs perempuan karier [yang melalaikan keluarga] dan seterusnya, dengan acuan dan standar yang tentu saja membangun konstruksi perempuan sebagai subordinat terhadap laki-laki.

Mengapa perempuan di Indonesia memiliki banyak stereotip negatif? Misal tato/merokok pasti bandel?

Secara lebih spesifik, stereotip mempengaruhi bukan saja peran perempuan di dalam keluarga (ranah privat/domestik) dan masyarakat (publik) melainkan juga, atau karena itu, pengategorisasian perempuan juga berimbas pada cara pandang terhadap tubuh perempuan.

Tubuh perempuan yang dikonstruksi sebagai “ibu” haruslah tubuh yang “bersih” dari segala sesuatu yang berpotensi membuatnya menjadi “kotor”, misalnya tato. Tubuh yang “kotor” kemudian dimaknai sebagai representasi dari “perempuan yang kotor”.

Karena itu muncul pandangan yang stereotipikal tentang perempuan merokok, dan bertato. Juga pada perempuan yang tampak seksi/seksual yang secara sosial-kultural dianggap sebagai bentuk tindakan yang "kotor" dan "mengotori".

Beberapa stereotip terhadap perempuan yang independen bisa sangat kejam. Aliansi Cinta Keluarga (AILA) misalnya menyebut feminisme mendorong perempuan untuk bercerai dan jadi lesbian.

Pandangan stereotipikal terhadap feminisme dan perempuan feminis yang dituduh sebagai penyebab perceraian dan lesbianisme adalah manifestasi ideologi yang patriarkal, jika bukan misoginis, yang cenderung memandang segala sesuatu yang berpotensi mengganggu tatanan sosial-kultural, yang tunduk pada kepentingan ideologi patriarki dengan penuh kecurigaan.

Dalam salah satu tulisan bersama Nori Andriyani ("Refleksi Pemikiran Feminis” dalam Perempuan Indonesia dalam Masyarakat yang tengah Berubah, 2000), kami pernah mengulas tentang sebuah buku yang mengaku mengulas feminisme dengan penuh kecurigaan terhadap feminisme meski para penulis tampak jelas bahkan tidak mengenal feminisme. Stereotipe terhadap feminisme/feminis adalah manifestasi dari ideologi patriarki yang kemudian mengonstruksi feminisme/feminis sebagai monster, atau mungkin, mengutip Barbara Creed, "monstrous feminine".

Ada beberapa stereotip yang mendomestifikasi perempuan, seperti perempuan harus bisa memasak, membersihkan rumah, punya anak, dan tidak melawan suami. Apa akar stereotip ini?

Stereotip seksis pada prinsipnya dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Pada perempuan lebih kepada pengategorian perannya di ranah privat dan posisi subordinatnya terhadap laki-laki. Pada laki-laki, stereotip lebih pada perannya di ranah publik dan posisi dominannya. Ini yang menjadi masalah. Jadi, ketika perempuan berhenti bekerja agar bisa menjadi ibu yang penuh merawat anaknya akan mendapat pujian sebagai “ibu yang baik”. Bapak yang memutuskan berhenti bekerja agar dapat menjaga anaknya di rumah sementara istrinya bekerja akan mendapat cemooh sebagai “bukan laki-laki sejati” atau “suami takut istri”.

Dalam Bahasa Sunda disebut laki-laki yang “nyalindung ka gelung” (bersembunyi di balik sanggul istri). Dalam kasus spesifik seperti ini, perempuan (yang istri) yang bekerja sementara suaminya di rumah masih harus menerima pelbagai cemoohan lain sebagai perempuan yang tidak tahu kodratnya.

Pemaknaan "kodrat" juga seringkali merupakan pemicu dari konstruksi stereotip yang sangat simplistik. Seperti perempuan kodratnya di dapur atau mengurus anak, pekerjaan yang sesungguhnya lebih merupakan keterampilan yang bisa dipelajari dan bukan diturunkan secara genetis sebagai "kodrat'

Bagaimana negara berperan dalam pembentukan stereotip tadi?

Negara tentu ikut berperan dalam membangun pengategorian perempuan ke dalam stereotip tertentu. Terutama di zaman Orde Baru, stereotip itu sangat mudah terbentuk karena kuatnya konstruksi perempuan di zaman itu yang mengerucutkan perempuan dalam perannya di ranah domestik dan dalam relasi familial dan personalnya.

Julia Suryakusuma menyebutnya sebagai “state ibuism” sebagaimana tercermin dalam Panca Dharma Wanita yang mengonstruksi perempuan ideal pada masa itu. Perempuan yang tidak memenuhi kategori ideal di masa itu sebagaimana disebutkan dalam Panca Dharma Wanita misalnya dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam kategori bukan perempuan ideal.

Dengan pengaturan itu, terbangun stereotip istri yang baik dan tidak baik, ibu yang baik dan tidak baik, dan seterusnya. (Isi lima Dharma Wanita yang dibangun pada masa Orde Baru: 1. Wanita sebagai pendamping yang setia; 2. Wanita sebagai pengelola rumah tangga; 3. Wanita sebagai pendidik dan penerus keturunan anak; 4. Wanita sebagai pencari nafkah tambahan; 5. Wanita sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang berguna.)

Siapa pihak yang paling banyak melakukan stereotip terhadap perempuan?

Siapa pun dapat berkontribusi terhadap terbangunnya stereotip terhadap perempuan karena stereotip adalah bagian dari konstruksi sosial dan budaya: laki-laki maupun perempuan, konteks publik maupun privat, terdidik ataupun tidak. Dalam logika yang sama, jika semua orang dapat berkontribusi terhadap terbangunnya stereotip tersebut, semua orang juga dapat berkontribusi terhadap perombakan stereotip tersebut.

Stereotip dibangun dalam praktik kehidupan sehari-hari, lelucon seksis adalah bagian dari manifestasi stereotip seksis yang ada di dalam masyarakat, dan pendukungnya bisa laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana peranan budaya pop (majalah, media sosial, iklan) dalam membentuk stereotip, baik untuk laki-laki maupun perempuan?

Media massa sangat berpengaruh terhadap stereotip baik laki-laki dan perempuan. Ia membangun bukan saja apa yang dikategorikan sebagai “perempuan” dan “laki-laki” dalam berbagai bentuk stereotip. Tetapi, seperti yang sudah saya katakan, semua berkontribusi terhadap terbentuknya stereotip, maka media juga berpengaruh untuk melakukan perombakan dan resistensi terhadap stereotip tersebut.

Baca juga artikel terkait HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Arman Dhani & Patresia Kirnandita
Penulis: Arman Dhani
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight